Kutipan Berkesan Dari The Catcher in The Rye – J.D. Salinger

Saya sudah lama tahu novel ini. Pertama kali saat kuliah, salah satu teman baik saya, Andra, punya satu di kamarnya. Ia pernah bercerita bahwa ini adalah novel tentang kemarahan.

Baru pada 2015 saya membelinya: versi bahasa Inggris. Nemu di sebuah obral buku. Dijual cuma Rp 45 ribu. Saya coba baca, duh, bahasa Inggris saya kurang mumpuni ternyata. Jadi, saat dengar kabar penerbit Banana cetak ulang versi bahasa Inggrisnya ya saya niatkan beli.

Saya selalu suka cerita-cerita tentang cowok SMA beranjak dewasa. Nah, cerita Holden ini menawarkan tema baru. Hidup Holdeh penuh masalah dan karena itu ia senang mempermasalahkan banyak hal. Ia nggak dikeluarkan dari sekolah karena nilainya kurang baik–kecuali bahasa Inggris. Guru yang berpengaruh baginya pun cuma bisa menolongnya dengan nasihat alih-alih kenaikan kelas. Teman sekamarnya kencan dengan kasih tak sampainya.

Usai berkelahi Stradler, teman sekamarnya, Holden memutuskan ciao menuju New York membawa ransel, memakai topi berburu, mengemut rokok, mengantongi uang tabungan dan menyeret setumpuk kegelisahan: menuju kereta, hostel mesum, gedung pertunjukan, taman kota, rumahnya sendiri, dan kebun binatang.

Ia mencari cara untuk bisa berbicara dengan orang. Namun, orang-orang yang ia temuinya, baik sengaja maupun nggak, di kereta, hostel, atau pun gedung pertunjukan nggak menunjukkan gejala bahwa mereka benar-benar peduli dan mau menemani Holden. Padahal yang Holden butuhkan cuma satu: penerimaan.

Saya juga selalu suka dengan novel-novel yang mengobok-obok dialog interior tokoh utamanya. Holden adalah pengoceh yang lebih dari baik. Ia selalu meladeni segala pikiran yang melintas di kepalanya. Saya suka bagaimana Holden menunjukkan kebenciannya terhadap orang-orang yang munafik, orang-orang yang terlalu institusional, sistem pendidikan, maskulinitas teman-temannya dan kadang ia juga membenci dirinya sendiri.

“Menjadi seorang pengecut memang bukan hal yang menyenangkan,” tukasnya.

Selama membaca buku ini, seperti juga buku-buku lainnya, saya menandai tiap kalimat yang cespleng. Karena saya punya versi bahasa Inggrisnya, maka sesekali saya membacanya secara bilingual. Atas nama iseng.

Selain imbuhan “dan semuanya”, “atau apalah”, dan “Maksudku begini” ada banyak potongan kalimat yang begitu melekat. Beberapa di antaranya adalah:

  • Halaman 26:

Menurutku, yang namanya buku dahsyat adalah, yang begitu selesai dibaca, kita lantas berandai-andai bahwa si penulis cerita tersebut adalah teman baik kita sehingga kita bisa saja langsung telepon kapan pun kita baik. Tidak banyak buku seperti itu.”

  • Halaman 106:

Aku cukup dekat dengannya. Maksudku bukan secara fisik atau apalah–bukan begitu–tetapi kamu selalu jalan bareng waktu itu. Kita tidak selalu harus mengarah ke yang begitu-begituan untuk bisa kenal dengan seorang perempuan.

  • Halaman 110:

Untuk gadis-gadis tertentu, kita memang kadang-kadang tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

  • Halaman 122

Aku sendiri selalu mengucapkan ‘senang berkenalan denganmu’ setiap kali berkenalan dengan orang yang sebetulnya sama sekalai tidak aku senangi. Kalau ingin terus selamat dalam hidup ini, kita harus selalu mengulang-ulang ucapan palsu seperti ini.

  • Halaman 124:

Menjadi seorang pengecut memang bukan hal yang menyenangkan. Mungkin sebetulnya aku bukan pengecut betulan. Ah, entahlah, aku tidak tahu. Aku pikir barangkali aku ini cuma setengah pengecut. Setengahnya lagi adalah tidak pedulian.

  • Halaman 138:

Di tempat tidur, aku tiba-tiba ingin berdoa atau seperti itulah. Tetapi aku tidak bisa. Aku selalu saja tidak bisa berdoa justru pada saat aku sedang ingin. Pertama, aku memang agak ateis juga. Aku menyukai Yesus dan sebagainya, tetapi aku tidak terlalu ambil pusing dengan semua yang ada dalam Alkitab.”

  • Halaman 146:

Sebetulnya yang benar-benar ingin aku lakukan pada saat itu adalah bunuh diri. Aku merasa kepingin melocat dari jendela. Seandainya aku bisa yakin bahwa aka nada orang yang langsung menutupi bangkaiku begiut aku menghajar tanah nanti, mungkin aku akan lakukan itu. Aku cuma tidak ingin ada rombongan sirkus berisi para ceucunguk tengik yang melongok-longok melihatku dalam kondisi menjijikan seperti itu .

  • Halaman 147:

“Tentu. Oke juga.”

Oke juga. Oke juga adalah kata yang aku benci. Palsu.

  • Halaman 158:

Uang sialan. Yang memang tak pernah bisa bikin kita merasa senang.

  • Halaman 184:

Sekali-sekali kamu harus mampir ke sekolah khusus anak laki-laki. Coba saja kapan-kapan, “ kataku. “sekolah seperi itu selalu saja penuh sesak dengan pemuda-pemuda yang serba munafik. Satu-satunya yang harus kami pelajari adalah belajar keras agar kami bisa tahu bagaimana caranya bisa jadi cukup cerdas. Cukup cerdas agar bisa beli Cadillac sialan suatu hari nanti. Kami harus berpura-pura dengan sekuat tenaga menipu diri dan meyakin-yakinkan betul pada diri kami sendiri bahwa sialan betul kalau tim sepak bola sekolah kami sampai kalah. Dan yang kami harus lakukan tiap hari adalah sibuk mengoceh soal gadis yang juga tentang minuman keras dan seks seharian penuh. Lalu semua orang saling membela satu sama lain yang tergabun dalam kelompok mereka masing-masing.

  • Halaman 207:

Orang-orang cerdas seperti dia hanya bisa bercakapa-cakap secara intelektual apabila mereka yang pegang kendali. Mereka selalu menyuruh kami tutup mulut begitu mereka menutup mulut, dan masuk kamar saat mereka juga kembali ke kamar mereka.”

  • Halaman 220:

Yang kita harus lakukan adalah mengoceh tentang sesuatu yang tak satu orang pun mengerti dan mereka lantas melakukan apa pun yang kita minta.” –

  • Halaman 262:

Mereka yang belum dewasa adalah yang bersedia mati demi memperjuangkan satu hal, sementara mereka yang dewasa justru bersedia hidup dengan rendah hati memperjuangkan hal itu.”

  • Halaman 264:

Mereka yang berpendidikan dan terpelajar, sekaligus cerdas dan kreatif –yang sayangnya kombinasi semacam itu agak jarang ada—cenderung meninggalkan catatan yang amat sangat berharga dibandingkan dengan mereka yang sekedar cerdas dan kreatif. Orang-orang seperti ini cenderung mengekpresikan dirinya dengan lebih jelas, dan mereka biasanya punya gairah untuk terus menelusuri pemikiran mereka sampai tuntas. Dan—yang lebih penting lagi—sembian dari sepuluh orang seperi itu jauh lebih rendah hati ketimbang para pemikir yang tidak terpelejar. Kamu mengerti maksudku?”