Menikmati Kartun-Kartun Malaysia | #30hbc2310

Anak-anak gen z dan gen alfa itu diduga bakal punya kemampuan tiga bahasa sejak masa kecilnya: Indonesia, Inggris dan Malaysia. Soalnya, kartun-kartun Malaysia mendominasi tontonan anak di YouTube. Anak gue salah satunya.

Nah, tontonan anak gue tuh beragam banget. Sekarang ini, dia lagi suka kartun-kartun Malaysia. Dia suka nonton Boboiboy, Omar dan Hanna, terus sekarang lagi hobi banget nonton Upin dan Ipin. 

Karena algoritma YouTube, anak gue juga direkomendasikan kartun-kartun Indonesia yang serupa. Kami pun jadi nonton Adit Sopo Jarwo, dan Nussa. Mau gak mau, gue jadi membandingkan. 

Kesimpulan gue, kartun Malaysia itu jauh lebih seru dibanding kartun Indonesia. Ada beberapa alasan: 

Kartun Sebagai Hiburan, Edukasi Bonusnya

Kartun-kartun Malaysia itu seru banget cerita dan visual effect-nya. Plot-nya sering kali gak ketebak. Contohnya, episode Upin dan Ipin yang Ehsan pindah.

Suatu hari, Ehsan mengumumkan kalau dirinya mau pindah rumah. Teman-teman di kelasnya pun kaget dan sedih. Di hari-hari berikutnya, Upin dan Ipin cs. sibuk mempersiapkan kenangan buat Ehsan. Ada yang bikin album foto kenangan, ada juga yang nyiapin lagu dan pantun perpisahan.

Apa yang terjadi di hari pindahan? Biar lebih seru, mendingan tonton langsung aja nih:

Coba juga tonton Upin & Ipin episode Kain Merah Ipin. Sedih bener! Ceritanya, kain merah kesayangan Ipin ilang ketiup angin hujan. Upin & Ipin pontang-panting mencarinya. Walau terlihat sepele, ternyata kain itu punya makna dalem buat mereka. Kain merah itu adalah bikinin mendiang ibunya, gak lama sebelum dia meninggal. Dari kecil, Ipin selalu pakai kain merah itu di segala aktivitas. Memakai kain itu sama dengan merasakan belaian mendiang ibunya. Coba nih tonton cuplikannya:

Yang gue suka lagi dari Upin dan Ipin adalah ceritanya itu ngegambarin dunia anak yang apa adanya. Ada beberapa kenakalan atau keisengan. Banyak juga kesalahan yang dilakuin anak. Karena emang begitulah anak-anak.

Efek visual yang liar juga sering ditambahin buat dramatisir kehebohan dunia anak.

Untuk kategori kartun islami, gue dan anak suka banget sama Omar dan Hanna. Lewat kisah-kisah keluarga yang fun dan menyentuh, Omar dan Hanna ngajarin kita buat jadi orang yang baik serta inklusif.

Film Omar dan Hanna juga sering nampilin lagu-lagu yang enak dan gampang diinget.

Gue paling suka sama cerita tentang Adam, salah satu teman Omar dan Hanna yang disabilitas. Adam gak punya tangan. Tapi, Adam memposisikan diri sebagaimana anak biasa. Dia bermain ini dan itu tanpa harus dibantu. Omar dan Hanna sempet keliatan sungkan, tapi akhirnya mereka berteman tanpa batasan.

Gue suka banget cara kartun Malaysia menyelipkan pelajaran di ceritanya yang menghibur.

Sementara kartun-kartun Indonesia kayak Adit, Sopo, Jarwo; Keluarga Somad, dan Nussa, memposisikan kartun sebagai sarana edukasi dan dakwah. Jadi, nontonnya berasa lagi di sebelah guru.

Pesan moral dan edukasi di kartun-kartun Indonesia kerap ditampilin secara eksplisit dan normatif. Mereka juga selalu menghadirkan sosok orang dewasa sebagai tokoh yang paling benar. Tokoh yang siap menggurui anak-anak kecil di cerita. Pun, mereka kerap menggunakan bahasa yang normatif.

Misalnya, di Adit, Sopo, Jarwo, ada tokoh Pak Ustad yang diperankan oleh Deddy Mizwar. Di film Nussa ada sosok Umma yang siap negur Nussa dan Rara.

Gue menduga, para kreator kartun Indonesia masih berkarya untuk ngejawab keresahan orangtua konservatif, “Nonton kartun mulu. Belajar sana!” atau “Kartun itu pembodohan.” Jadi, mereka bikin kartun yang sarat dengan edukasi. 

Hasilnya, dunia anak-anak dalam kartun Indonesia ini dibuat dari perspektif dunia ideal menurut orangtua.

Sementara kartun-kartun Malaysia, fokus pada hiburan. Bukan berarti gak ada edukasinya. Cuma aja mereka ngebuatnya nge-blend sama cerita. Mereka menggugah emosi kita dulu. Pesan moralnya alus aja. Tapi setelah nonton, pelajarannya membekas.

Industri Animasi yang Matang

Gara-gara kepo, gue jadi nyari tau lebih lanjut kenapa animasi Malaysia bisa bagus-bagus bener. Ternyata, mereka menggodok industri animasi dengan sepenuh hati dan tenaga.

Kalo dilihat lini masanya, titik berangkat animasi Indonesia dan Malaysia itu gak jauh beda. Tapi mereka lebih jor-joran. Coba aja nih liat animasi di masa-masa awal kebangkitan industrinya, udah bagus bener:

Pemerintah Malaysia juga naro kepercayaan yang gede sama pelaku industri animasi. Malaysia punya badan khusus buat mengembangkan animasi. Terus, pemerintah juga nyiapin dukungan modal dan hadiah buat animator yang bisa bikin karya mendunia. Angkanya gede, cing!

Animasi Indonesia Juga Keren, Kok!

Dua animasi Indonesia yang gue bahas di atas hanyalah judul-judul yang lagi populer dan sering muncul di Tv serta rekomendasi YouTube. Gue paham, di luar sana ada banyak film animasi Indoensia yang pastinya keren luar dalem.

Film panjang Nussa gak bisa kita lewatin. Selain itu, ada juga Kiko yang cerita tentang kehidupan di bawah laut.

Gue juga baru dapet kabar soal film animasi yang baru dibikin sama Visinema, yaitu Domikado. Seru banget, pun skala produksinya gak main-main. Coba tonton deh:

Pokoknya, mari kita ajak anak kita buat mengenal dunia lewat cerita. Cerita yang seru bikin kita bisa memandang realita jadi seru juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: