Masa Depan Cerah Estetika Kamera Lama

Di tangan para anak muda, estetika dari kamera lama dicari. Di kala harga film makin tinggi, lab-lab indie berdiri. Dari yang pehobi sampai profesinoal main analog lagi. Karakter warnanya yang khas dianggap sebagai eye candy.

Sepulang sekolah, masih berseragam, Gemilang Rachmad mendatangi Renaldy Fernando Kusuma atau Enad, pemilik Jelly Playground,penyedia segala kebutuhan pehobi fotografi analog. Saat itu, Gemilang sedang kehabisan rol film.

Di masa SMP hingga awal SMA, cowok dari SMA Al Azhar 3 Jakarta ini suka banget dengan fotografi, selain bersepeda. Ia rutin meramaikan Instagram-nya dengan foto-foto suasana perkotaan, aktivitas bersepeda, dan momen travelling-nya. Selain jago mengambil angle, Gemilang lihai memoles fotonya dengan filter-filter dengan tonal asik. Itu adalah ketika Gemilang masih mengandalkan smartphone dan DLSR Nikon D7000-nya.

Hobi motretnya malah makin menjadi-jadi ketika ia jauh dari kamera digital dan akrab sama kamera analog. Gemilang jadi pelanggan Jelly Playground bukan hanya untuk beli rol film, tetapi juga merchandise bertema analog dan pernak-pernik lainnya.

“Saat SMA, gue bisa seminggu dua kali, pergi hunting foto pake analog,” cerita Gemilang saat HAI temui di acara bazaar kamera analog Low Light Bazaar.

Continue reading Masa Depan Cerah Estetika Kamera Lama

Sekolah Tani di Kota Maritim

Di kota kecil pulau Buton Sulawesi Tenggara yang terkenal potensi lautnya, ada 94 siswa yang giat belajar demi mengembangkan hasil tanah. Cerita perjuangan mereka adalah lahan segar tempat memanen inspirasi.

“Orang sini, tuh, kalo nggak makan ikan aneh rasanya,” cerita Hendra, pegawai muda dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga kota Baubau sewaktu makan siang. Saya cuma angguk-angguk kepala. Di depan saya, laut membiru bikin mata lega dan adem pas ngelihatnya. Kami sudah siap menyantap ikan laut di sebuah rumah makan, yang letaknya dekat Pelabuhan Murhum, titik ekonomi pulau di bibir samudera ini.

Hari berganti. Kejadiannya agak mirip dengan cerita tadi. Saya lagi bareng bersama Muhammad Hamzah. Biar gampang panggil aja dia Anca. Dia bersekolah di SMK Negeri 4 Baubau dan tercatat sebagai salah satu penghuni kelas XI. Sepulang Anca sekolah, kami berjalan kaki. Tujuannya, cari tempat makan siang.

“Tiada hari tanpa ikan di sini,” katanya sambil menyuap sop sodara. “Di rumah pun, tiap hari aku makan ikan.” Mumpung dapat traktiran, Anca pilih sop yang menyajikan daging. Ikan tak jadi pilihannya. Saya? “So pasti ikang.” Gimana mau nolak, aroma ikan bakar di deretan meja sebelah amat menggoda selera makan saya.

Ikan dan laut emang sudah jadi keseharian warga Baubau. Selamat datang di kota kecil yang ada di pinggir Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Sejak masa kerajaan Buton (Wolio) Berjaya, laut sudah pegang peran penting. Kota ini emang nyaris dikelilingi laut. Pulau kecil di sekitarnya jadi pagar alami buat menahan gelombang samudra. Sekarang, ekonomi tempat ini makin maju, gegara pesawat baling-baling bolak-balik angkut penumpang dan barang.

Continue reading Sekolah Tani di Kota Maritim

Guru Curang Buka Les Sepulang Sekolah: Siapa Ikut, Nilai Terangkut

Ada sejumlah guru yang paham betul pelajarannya sulit dipahami. Saat di kelas tak cukup efektif, bimbel di luar sekolah pun dibuka. Pengajaran lebih asik. Siapa ikut, nilai bisa terangkut.

Pak Rinto, nama samaran, nggak mengikuti acara lomba-lomba peringatan 17 Agustus sampai selesai Selasa itu. Ajakan adu catur dari seorang murid yang penasaran betul ingin bisa mengalahkannya pun ia tolak. Begitu juga dengan seporsi nasi tumpeng yang disajikan rapih oleh muridnya dari kelas XI, nggak ia gubris barang sesuap. Padahal matanya terlihat lapar “Ini saya bungkus saja, deh. Saya harus ke rumah. Sudah mau pukul empat. Takut sudah ada anak-anak yang menunggu,” katanya sambil melihat Apple Watch-nya.

Saat itu jam menunjukkan pukul 15.40. Untuk bisa sampai ke rumah dari sekolah, Pak Rinto nggak butuh waktu lama memang. Selain hanya berjarak sekitar 3 km, komplek tempat pak Rinto tinggal bisa dituju tanpa bertemu macet. Sekali naik mikrolet dari depan sekolah, pak Rinto sudah bisa turun di depan kompleksnya dalam waktu 15 menit. Bahkan, jika sedang menggunakan motor Astrea-nya, dalam 15 menit sudah ia bisa sampai hingga ke rumah.

Namun, hanya anak perempuannya saja yang pak Rinto lihat sesampainya di sana. Sedang menyapu halaman sambil mendengar lagu lewat headset.

“Belum ada anak-anak yang datang dari tadi?” tanya pak Rinto pada anaknya.

“Belum keliatan, tuh.”

Anak-anak yang dimaksud pak Rinto adalah anak muridnya yang seharusnya rutin datang tiap sore untuk mengikuti les fisika. Tapi, hingga pukul 16.20, belum terlihat seorang pun yang datang.

“Kayaknya gara-gara di sekolah lagi ada 17-an, jadi mood mereka ada di sana. Nggak ada les hari ini berarti. Ya senggaknya saya sudah datang dan siap mengajar,” kata Pak Rinto santai. Ia seperti sudah apal betul kelakuan murid-muridnya. Bisa saja pak Rinto menanyakan satu persatu para peserta les lewat hapenya, tapi ia memilih untuk memaklumi, sebagaimana biasanya.

Nggak cuma pada Selasa saja les fisika di rumahnya digelar, melainkan tiap hari. Pak Rinto membagi-bagi jadwalnya: Selasa untuk kelas X, Kamis untuk kelas XI.  Dia bukannya nggak buka kelas untuk kelas XII, cuma saja di tingkat akhir tersebut, murid-muridnya lebih memilih ikut bimbingan belajar di tempat lain, yang lebih intensif, untuk persiapan ujian nasional dan persiapan seleksi universitas.

Berbeda dengan kemarin lusanya, Kamis sore itu, saat saya berkunjung lagi, sudah ada dua anak yang nangkring di depan pagar rumah pak Rinto, yaitu Oki dan Maul, nama samaran. Sementara Oki sudah pulang ke rumah dulu dan berganti pakaian, bahkan sudah mandi lagi, Maul datang masih dengan seragam sekolahnya: atasan batik biru dan celana putih.

“Eh, nyalain tethering hape lo dong,” pinta Maul masih di motornya. Ia seperti ragu untuk langsung parkir.

“Mau ngapain lu?”

“Mau nge-LINE si Alifa, nanyain yang lain pada dateng atau nggak.”

Les dimulai sepuluh menit kemudian, setelah pak Rinto mengeluarkan mobilnya dari garasi lalu mengatur meja dan kursi plastik yang sebelumnya ditumpuk di pojokan. AC dinyalakan, proyektor dan laptop ia siapkan, garasi yang cukup memuat satu Kijangnya itu berubah menjadi ruang kelas.

Semestinya ada tujuh anak yang datang sore itu, nggak cuma Oki, Maul, dan Kevin yang datang begitu kelas dimulai. Namun, kayaknya empat sisanya berhalangan, Alifa yang diduga akan hadir pun nggak keliatan sampai kelas berakhir.

“si Alifa udah lupa kali sama les ini,” celetuk pak Rinto di tengah-tengah materi.

Di sekolah, Pak Rinto selalu terlihat gagah dengan seragam dinasnya. Namun di rumah, pria berambut putih ini terlihat sangat santai. Ia hanya memakai kaos dan celana pendek.

Sore itu kelas membahas soal-soal yang sudah ditugaskan. Materinya tentang kinematika dengan analisa vektor. Nggak kurang dari tiga soal diurai cara penyelesaiannya oleh pak Rinto.

Ngomong-ngomong soal tugas, rupanya pak Rinto adalah tipe guru yang sangat mengandalkan latihan mengerjakan tugas demi membuat murid-muridnya terbiasa dengan fisika. Saban satu bab bahasan berakhir, ia menghadiahkan murid-muridnya dengan tugas. “Bisa 30 sampai 60 nomor,” cerita Oki. Sumbernya, bisa dari buku paket atau soal bikinannya sendiri yang disebar ke murid-murid secara online.

Tugas tersebut ditulis di buku khusus. Dan mesti dikumpul seminggu setelah diberikan. Mejanya di ruang guru sekolah selalu penuh dengan tumpukan buku tugas murid.

Beres menghabiskan waktu sejam untuk membahas soal-soal tugas tersebut, Pak Rinto menampilkan file soal-soal lainnya yang belum pernah didapat Oki, Kevin, maupun Maul.

Setelah ketiga muridnya itu mencoba menjawab soal nomor 10 Pak Rinto bilang kalau itu merupakan gambaran soal mid test nanti.

“Wah, flashdisk mana, flashdisk. Buruan di-copy filenya,” kata Kevin  setengah serius setengah becanda kepada Oki saat Pak Rinto sedang meninggalkan ruangan.  Kevin punya dugaan kuat kalau soal yang dibahas tadi akan jadi soal mid-testnya kemudian yang hanya akan diubah angka-angkanya.  Lumayan, buat bahan latihan dan bisa disebar ke teman-teman lain, pikirnya.

Jika bagi murid-murid jurusan IPA di sekolah tugas pak Rinto tadi terasa seperti mendaki bukit, maka ujian darinya adalah menjajal arung jeram. Jauh lebih singkat tapi supermenegangkan.  Tiap murid disuruh maju ke depan lalu mengambil kocokan dan mengerjakan soal sesuai nomor yang didapat, di depan kelas, ditonton teman-teman lainnya.

Pak Rinto sudah mengajar Fisika sejak tahun 1982. Di masa awal-awalnya menjadi guru, lulusan jurusan Fisika Murni ini mengajar di banyak sekolah sekaligus. “Dulu upah guru tuh kecil sekali. Sekarang sudah lebih baik, pemerintah lebih peduli dengan kesejahteraan guru. Ya, walaupun masih dalam tahap cukup, sih. Tapi kalau punya anak yang udah kuliah di luar kota itu masih belum cukup,” ceritanya.

Hingga akhirnya ia diangkat menjadi PNS dan mengajar tetap di sekolah negeri tempatnya kerja sekarang ini.

Demi membantu murid-muridnya yang butuh tambahan pendampingan belajar Fisika ia buka kelas tambahan di rumahnya itu. Sudah sejak 15 tahun lalu. Bahkan, dulu tak hanya fisika, tetapi juga Kimia dan Matematika yang diampu dua rekannya. Ada kalanya juga, murid dari sekolah lain pun daftar di sini

“Tapi, kan, sekarang tempat bimbel udah makin banyak,” ujarnya. “Sekarang ini masih sepi, tujuh orang. Nanti deh kalau udah musim ulangan, mulai pada daftar.”

Shila, nama samaran, salah satu muridnya yang kini sudah kelas XII ngaku kalau cara mengajar pak Rinto di rumahnya dan di sekolah berbeda. “Di tempat les dia lebih sabar. (Dia mengajar) sampai kami benar-benar mengerti. Gue pun lebih ngerti sejak belajar di sana,” kata cewek berhijab ini.

Cerita tentang guru sekolah negeri yang menawarkan les khusus di luar jam sekolah nggak cuma ada di satu-dua tempat. Menurut survei yang HAI lakukan, kebanyakan guru tersebut adalah pengajar mata pelajaran eksak. Seperti Fisika, Matematika, dan Kimia, selain bahasa Inggris yang ada di beberapa sekolah.

Alfa, teman kita dari sebuah SMA Negeri di Yogyakarta juga cerita bahwa di sekolahnya ada tuh guru Matematika yang buka les juga. Sudah sejak awal masuk tahun ajaran baru, Bu Ani, nama samaran, mempromosikan lesnya itu.

Ifo, teman seangkatan Alfa adalah salah satu pesertanya. Di kelas X lalu, siswi kelas XI ini merasa sangat terbantu dengan pendalaman materi lewat les itu.

“Les itu membantu murid-murid yang masih belum paham seperti aku dengan materi yang telah disampaikan selama di kelas. Toh, kalau  les jadi lebih fokus belajarnya dan bisa tanya-tanya sepuasnya, kalau di kelas kan terbatas,” ungkap cewek berhijab  ini santai.

Les tersebut dilakukan di lantai atas rumah sang guru. Ongkosnya Rp 30.000 per murid tiap kali pertemuan.

“Sistem lesnya, tuh, seminggu sekali. Dalam satu kelompok ada enam anak. Normalnya selama empat kali pertemuan doang, tapi fleksibel bisa nambah atau private gitu kalau masih kurang paham. Waktunya menyesuaikan. Bisa ganti hari sesuai kesepakatan,” cerita Ifo yang suka nyemil snack atau makan mie instan bareng sambil les.

Di sana, mereka mengulang materi yang sudah diulas di sekolah namun belum dipahami betul. Pembahasan soal tentu jadi lebih intim dan fokus. Peserta bisa bertanya sepuasnya.

Gara-gara les itu, Ifo mengaku kalau nilai Matematikanya terkatrol drastis. Sebelumnya, hanya berkisar di 30-50. Setelah les, nilainya nggak kurang dari 80.

“Ibunya jadi hapal sama anak-anak yang les, terus tiap selesai ulangan bisa langsung tanya nilai dan membahas soalnya langsung,” repet Ifo yang sering juga dapet update kisi-kisi soal ulangan dari les itu.

Nggak cuma di rumah, les tambahan dari guru sekolah juga ada yang digelar di ruang kelas sekolah. Seperti yang terjadi di sebuah sekolah negeri bilangan Ciledug, Tangerang.

Guru Fisika kelas XI di sana mengajak siswanya untuk membentuk sesuatu yang mereka sebut kelompok belajar sepulang sekolah. Nggak gratis, tiap peserta dikenakan iuran Rp 100.000 tiap bulan.

Sang guru yang tinggal jauh dari keluarganya di Cirebon sana itu buka les tiap Senin, Selasa dan Kamis, pukul 15.00 hingga menjelang magrib.

“Cara ngajarnya di kelas dan di les sebenarnya sama. Bedanya, di les dia lebih banyak bahas soal, buat latihan,” kata Alin salah satu murid yang mengikuti lesnya itu.

Tio, nama samaran, kakak kelas Alin yang sudah merasakan manfaat les tersebut cerita bahwa semenjak ikut les nilai Fisikanya bisa mencapai 85, naik 10 poin dari sebelumnya.

“Kalau anak les, tiap ulangan disuruhnya jawab pakai pensil aja. Nanti kalau ada yang salah, dia hapus dan dia ganti jawabannya. Gue pernah, tuh, pas kertas ulangannya dibalikkin, ada tulisan yang diganti. Gue tau banget itu bukan tulisan gue,” kata cewek yang walaupun sekarang sudah lulus SMA ini namun belum berkuliah.

Tak Mempan Sanksi

Seperti yang sudah kita duga, kehadiran guru yang buka bimbel di luar sekolah pasti akan menuai kecemburuan sekaligus kecurigaan.

Kegeraman terhadap gurunya itu makin menjadi-jadi pada Alfa. Gimana nggak, dia tahu ada temannya yang dipaksa untuk ikut lesnya.

“Pernah dulu ada temen yang nanya tentang matematika selesai jam pelajaran, eh, malah disuruh  dateng ke rumah beliau alias ikutan les, kan aneh banget?,” bocor siswa yang kini duduk di kelas XII IPA. Selain itu, guru tersebut juga jarang memberikan remedial dan diduga  Alfa suka asal dalam memberi nilai.

“Nilai UKK matematikaku aja cuma 75, padahal  aku peringkat tiga pararel rangkingnya dan ngerasa bisa ngerjain soalnya waktu itu,” curhat Alfa.

Nggak cuma para siswa yang jengah dengan ketidakadilan guru yang buka bimbel, pihak sekolah pun sebenarnya merasakan hal yang sama.

Bu Ani, nama samaran, guru di sekolah Alfa tahu betul gimana Bu Alan sudah ditegur oleh petinggi sekolah dan kurang disukai guru-guru lain karena kelakuannya itu.

“Saya pribadi dan beberapa guru amat sangat tidak setuju jika ada guru yang buka les di Sekolah, karena itu bertentangan dengan undang-undang dan peraturan pemerintah,” ungkap Bu Ani.

Bu Ani juga menyanyangkan sikap kepala sekolah yang terlalu memaklumi kelakuan bu Alan itu. “Ia (Bu Alan) sudah sering ditegur, tapi nggak dihiraukan. Selain itu, atasan di sini kurang tegas pula dalam memberi sanksi. Dulu pernah ditegus, tapi cuma ditegur saja tanpa ada kelanjutan. Alasan dia (pak Kepala Sekolah), sih, alasan kemanusiaan,” paparnya.

Jika menurut pada aturan, bu Ani berpendapat, bahwa aksi bu Alan itu bisa diganjar dengan sanksi potongan jam mengajar, sehingga nggak memenuhi syarat sertifikasi.

Isu Kesejahteraan

St Kartono, pengamat pendidikan, juga sepakat bahwa guru yang membuka bimbel berbayar untuk murid sekolahnya itu nggak adil. Menurutnya, guru mesti menuntaskan pengajarannya di kelas di sekolah.

“Guru (sekolah) itu bukan guru silat yang ketika punya sepuluh jurus tapi yang diajarkan kepada sekolahnya cuma sembilan. Jurus satunya disimpan hanya untuk yang mau bayar les ke dia. Seharusnya guru memberikan pelayanan yang utuh di sekolah. Kalau guru membuka bimbel untuk muridnya sendiri menurut saya itu kurang elok,” kata pria yang sering menulis kolom opini tentang pendidikan di surat kabar nasional ini.

St Kartono juga tak setuju jika alasan guru membuka bimbel itu adalah karena demi menutupi kebutuhannya yang nggak bisa dipenuhi dari gaji guru negeri. Katanya, “Saya tidak setuju kalau ketidaksejahteraan dipakai untuk pembelaan perilaku yang tidak etis. Peningkatan mutu dan guru yang etis itu nggak berkait langsung dengan penghasilan.”

 Dilarang Undang-undang dan Kode Etik

Dalam Undang-undang no 14 tahun 2005 pasal  1 guru diharapkan bisa menjalani profesinya dengan profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik

Lalu di pasal 20, kewajiban guru diatur. Guru yang membuka bimbel di luar sekolah melanggar poin c pasal tersebut yang menyebutkan bahwa guru memiliki kewajiban untuk:

“Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;”

 Sementara itu kode etik guru yang dirancang oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) melalui kongresnya pada 2013, guru disebutkan wajib menjaga hubungan profesional dengan peserta didik.

Pada PGRI XXI NO. VI/KONGRES/XXI/PGRI/2013 pasal 2 nomor 7, disebutkan guru wajib:

 “Menjaga hubungan profesional dengan peserta didik dan tidak memanfaatkan untuk keutungnagn pribadi dan /atau kelompok dan tidak mealnggar norma yang berlaku”

See? Kesimpulannya, kalau di sekolah lo ada guru yang buka les di luar sekolah, maka jangan ragu untuk adukan ke kepala sekolah dan pemerintah, bro! Tuntut dia untuk memberikan pengajaran maksimal dan adil kepada seluruh siswa. Ini adalah masalah sekolah yang mesti kita beresi bersama.

Penulis: Rizki Ramadan

Reporter: Rizki Ramadan, Rasyid Sidiq, Ghufron Zein.

Ilustrator: Rahman Subagio

Dipublis di: Majalah HAI no. 35 2016 (Cek PDF)

 

 

 

 

 

Jejak Sastrawan di Majalah HAI

Ini adalah majalah HAI 2 Januari 1978. Ada cerpen karangan Leila Chudori di situ, ceritanya tentang Peter, siswa SMA yang mengigau saat tidur di kelas. Gurunya yang jadi sasaran, ia dikatai Peter dalam igauannya itu. Leila yang kelahiran 1962, saat itu berusia 16 tahun.

12 tahun setelahnya, di HAI edisi 11 tahun 1990, saya nemu nama Eka Kurniawan di rubrik surat pembaca. “EKA Kurniawan, kelas III A, SMPN 1 Pangandaran” begitu jelasnya. Dugaan saya, itu adalah Eka Kurniawan yang novelis itu. Doi kan emang asal Tasikmalaya.

Sembilan tahun kemudian, di HAI edisi 44 tahun 1999 ada cerpen Teman Kencan karangan Eka. Menurut buku kumcer Corat-coret di Toilet, sih, senggaknya ada tiga cerpen Eka yang pernah dimuat HAI. Eka kelahiran 1975, saat itu dia berusia 24 tahun. Sedang kuliah Filsafat di UGM berarti.

Saya juga pernah nemu cerpen Peluk karangan Dewi Lestari di HAI tahun 90-an saat lagi iseng menjelajah arsip majalah HAI.

HAI jaman baheula rupanya punya peran penting bagi para calon penulis besar yang saat itu masih muda. HAI jaman dulu, selalu ngasih ruang banyak untuk cerpen, puisi, dan komik.

Singkatnya, banyak penulis idola saya saat masih muda menjadikan HAI sebagai salah satu batu loncatannya. Gue jadi agak nyesel, waktu SMA belum segitunya sih sama dunia tulis menulis dan media. Jadi, kenal HAI cuma seadanya

Bagaimana dengan sekarang? Tinggal nunggu aja sih, lima tahun lagi deh. Saya yakin anak-anak SMA yang suka kirim artikel, ngajuin diri minta liputan ini-itu, bersikeras kirim puisi atau cerpen berkali-kali ke email redaksi walau tau HAI sekarang cuma sesekali aja nampilin sastra, mereka pasti bakal menjelma jadi sosok muda yang gue idolakan juga.
.
Dan saat itu umur gue cuma beda beberapa tahun sama umur HAI yang hari ini, 5 Januari ini, genap 40 tahun :/

Ngomong-ngomong, selamat ultah HAI. Semoga rubrik cerpen dimunculin dan digiati lagi, bukan cuma diadain untuk nambel aja tiap kali tiba2 masih halaman kosong. :p

Tulisan Feature Pertama untuk HAI

Karena HAI lagi ulang tahun ke-40 gue jadi inget artikel ini, artikel feature pertama yang saya tulis untuk HAI. Saat itu 2010, saat saya di HAI sebagai reporter magang. Masih jadi mahasiswa pastinya.
.
“Gue pengen nyoba lo bikin artikel panjang ,” kata mas Yorgi, editor desk sekolah, saat itu, “temanya tentang cewek B.B.B.”
.
Di masa itu, istilah cewek BBB emang hits, untuk merujuk para ciwik-ciwik yang memakai behel, penenteng Black Berry, dan berambut gaya belah tengah. Singkatnya, para cewek BBB adalah cewek-cewek hits, gaul, elit, dan kekinian pada masanya.
.
Saat dikasih tawaran nulls feature, saya senang. tapi saat dijabarin tugasnya saya keki. Saya mesti cari 3 cewek BBB yang beneran cakep dan gaul, terus wawancara 3 cowok SMA untuk minta testimoni mereka tentang cewek BBB ini. Maklum, dulu masih kikuk menghadapi narasumber, apalagi cewek cakep nan elit.

Coba aja dulu udah ada LINE, saya nggak mesti keliling-keliling sekolah daerah Bulungan, Kebayoran Lama, untuk nyari cewek BBB yang mau diwawancara dan diajak ke kantor untuk foto.

Dan kocaknya, ada salah satu cewek BBB narsum gue yang komplain dengan artikelnya saat terbit.

“Kak, cerita gue suka dugem, kok, lo tulis sih?”

“Wah, emang kenapa? kan lo sendiri yang cerita”

“Nyokap gue baca. Jadi ketauan deh. Gue diomelin nih!” .

Eng ing eng.

Hari ke-6: HAI yang Selalu Menyapa Pria untuk Merayakan Masa Mudanya

Dalam serial cerita Lupus terbitan 1995 yang berjudul Interview Duran-Duran, dikisahkan, Lupus SMA yang jadi kontributor Majalah HAI, diberi tawaran untuk hengkang ke Hongkong menyaksikan konser band idolanya, Duran Duran. Tawaran itu diberikan oleh mas Iwan, Wakil Pemred majalah Hai saat itu, karena ia tahu Lupus sudah paham betul seluk-beluk band tersebut. Maklum, majalah Hai dapet kesempatan eksklusif untuk mewawancara band yang cukup nge-hip di era 90-an itu, jadi Lupus bakal jadi garda depan majalah Hai untuk memburu cerita langsung dari para personilnya.
Sontak Lupus pun girang. Tanpa babibu, ia menerima tawaran itu. Walau mas Iwan nggak menggratiskan ongkos pesawat, Lupus nggak patah arang, bersikeras ia berusaha untuk cari tambahan uang untuk beli tiket pesawat, yang saat itu, menurut bukunya, seharga USD 600. Bantuin Maminya bikin kue bahkan sampai ikut kerja di bengkel abangnya Boim.  Tak lama, berangkatlah Lupus bersama dua orang awak Hai, Denny, wartawan Hai yang merasa minder untuk wawancara Duran Duran dan Sute sang fotografer.
Singkat cerita, akhirnya Lupus sukses menyaksikan secara langsung penampilan band pujaannya itu,  menyapa lalu ngobrol bareng dan pastinya berfoto bersama Nick Rhodes, salah satu personilnya yang gaya rambut jambulnya begitu menginspirasi Lupus. Tak hanya Lupus yang senang, seluruh anak muda se-Indonesia pasti turut bergembira, karena atmosfer konser tersebut jadi bisa dirasakan melalui artikel liputan yang dibuat Lupus di majalah Hai.
Nah, di sini saya ingin sedikit bercerita tentang majalah Hai. Sepengamatan saya (sepertinya sih akurat) majalah ini adalah majalah Indonesia pertama dengan segmentasi pembaca remaja pria.  Sudah sejak tahun 1977, majalah Hai terbit secara berkala satu minggu sekali.
Dilihat namanya, ‘hai’ adalah sebuah kata sapaan sehari-hari, walau sempat diduga sebagai alih bahasa dari high  yang merujuk pada situasi saat seseorang mengawang-awang – biasanya karena pengaruh narkotika dan alkohol – majalah ini tetap konsisten menggunakan nama tersebut hingga sekarang. Hanya logonya sajalah yang beberap kali diubah, untuk mengikuti tren visual mungkin. Nyatanya, imej cutting edge yang diusung oleh Hai memang bukan menjurus ke arah yang negatif seperti istilah high tersebut
Penggunaan filosofi sapaan tersebut sangatlah menarik. Hai, selalu bisa menjadi akses bagi para remaja pria untuk bisa menyapa dunianya. Remaja pria dari masa ke masa. Coba deh, hitung jumlah cowok yang saat SMA tidak membaca Hai, pasti nggak banyak. Apalagi untuk pemuda era 90-2000an yang saat itu belum punya banyak media massa seperti sekarang, Hai seolah menjadi kitab suci untuk mejadi remaja urban.
Lewat informasi yang disajikan dengan gaya tutur yang sederhana dan mengalir khas anak muda, Hai menjadi teman bagi para remaja untuk menikmati ketertarikannya dalam hidup. Musik, film, olahraga, sastra, komik, seni rupa, fotografi, teknologi, dll. Tak ketinggalan juga, hal yang selalu menjadi bahan obrolan setiap remaja pria: wanita.
Hai adalah teman yang baik, yang tak pernah memaksakan siapa pun untuk mengakrabinya. Berdasarkan pengalaman saya berinteraksi dengan para pembaca dan sumber berita Hai, anak-anak seperti Lupus lah yang pasti senang bersahabat dengan Hai. Anak-anak yang selalu punya hasrat besar untuk merayakan masa mudanya dengan menggeluti minat serta ketertarikan tertentu. Pada anak-anak seperti itulah Hai adalah sahabat yang baik. Yang memudahkan pembacanya untuk ‘ngobrol’ dengan idolanya, bercerita tentang kehidupan pergaulan di sekolah, mengumpulkan dan menjaring segala macam informasi yang dibutuhkan, dan mendorong semangat berkarya dengan menyediakan halaman untuk menampilkan karya pembaca, entah itu berupa fotografi, desain, ilustrasi atau pun cerita pendek. Hai adalah wadah besar hasrat para pemuda. Hai adalah tiket dengan kisaran harga Rp 15.000 – Rp. 25.000 yang siap mengantarkan pemuda ke dunianya. Hai adalah youth passion station.
“Youth is the engine of the world” Begitulah kutipan dari Matiyashu yang tertera pada salah satu lift di gedung tempat Hai berada.
Perjalanan waktu adalah hal yang tak bisa dihindarkan, umur Hai pun selalu bertambah tiap tahunnya. Namun, Hai pasti sadar akan perannya yang penting pada banyak remaja di Indonesia dari generasi ke generasi. alih-alih menjadi tua, Hai sepertinya memilih untuk tetap menonaktifkan perkembangan psikologisny dan memilih tetap menjadi remaja selamanya, demi menemani anak muda untuk menghidupi hasrat meraih dunianya.

Selamat 36 tahun majalah Hai. 

Terima tengkyu udah jadi sahabat sekaligus sekolah bagi saya juga. Super salut untuk seluruh awak Hai. 🙂