Tanda Bahaya

Aku heran mengapa musim hujan tak membuat kutu-kutu di rambutmu minggat. Apa benar kamu undang mereka masuk ke kepalamu untuk berjudi bersama?

Aku dengar, di siang hari kamu mengajak kutu-kutumu diskusi matematika demi mencari rumus mendapatkan angka lebih besar dari pengurangan. Lalu kalian pergi ke terminal di malamnya, berkenalan dengan preman, belajar cara cari gara-gara tanpa ribut-ribut.

Dan musim kemarau sebentar lagi tiba.

Aku rasa kamu perlu belajar pramuka. Agar tahu cara memadamkan api dan paham sandi-sandi. Karena kelak akan ada kebakaran besar dari api unggun yang kehilangan himpunan .

Kami menduga kamu lebih percaya pada kerumunan dan tak pernah membaca tanda bahaya dari tangga darurat.

Rabu Rasa Jumat


Sungguh suasana hari ini mirip sekali Jumat. Padahal sekarang Rabu. Alasannya, deadline maju! Jadi, mulai minggu ini hingga sebulan kedepan, kami akan mengerjakan dua edisi sekaligus. Senggaknya, masing-masing edisi mesti beres digarap dalam tiga hari. Dalam semingguada sisa satu hari yang bisa benar-benar dikosongkan untuk dianggap libur, sih. Lumayan(?)


Jadwal baru ini seharusnya nggak bikin saya shock, andaikan saja saya lagi nggak sepayah ini. Kepayahan ini paling kentara ketika saya mengerjakan artikel feature. Nggak pernah bisa selesai di hari ketiga keempat. Mesti di hari kelima. Di luar alasan sumbangan tulisan yang suka macet,  otak saya juga sering mampet. Di tengah keinginan bisa menulis dengan story telling yang asik, diselipin kalimat kreatif dan sesekali mengeluarkan guyonan santai, saya malah malas memikirkannya ide dan konsep tulisan sejak jauh hari, baru di hari tulisan harus selesai semua itu dimampatkan di pikiran saja. Berjejal.

Kemarin, saya membaca-baca ulang artikel feature yang saya tulis. Hasilnya, duh! Malu sendiri. Pengen bisa buka jendela terus terjun dari lantai 6 (nggak usah takut saya kenapa-kenapa, saya Spiderman). Saya menemukan beberapa logika kalimat yang ngawur, ada bahasan di beda kalimat atau paragraf yang nggak terjembatani dengan baik; kadang merasa tulisan saya itu salah sasaran: garing banget; kadang nemu ada data yang kurang kuat, ada juga penempatan koma yang malah bikin tulisan saya terasa trying to hard untuk banyak menggunakan tanda baca, padahal nggak perlu-perlu amat.  Dan soal judul, sesusah-susahnya bikin judul, lebih susah lagi melupakan judul yang kurang cihuy tapi terpaksa dipakai. Haha!

Celakanya, saya malah mencari pemakluman untuk menyelimuti kesalahan saya itu. Saya jadi bertanya, kemampatan pikiran saya dalam menulis kreatif itu kayaknya disebabkan karena kuota kerja yang aduhai ini deh. Gimana nggak, saat kerjaan rutin mingguan belum juga rampung, sudah disela oleh kerjaan-kerjaan selewat dari pak bos.  Di pekerjaan ini, fokus adalah barang pecah belah yang kalau terlalu sering didistrak oleh “notifikasi” dari sana-sini, bisa lepas dari tangan dan “pyaar”. Pecah! 

Hasilnya, gejala ini sering sekali terjadi: ketika sedang memiliki lima pekerjaan, saya malah mulai menyelesaikan pekerjaan yang keenam. Runyam. 

Okein aja dulu.

Saking derasnya perintah kerja di sela-sela kerjaan rutin, terasa sekali kalau saya dan teman-teman kerap pura-pura bisa menyanggupinya dulu. Tiap kali perintah datang, saya, misalnya, sering banget tuh akhirnya cuma bisa mendengarkan, lalu manggut-manggut sambil mengeluarkan tanggapan-tanggapan default. “Oh gitu?! Sip sip.”, “Oke, mas.”,  “Ohh. Siaap!.”  Haha. Kalau diinget-inget geli juga. 😀

Saat menjawab, ya tentu nggak kepikiran gimana beratnya kerjaan itu nanti. Yang penting okein dulu, biar kerjaan yang ada di depan mata bisa balik dilanjut lagi.

Kok lo nggak nanggepin sih, atau malah protes?

Alasan utama sih, karena saya yakin kalau pak bos saya itu ya ngalamin kondisi yang nggak jauh beda sama kami. Pikiran mereka juga seramai pasar, atasan mereka juga mungkin sering impulsif mengintervensi. Dan faktanay, sering juga tuh perintah-perintah dadakan itu menguap begitu saja. Hehe. 

Di luar itu, kami beberapa kali protes kok kalau ada intervensi kayak gitu.

Suasana hari ini mirip sekali dengan Jumat. Saya sudah selesai dengan tugas-tugas saya untuk edisi ini, tapi belum bisa pulang karena masih menunggu para desainer melayout artikel saya. Sambil menunggu, saya menulis blog, sebuah kebiasaan yang belakangan saya sering saya lakukan pada Jumat.

Jadi, lo sibuk banget nih, ki? 

Nggak dong, sibuk hanya milik orang-orang yang busy. Walau seminggu ini akan ada dua tenggat, tapi saya tetap nggak sesibuk itu untungnya. Tadi pagi, sebelum ngantor masih bisa nonton film di rumah. Dua hari kemarin, sebelum sampe rumah masih bisa mampir nyemil malam, Menukar penat dengan kehangatan jahe, indomie, atau es campur. Mari bersyukur. 

Oke, curhat selesai. 


Kayaknya seru nih menutup tulisan dengan pantun. Gini: 

Satu minggu dua Jumat 
Mengejar tenggat kok gini amat! 

Jangan digugu, saya nggak hebat. 
Jangan ditunggu nanti nggak kuat. 


#lho

Awak Kapal Yang Merindukan Ombak

Pada Rabu (30/03) kemarin, Eta minta tolong saya untuk memfoto dirinya berpose dengan majalah HAI edisi terbaru yang berhalaman sampul foto Zayn Malik. Di tengah remang-remangnya ruang redaksi yang kalau pukul 18.00 teng lampunya dimatikan, Eta berpose di sebelah lampu meja.

Saya memfotonya tanpa kecurigaan barang seupil pun. Paling-paling hanya dugaan bahwa Zayn Malik adalah idola mamah bayi 8 bulan ini, atau pengerjaan edisi itu bikin ibu Art Director yang udah kerja di HAI bertahun-tahun ini berapi-api.

Keesokan harinya, hape saya kedapatan notifikasi dari Instagram yang menyebutkan kalau Eta menyebut (mention) saya di keterangan foto terbarunya. Dan itu adalah foto Eta bersama majalah HAI tadi. Saya membacai keterangan dan komentar-komentar di bawahnya. Nadanya haru.  Mengisaratkan kalau Eta akan ciao dari majalah HAI.

“Ah, tau lu mau resign gini, gue jadi nyesel kemaren motoin,” kata saya ke Eta pada Jumat (31/03) sore saat saya menemui Eta di lantai dasar yang dikelilingi banyak sekali bungkusan  yang kemudian disuguhkan kepada kami. Eta membeli sebakul besar es doger agar di hari perpisahannya ini kami bisa melakukan sesuatu yang Eta sebut  Ice Danger Party.

Perpisahan itu menyedihkan, kawan. Karena itulah kita dibiasakan untuk membuatkan pestanya, ritual tipikal di hari terakhir ngantor. Menyuguhkan makanan, agar semua teman kerja berkumpul di mengeliling meja, lalu menyayangkan kepergian sambil menguyah nikmatnya sajian. Ngilu di hati dikelabui lezat di mulut.

Dan tahukah kamu, sejak Oktober kemarin,  redaksi HAI sudah ditinggal 5 awaknya: Rama, wartawan film, pada September; disusul Zaki si hobit yang wartawan musik pada Oktober.

Bursa perpisahan paling ramai pada Maret ini: tiga sekaligus! Pertama, Satria, wartawan satu desk dengan saya, desk sekolah, diikuti Adhie wartawan multitalenta (ia paling bisa diandalkan di banyak desk, bahkan saat resign ia sedang berada di desk sosmed, ya, dia jadi admin sosmed!), dan yang paling “wah” adalah perginya Eta ini. Eta sudah bertahun-tahun kerja di HAI, itulah mengapa di acara perpisahannya, teman-teman alumni HAI berdatangan.

Coba bayangkan jika kamu sedang di atas sebuah kapal, lalu menyaksikan banyak penumpangnya yang tiba-tiba memboyong skoci yang sudah mereka siapkan diam-diam lalu melipir keluar kapal, tidakkah kamu akan mengira bahwa akan ada bahaya di depan sana, atau jangan-jangan kapal yang kalian tumpangi itu akan memilih untuk menenggelamkan diri? Apa pula yang membuat kamu tetap ikut terombang-ambing dalam kapal? Makan tuh loyalitas! 

Selain ngilu di hati, gelisah di kepala pun mana mungkin bisa dihindari kalau segitu banyak kepergian mesti dihadapi.

Dan ini bukan satu-dua kali saya merasakannya, di kantor-kantor sebelumnya, kepergian massal-yang-walaupun-satu-persatu-dan-diam-diam ini juga pernah terjadi. Bahkan saya pernah menjadi salah satu pesertanya.

Seharusnya saya terbiasa, tapi nyatanya tetap tak mudah.

Saya percaya, bagi sebuah kapal, ada yang lebih menyedihkan daripada ditinggal awak, yaitu ketika nahkodanya membiarkan kapal lama-lama berada di atas perairan tak berombak, dan malah mengajak para awaknya meniup-meniup segala layar sekuat tenaga alih-alih belajar mengendalikan angin yang belakangan ini tak bisa diajak main.

Barangkali saya bukan awak baik untuk kapal-kapal manapun yang setia pada nahkoda, tapi kan saya tetap ingin mengarungi samudera betapapun samudera tak cukup dimasukkan ke dalam karung di peta saya sendiri

Tiap keadaan seperti ini terjadi, saya selalu bertanya pada diri:

Bukankah kita bisa bergerak mencari ombak agar kita bisa berlayar lebih jauh, walaupun itu mengharuskan kita berpindah kapal atau berenang sendiri, daripada sekedar diam asal selamat?


:):

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=B6eq9HBj-A4]
Jalan Panjang semakin lapang
Hanya dahan kering yang terpanggang
Tak ada teman telah terpencar
Namun waktu terus berputar
Peduli apa terjadi
Terus berlari tak terhenti
Untuk raih harapan