Di Bus Kota

Pedagang 1: “Sambil nunggu bus jalan, bapak ibu ya, saya kasih comercial break yah, bapak ibu yah. Saya jual korek kuping dengan senter di ujungnya, bapak ibu yah. Murah saja. Harganya goceng, bapak ibu yah. Boleh ditawar jadi lima ribu, bapak ibu yah.”

Pengamen 1: “Yang pura-pura tidur, pura-pura nggak kedengeran. Hati-hati dompet tas hilang. Nanti nggak bisa pulang. Saya doakan semoga kita semua mendapatkan berkah tak kepalang.” .

Pedagang 2: “Ini saya tawarkan inovasi senter terbaru, yah. Cahaya lampunya terang. Harganya penghabisan. Lima ribu saja. Maaf ya kalau ada yang kemarin beli sepuluh ribu.” .

Kenek: *cek kecrek kecrek*

Penumpang 1: “Kembalinya, bang. Saya turun di kebon jeruk”

Kenek: *cek kecrek kecrek*

Penumpang 1: “Vindicated, i’m selfish, i am right, i am rig…..ht” .

Kenek: *cek kecrek kecrek*

Penumpang 1: “Maaf bang, udah gak ada uang”

Kenek: “Ongkos.”

Penumpang 1: “Lah tadi saya udah kasih. Ke abang yang….”

Pengamen 1: “Pir, minggir dikit, pir. Gue turun”.

Menyapa Ragunan

Bersama geng The Future of The Past, saya menggelar Analog’s Day Out. Kami mengajak temen-teman lain untuk membawa main kamera analognya untuk melahap momen-momen yang menarik di suatu tempat. Di kali pertama itu,  Kebun binatang Ragunan adalah tempat yang kami pilih. 
Saya cukup suka motret di kebun binatang. Banyak sekali yang bisa didapat. Selain foto-foto hewan dan pepohonan di sana, saya juga senang mengamati para pengunjungnya. Ya, emang dasar aja saya suka mengamati orang kalau lagi di ruang publik. Walau begitu, di sesi foto kali ini, saya lebih banyak motret hewannya sih. Entah gimana chemistry-nya tapi tonal warna foto film itu cocok banget yah untuk foto hewan dan pepohonan. Ada nuansa tersendiri yang dihadirkan. 

Selamat enjoy. 😀

Bergentayangan di Hellofest

Ada cerita seru dari kunjungan saya ke Hellofest, Februari lalu. Hehe. Festival animasi besar-besaran yang digelar oleh Hellomotion itu ternyata nggak cuma menampilkan lomba animasi aja. Melainkan meluas ke hal-hal lain yang masih dalam satu lingkupunya. Ada ajang Cosplay yang mengajak orang-orang untuk berdandan semirip mungkin dengan tokoh animasi, dan ada juga bazaar.

Nah, di bazaar nya itu banyak barang-barang keren, tak terkecuali kartu pos. Ada kurang lebih tiga booth yang menjadikan kartu pos sebagai bagian dari jajaannya. Dan saya pun menemukan kartu pos yang menampilkan karya kolase di sebuah booth. Nggak cuma kartu pos doang sih yang dijual di sana, ada pernak-pernik dan crafting lainnya. Tapi semuanya seragam dan satu nuansa: kolase. Saya pun sudah merasa akrab dengan gaya dan karakter tiap barang di booth ini. Selain pernah dikasih unjuk sama teman di situs Etsy, saya juga pernah melihatnya di Galeri Salihara. Saya pun memang menyatakan naksir dengan karya-karya itu. 
Merasa penasaran saya pun bertanya kepada si penjaga.

“Kak, saya suka banget sama karya-karya ini. Tau nggak siapa nama pembuatnya?”

Lucunya, si kakak itu nggak menjawab dengan omongan. Saya yang bertanya sambil menunduk pun sedikit menunggu. Ternyata ia menjawabnya dengan menujukkan jarinya ke arah mukanya. haha. Kalian tau dong itu artinya apa. Ya, kakak yang saya anggap sebagai penjaganya itu ternyata adalah si senimannya. Sungguh kikuk sekali keadaan saat itu. Saya cuma ‘oh ehh ohh,” doang. Untung aja, masih kepikiran untuk menyodorkan jabatan tangan. 
Akhirnya kami pun berkenalan. Dia adalah Ika Vantiani, seniman yang belakangan saya tau memang giat membuat karya crafting dan instalasi dari kolase. Sungguh karya-karyanya selalu ajaib! kalian wajib memantaunya deh.

Setelah pertemuan itu, kami ternyata jadi sering bertemu lagi. Walau nggak saling ngobrol tapi seenggaknya udah tau kenal lah. hehe.