Masa Depan Cerah Estetika Kamera Lama

Di tangan para anak muda, estetika dari kamera lama dicari. Di kala harga film makin tinggi, lab-lab indie berdiri. Dari yang pehobi sampai profesinoal main analog lagi. Karakter warnanya yang khas dianggap sebagai eye candy.

Sepulang sekolah, masih berseragam, Gemilang Rachmad mendatangi Renaldy Fernando Kusuma atau Enad, pemilik Jelly Playground,penyedia segala kebutuhan pehobi fotografi analog. Saat itu, Gemilang sedang kehabisan rol film.

Di masa SMP hingga awal SMA, cowok dari SMA Al Azhar 3 Jakarta ini suka banget dengan fotografi, selain bersepeda. Ia rutin meramaikan Instagram-nya dengan foto-foto suasana perkotaan, aktivitas bersepeda, dan momen travelling-nya. Selain jago mengambil angle, Gemilang lihai memoles fotonya dengan filter-filter dengan tonal asik. Itu adalah ketika Gemilang masih mengandalkan smartphone dan DLSR Nikon D7000-nya.

Hobi motretnya malah makin menjadi-jadi ketika ia jauh dari kamera digital dan akrab sama kamera analog. Gemilang jadi pelanggan Jelly Playground bukan hanya untuk beli rol film, tetapi juga merchandise bertema analog dan pernak-pernik lainnya.

“Saat SMA, gue bisa seminggu dua kali, pergi hunting foto pake analog,” cerita Gemilang saat HAI temui di acara bazaar kamera analog Low Light Bazaar.

Continue reading Masa Depan Cerah Estetika Kamera Lama

Menjadi Fotografer Konflik

Terhadap foto-foto konflik: ada yang acuh, ada juga yang pesimis. Di film ini, seorang fotografer konflik mencoba melawan pesimisme itu sambil menghadapi pertempuran hatinya sendiri.

Di tulisan ini saya ingin menceritakan kesan saya atas film A Thousand Times Goodnight. Disutradarai dan ditulis oleh Eric Poppe, diperankan oleh Julliete Binoche. Rilis pada 2013 lalu.

Alkisah, seorang pewarta foto wanita, Rebecca, memiliki renjana terhadap peliputan di daerah konflik. Demi mendapatkan foto yang kuat berkesan ia siap masuk ke area yang sangat berbahaya sekalipun. 
Ketika di Kabul, Afganistan, ia mengikuti prosesi perencanaan hingga peledakan bom bunuh diri oleh seorang warga perempuan setempat. Ia terus memotret hingga akhirnya bom pun diledakkan. Walau sudah menghindar beberapa meter dari si pelaku, kena juga ia imbasnya. Rebecca terluka hingga tak sadarkan diri.
Ia pun dipulangkan ke rumah. Awalnya sambutan keluarga terkesan ramah. Tapi, tak lama ia tahu bahwa anak dan suaminya menyimpan marah.

Siapa pula keluarga yang ingin didera rasa khawatir karena ibunya berlama-lama di daerah konflik penuh bahaya. Bahkan, Steph, anak Rebecca paling tua, sempat menganggap ibunya sudah tewas saking tak ada kabarnya.
Rebecca pun gelisah. Renjana dan idealismenya goyah. Ia memutuskan menutup kariernya sebagai fotografer konflik. Memilih mencoba selalu dekat dengan rumah, menjadi ibu yang baik.
Saya sangat-sangat tersentuh dengan film ini karena, pertama, film ini banyak menyadarkan saya tentang seluk-beluk profesi fotografer konflik. Kedua, film ini mempertontonkan pertempuran hati, krisis diri terkait karier, cinta dan idealisme dengan sangat baik. Setidaknya, ketika menonton saya merasa ditelanjangi, saya seperti melihat diri sendiri. Dan bukankah kita, terutama kita para pemuda di fase quarter life, hampir pasti mengalami masa krisis diri?  #nyaritemen. 
Terakhir, film ini mempertemukan saya dengan Julliete Binoche, aktris kawakan asal Perancis. Pesona ibu satu ini menyerap ke sanubari. Sejak menonton film ini saya jadi pendambanya. Nanti saya ceritakan alasannya.

Melawan Pesimisme Atas Foto Konflik
Pertama, soal fotografer konflik. Film ini menjawab pesimisme atas kekuatan fotografi dalam membawa perubahan (baca; kesadaran, kepedulian dan atau pergerakan massa). Sebelumnya, saya turut agak nyinyir kepada foto-foto yang mengumbar derita, entah itu dari konflik, bencana alam, atau derita pinggir jalan berkedok foto human interest. 
Foto-foto penderitaan kerap dimanfaatkan media dan para pehobi foto yang menganggap dirinya sepenting media, untuk meraup atensi. “If it bleeds, its leads” begitu kata Susan Sontag, dalam tulisannya Regarding The Pain of The Other, Semakin berdarah-darah, semakin dramatis nan tragis sebuah foto, semakin lakukah media tersebut. 
Dan media diuntungkan dengan massa (baca: kita) yang punya mata penuh nafsu atas derita. Berbalut rasa penasaran dan kehausan menyantap hal-hal sensasional, kita gemar melihat penderitaan dan tragedi. Singkatnya, jurnalisme media menumpang hidup dari citra tragis konflik.
Merujuk Susan Sontag, Nirwan Ahmad Asuka dalam salah satu eseinya juga bilang, tak menutup kemungkinan juga, ketimbang mengobati penderitaan, fotografi malah memantik munculnya penderitaan lanjutan pada subyek terpotret karena proses reproduksi dan distribusi citra foto yang tak bisa ia kontrol. 
Susan Sontag juga menyampaikan lagi rasa pesimisnya, menebar foto-foto penderitaan perang justru memperparah penderitaan subjek yang ada di foto tersebut. Dan sekarang ini, hal itu benar terbukti. Coba saja ingat-ingat, video rekaman orang jatuh dari sepeda jika diunggah ke Youtube, ia akan tersebar, dan bukan nggak mungkin ada stasiun televisi yang menukilnya dengan menambahkan backsound bernama humor. Kesakitan dibuat jadi kesenangan. 
Film ini piawai dalam cerita. Erik Poppe sang penulis sekaligus sutradara tak ingin pesimisme itu meraung. Dihadirkanlah Steph. Tokoh ini seolah sengaja dibuat utamanya untuk menjadi agen pengubah persepsi atas pentingnya foto konflik.
Di balik kemarahannya pada Rebecca, Stephlah yang paling merasakan heroismenya. Apalagi, di sekolahnya Steph sedang mendapatkan tugas The Africa Project. Semacam proyek pendalaman budaya dan keadaan sosial masyarakat Afrika. Foto jepretan Rebecca pernah dijadikan materi oleh gurunya.
Steph pun menjadi gerbang Rebecca mulai menjelaskan tentang betapa tragisnya konflik yang terjadi di belahan lain dunia, yang membuat sesama manusia menderita. Gara-gara antusiasme Steph, renjana Rebecca menemukan kawannya. Setelahnya, baik Rebecca atau Steph kerap mengeluarkan percakapan soal pemaknaannya atas fotografi konflik. Mengkuliahi saya, memberikan pemahaman bandingan dari Susan Sontag
 “Why did you start taking picture of war?” Tanya Steph kepada Rebecca ketika mereka berada di Kenya, Sudan. 
“Anger.  Photography was my salvation. I could express my feeling. It calmed me down” 

“Are you still angry?” 

“Oh yes. But i’ve learned to live with it. Work with it.” 

“What do you mean?” 

“When im in front of this horror, the suffering, i want people putting coffee in the neck when they open newspaper and see and feel and react. That’s what i want,”
O ya, sedikit bocoran, Rebecca kembali memotret lagi, mendokumentasikan sebuah program dari UN. Karena mengganggap daerah aman dari konflik, Steph pun diajak serta
Lantas, penyataan kuat disampaikan oleh Steph saat ia mempresentasikan tugas The Africa Project-nya dari kunjungannya ke Kenya: 
“At first I thought it was odd to go to people and take pictures of them. Especially when they were sad. But then I understood. They wanted to. No matter how many pictures we take, it is not enough. Someone should keep to taking more. Thats happen to my mom. 
While we were there, there’s fight. Mom got me to safety and so she risked her own life to take this photo. 
I think of the kids that go through this every day. They need her more than I do.” 
Film ini menyimpulkan, media memang mungkin melakukan komodifikasi citra fotografis konflik, tapi di level fotografer (yang mumpuni sekelas Rebecca tentunya) memotret konflik adalah pengabdian terhadap kemanusiaan. Prinsip jurnalisme damai begitu kuat dipegang. 
Keberhasilan usaha Rebecca juga ditunjukkan dalam film ini. Fotonya benar-benar bisa menyulut gerakan. Selain dipakai dalam materi di kelas Steph, foto Rebecca dipampang di kantor UN, untuk terus mengingatkan keadaan di daerah konflik itu. Saat di Kenya pun, tentara datang ke daerah konflik setelah foto Rebecca dipublis. 
Duh, saya jadi tertohok. Saya sering memotret. Tapi tak pernah menggunakannya untuk kemanusiaan. Padahal saya sering berdoa agar bisa jadi berguna bagi sesama. Pada suatu titik saat nonton film ini, saya terdorong untuk menjadi wartawan. 
O ya, perlu diketahui juga, bahwa film ini adalah otobiografi dari Erik Poppe. Ia pernah menjadi wartawan perang pada tahun ’80-an, salah satunya perang  Vietnam. Rebecca adalah perwujudan dirinya yang juga pernah kesal dengan dunia yang kerap acuh terhadap konflik. Eric Poppe juga pernah mengalami dilema besar. Memilih tetap bersama kekasihnya atau berangkat meliput ke daerah perang.
Lantas, kenapa tokoh perempuan yang dipilih untuk mewakili ceritanya? 
Menurutnya, pewarta wanita punya akses lebih dalam peliputan di daerah perang. “The female perspective in our story is all about how a woman photographer in particular is better able to portray the totality of war. She is in the same place men are, and is covering the same situations, but in the Muslim world she also had access to areas from which male journalists are excluded,” tulis Erik. 
Setelah menonton film ini, saya menonton film dokumenter dari BBC. Judulnya Witness. Berisi dokumentasi para jurnalis ketika meliput ke daerah konflik. Di episode Sudan, wanita jurnalis foto yang ditampilkan. Dia adalah  Veronique de Viguirie. Saya menduga tokoh Rebecca juga terinspirasi darinya. Soalnya, keduanya sama-sama tangguh. Sama-sama pernah meliput di Sudan soal pemberontakan LRA. 
Saya juga menelusuri salah satu foto Sudan yang ditunjukkan Rebecca saat difilm. Dugaan saya salah. Ternyata foto sosok Mari, gadis yang jadi korban penganiayaan LRA, bukan hasil jepretan Veronique, melainkan  Marcus Bleasdale, fotografer perang papan atas juga. Di film, Marcus malah menjadi nama suami Rebecca. 
Barangkali, lewat film ini, Erik Poppe ingin merangkum aspirasi kawan-kawannya sesama fotografer konflik. Untuk mengampanyekan optimisme akan jurnalisme damai.
Krisis Diri dan Pesona Julliete Binoche 
Poin kedua, adalah tentang sajian cerita krisis diri Rebecca. Eric Poppe juga lihai dalam sinematografi. Melihat Rebecca dan dunia yang sedang tak bisa menerimanya itu, saya jadi turut merasakan kegelisahannya, kekalutan pikiran, kesulitan menentukan pilihan, keberantakan mood, kekesalan terhadap keadaan, dan ketidakmampuan untuk memperjuangkan renjananya.
Posisi Rebecca memang pelik. Karier dan pencapaian dirinya bentrok dengan harapan keluarga. Walaupun Rebecca ingin mengubah dunia, tapi ia juga tak ingin kehilangan cinta. 
Dari scene bagian awal film. Ketika Rebecca menemukan suaminya kecewa dan marah pada profesi berbahaya istrinya. Hmm, jadi perlu hati-hati nih sama modus “aku suka kamu karena kamu passionate banget”#eaa
Krisis diri kemudian melahirkan perasaan tidak diterima, perasaan berbeda dari kebanyakan. Situasi pelik! 
Lewat pengambilan gambar, backsound musik yang pelan tapi menyayat, kecakapan acting Julliete Binoche membuat saya jadi mengingat krisis diri yang juga pernah (atau sedang?) saya alami. Secara langsung, saya juga teringat seseorang yang sedang mengalami kekalutan hidup, dilema besar, persis seperti yang dialami Rebecca. Saya (kami) seperti mendapat kawan seperjuangan.

Lagu tema film ini juga sangat saya suka. Sukses merangkum cerita, baik dari lirik maupun musik. Judulnya Daring to Love dinyanyikan oleh Ane Brun. Mari didengarkan:

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=v2o0nCLLDUQ]
Nah, bisa jadi karena saya menemukan diri saya dalam Rebecca itulah saya jadi ingin dekat dengan Julliete Binoche. Haha. Muka yang bisa ekspresif bisa juga dingin itu, senyum yang lebarnya itu, hidung mancung menipisnya itu, rambut pendeknya, garis-garis wajah yang merangkum panjangnya perjalanan hidup dan serunya petualangannya itu, serta sosok keibuannya itu. Uhhhh sekali, pemirsa! 
Usai A Thousand Times Goodnight tak menutup pertemuan, saya mengunjungi terus Julliete Binoche ke film-film lainnya: Words and Picture; Clouds of Sils Maria; Elles. Satu kekaguman saya, di film-filmnya ia selalu berperan sebagai seorang yang berprofesi di bidang literatur: di Words and Picture ia menjadi pelukis, di Clouds of Sills ia menjadi aktris, di Elles ia menjadi wartawan. Semakin lah saya merasa (ingin) dekat dengannya. Haha.

//platform.twitter.com/widgets.js

***
Tulisan Susan Sontag, Regarding The Pain of Others bisa dibaca versi PDFnya dari Monoskop.org. Saya juga pernah mengutipnya untuk esei Ketika Penderitaan Menjadi Objek Wisata Pehobi Fotografi
Esei Nirwan Ahmad Asuka yang saya kutip adalah yang berjudul Susan Sontag, Citra dan Waktu. Dimuat pada jurnal Kalam.
Cerita Erik Poppe saya baca di situs resmi A Thousand Times Goodnight 

Self-Published Your Photobook and Be Happy

Di era kemajuan teknologi, industri percetakan dan sosial media ini, rasanya tiap pehobi fotografi perlu menjadikan penerbitan buku fotonya sendiri sebagai pencapaian. Selain akan membahagiakan diri sendiri, ini penting untuk memperkaya referensi fotografi.


Kalau kita berkunjung ke toko buku dan melihat rak koleksi buku-buku fotografi, pasti yang banyak kita temui adalah buku-buku panduan teknik fotografi. Mulai dari panduan fotografi dasar, teknik pencahayaan, hingga panduan menguasai digital imaging dalam waktu singkat. Sementara buku fotografi yang berisi kumpulan karya foto dengan tema tertentu dari seorang fotografer sedikit sekali mengisi rak. Kalau pun ada pasti harganya mengejutkan. Kebanyakan harganya di atas Rp 300 ribu. Niat untuk mengoleksi buku foto, memperkaya referensi foto, dan mengapresiasi karya fotografer pun mau tak mau harus ditunda. 

Ridzki Noviansyah, seorang penikmat sekaligus pengamat fotografi cum co-founder Jakarta Photobook Club bahkan bercerita bahwa scene buku foto di Indonesia itu belum begitu hidup. “Sejak tahun 50-an, photobook Indonesia itu paling cuma ada 150-an buku. Sementara di Jerman setiap tahun bisa ada 150-an photobook yang terbit,” ujarnya. Data Ridzki tersebut mengacu dari pameran pemenang dan nominasi Penghargaan Buku Fotografi Terbaik Jerman 2013 yang digelar oleh Goethe Institute. 
Kalau melihat animo masyarakat akan fotografi yang terus meningkat, penerbitan buku foto itu perlu digalakkan demi menyeimbangkan semangat berfotografi masyarakat. Jika selama ini aspek produksi  dan distribusi (baca: pamer) foto yang paling sering digembar-gemborkan, maka penerbitan buku foto akan memicu semangat mengonsumsi serta mengapresiasi foto. Jika siklus produksi-konsumsi dalam ekosistem fotografi ini seimbang, geliat fotografi Indonesia pasti akan terus tumbuh dan semakin seru.

Untungnya, beberapa fotografer, baik dari kalangan hobi atau profesional, mulai memanfaatkan peluang dari perkembangan teknologi, media sosial dan industri percetakan. Satu persatu fotografer kemudian merancang, mendesain, mencetak lalu menjual buku fotonya secara independen, tanpa menunggu ‘ajakan’ dari penerbit besar. Tanpa mengandalkan penjualan di toko buku mayor. Kini, jika  rajin berjejaring di forum maya para pecinta fotografi, kita akan sering sekali disuguhi posting seorang fotografer yang sedang memperkenalkan buku fotonya. 
Aji Susanto Anom misalnya, fotografer muda asal kota Solo ini pada 13 September 2013 lalu merilis buku fotonya secara independen. Aji mengumpulkan foto-fotonya yang menggunakan pendekatan street photography merespon kejadian-kejadian sehari-hari di kota tempat tinggalnya. Buku berukuran sedikit lebih besar dari kartu pos itu kemudian ia beri judul Nothing Personal.

“Aku pengin menerbitkan buku karena aku pengin nyumbang karya dalam bentuk yang lebih nyata buat scene fotografi Indonesia,” tegas Aji yang juga menganggap menerbitkan buku foto dengan semangat Do It Yourself itu lebih mengasyikkan karena kita bisa menunjukkan idealisme dan cara berekspresi dengan sangat bebas. 
Selain Aji, ada juga Rian Afriadi, fotografer hobyist yang menggeluti fotografi pendekatan dokumenter subjektif yang  kini sedang merencanakan penerbitan buku fotonya. Bagi Rian, menerbitkan buku foto itu adalah  art statement. “Kalau gue lebih sebagai art statement dan doing it for love. Bukan demi uang. Apalagi hitung-hitungan profit bagi fotografer indie tentunya tidak terlalu wow,” ungkap Rian.
Bermodal Konsep dan Tekad
Berbicara soal langkah penerbitan buku foto, Ridzki menegaskan bahwa ketika kita ingin menerbitkan buku foto, maka yang paling perlu lakukan adalah mematangkan konsep dari foto-foto kita itu. “Jangan terlalu buru-buru apalagi merasa dikejar untuk menerbitkan photobook. Pematangan konsep dan tema foto itu lebih dibutuhkan,” ungkap Ridzki yang juga merekomendasikan kita untuk melihat sebuah photobook independen tentang joki cilik di pacuan kuda di NTB yang pengumpulan fotonya digarap oleh Romi Perbawa selama empat tahun. 
Matang di konsep dan tema, langkah selanjutnya adalah mendesain dan mencetak buku. Untuk tahap ini, kita bisa mengerjakan sendiri seluruh alur pengerjaan buku sendiri seperti yang dilakukan oleh Aji. Lulusan jurusan Desain Grafis ini mengerjakan sendiri desain tata letak, penulisan, pemilihan kertas dan pencetakan hingga penjilidan buku. 
proses pembuatan buku Nothing Personal. (foto dicomot dari FB Aji Susanto Anom)
Namun, jika belum menguasai teknik produksi buku, tak perlu risau. Dengan modal tekad yang kuat, kita pasti tetap bisa membuatnya, dengan menggunakan bantuan kawan misalnya, seperti yang dilakukan oleh Rian. Ia banyak berkonsultasi dengan desainer, teman-temannya yang sudah pernah berurusan dengan pencetakan buku, penulis dan editor.

O ya, metode kolaborasi juga bisa jadi opsi. Terutama jika kita punya kawan yang pendekatan fotografinya sama. Astrid Prasestianti dan Renaldy Fernando misalnya, yang pada 2012 lalu merilis buku berisi kumpulan foto-foto terbaiknya dari kamera analog. Buku yang diberi judul 88 itu dikerjakan secara kolaboratif. Setelah foto-foto dipilih bersama, Astrid yang sehari-harinya bekerja sebagai desainer mengerjakan urusan desain buku, sementara Renaldy banyak berperan di urusan promosi dan penjualan.
Satu hal lagi yang mesti diperhatikan dalam penerbitan buku foto adalah penyuntingan yang mencakup pemilihan foto, penentuan alur dan urutan penempatan foto. Dalam tahap ini, menurut Ridzki, fotografer memerlukan second opinion agar penyuntingan foto tak melulu mengikuti ego fotografer.
Pendapat Rian juga senada dengan Ridzki, katanya, “Si fotografer cenderung punya bias terhadap foto-fotonya. Ada kalanya kita ingin mempertahankan foto favorit padahal di mata viewer, foto itu malah dianggap merusak alur photobook.
Nah, soal pencetakan, seperti yang sudah kita tahu, kini jasa digital printing sudah menjamur. Semua pasti menyanggupi layanan cetak buku foto. Harga produksinya pun tak akan begitu mahal, apalagi jika kita langsung cetak banyak. Cukup siapkan file siap cetak, pilihan kertas dan jilidnya, selanjutnya kita serahkan ke para petugas percetakan.

Promosi dan Penjualan Bisa Tanpa Modal
Lewat media sosial kita bisa sangat mudah memperkenalkan buku foto kita dan menjualnya. Syaratnya pun simpel, cukup rajin berjejaring dengan forum-forum (group) pehobi fotografer dan pecinta buku foto. Setelahnya, cukup dengan membuat posting promosi yang menarik, kita sudah bisa mendapatkan peminat. 
Enaknya lagi, kita bahkan tak butuh banyak modal banyak untuk menerbitkan buku foto. Seperti yang dilakukan oleh Aji, dan duo Astrid-Renaldy yang menerapkan sistem pre-order. Jadi, kita hanya perlu modal untuk mencetak dummy, lalu kita promosikan via media sosial dan mengajak teman-teman yang berminat membeli untuk membayar uang mukanya terlebih dahulu. Uang muka itulah yang menjadi modal kita mencetak buku. Aji dan duo Astrid-Renaldy pun bisa mencapai target penjualan seperti yang diharapkannya. 
“Aku pertama cuma berencana bikin 100 buku, tapi ternyata permintaannya sampai 150 buku. Lumayan lah,” cerita Aji. 
Tentu, keberhasilan penjualan buku foto ini juga berbanding lurus dengan seberapa besar jaringan pecinta fotografi yang sudah dibangun si fotografer. “Pasar photobook itu sebenernya kecil. Tapi tergantung dengan networking si fotografernya juga,” ujar Ridzki. 
Perlunya Meningkatkan Pencapaian

Tren photobook ini jelas menjadi kabar baik bagi scene fotografi Indonesia. Namun, walau begitu, seperti yang disebutkan Ridzki, kita masih perlu juga meningkatkan pencapaiannya. Pertama, buku foto independen baiknya tak hanya disasar ke lingkup jaringan pertemanan di media sosial saja, melainkan ke segmen yang lebih luas lagi. “Para penerbit buku foto independen di luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura itu perhitungan pasarnya sudah nyebar ke negeri-negeri lainnya,” ungkap Ridzki. 
Selain itu, sekali lagi Ridzki mengingatkan jika kita ingin menjual buku foto, kita perlu mematangkan konsep atau setidaknya punya alasan kenapa khalayak mau membeli buku kita tersebut. “Karena itu, artist talks setelah buku foto dirilis perlu digelar sebagai sarana bedah buku dan ajang sharing cerita di balik pembuatan buku foto tersebut,” tambah Ridzki lagi. 
Nah, biar makin semangat, selalu ingatlah juga ungkapan “foto yang baik adalah foto yang dicetak.” Walau pun sekarang kita bisa mudah melihat foto di layar gadget, tetapi sensasi melihat foto kita tercetak dengan baik di kertas pilihan, apalagi dalam bentuk buku itu tak akan ada yang bisa menggantikannya. Selalu membahagiakan. Karena itulah, Mari kita cetak buku foto kita sendiri, seperti saran Aji jika kita ingin  menerbitkan buku foto maka, “Just do it! aja.”
Selamat mencoba. 😀
=======
Tulisan ini dimuat di rubrik Sidewalks di Things Magazine edisi Juli. Terima kasih atas kesempatannya. Semoga bermanfaat. 😀  

#Pencermat Ikut Mamah Ke Pasar

Satu hari sebelum lebaran, saya ikut si Mamah ke pasar Ciledug. Lokasinya ada di lantai underground Mal Borobudur. Ya, si Mamah belanja untuk keperluan masak hidangan lebaran. Beruntunglah saya yang punya ibu doyan masak. 

Sudah lama sekali saya nggak berkunjung ke pasar tradisional, bisa jadi sih karena Papah jadi lebih sering mengantar Mamah ke Pasar. Kalau dirasa-rasa, keinginan ‘main’ ke pasar muncul setelah beberapa hari sebelumnya, Fertina bercerita kalau dia belanja ke pasar dan menemukan barang yang dia butuhkan banget dengan harga murah. Menanggapi cerita Fertina itu saya bilang, “Di pasar itu memang suka banyak yang ajaib. Dulu kan aku juga sering ikut mama ke pasar.” Maksud saya dengan dulu adalah ketika masa-masa kuliah, ketika saya lagi gandrung-gandrungnya dengan fotografi. Terus, yang saya maksud dengan keajaiban pasar adalah karena bagi saya, pasar itu wahana berlimpah manusia yang beragam yang siap menyuguhkan momen seru nan ajaib. 
Alasan kedua saya ingin ke pasar dan motret di sana adala ya ingin ikut merayakan lebaran dan merasakan gegap gempita euforianya. Pasar itu penting bagi lebaran. Dari pasarlah hidangan khas yang jadi ikon perayaan lebaran itu dimulai. Semua orang yang ada di pasar sehari sebelum lebaran itu punya asa yang sama: menghidupkan lebaran. 
Memotret di pasar itu juga seru prosesnya, karena memotret bukanlah kegiatan yang lazim dilakukan di pasar. Beberapa orang akan terlihat heran dan cenderung jadi menghindar ketika tahu ada kamera. Tapi karena saya motretnya sambil bantu nenteng kresek belanjaan dan tetep sambil ngintil mamah yang berpindah dari satu lapak ke lapak lainnya, jadi (mungkin) orang-orang tak merasa insecure. 

Salah satu lapak paling ramai yang saya temukan. Menjual berbagai bumbu masakan Padang. Agaknya, hidangan lebaran itu seirama dengan masakan padang yang riuh dengan bumbu kental dan gurih.

Pasar adalah wilayahnya perempuan? ya setidaknya begitulah yang rasakan ketika melihat si bapak ini. Dia cuma bisa bengong ngegendong anaknya nungguin si istri belanja. 

Dua penjaja di gang lapak daging sedang bersantai sementara pedagang lainnya sibuk mengurusi daging. Bromance

Lebaran adalah harinya kita memaklumi lemak daging, kolesterol dan manis-manis. Hihiy

Baru tau kalau untuk bikin opor cuma butuh bumbu sekecil-kecil ini. Bener nggak sih? kayaknya salah. 

Salah satu fenomena setelah motor merajalela: banyak orang yang entah karena buru-buru atau malas, ogah lepas helm walaupun dia udah nggak di motor.

aduk-aduk kolang-kaling. Bukan kolang-kaling bambunya Doraemon yah. 

Mencatat apa-apa yang perlu dibelanjakan itu memang perlu sih. Jadi pas di pasar tuh fokus. Nggak kayak si mamah yang ngider-ngider mulu. Karena saat di pasar masih sedikit bingung mau beli apa, jadi apa pun yang dikiranya perlu dibeli ya dimampirin deh. Jadi banyak belanjaannya. 
Sedikit cerita tentang #Pencermat. Ini adalah program yang digagas demi mengembalikan semangat menulis di blog lagi. Karena berbagai alasan super klise imbas keseharian, saya, LodraAndraTito dan Dimas punya keresahan yang sama: kami jadi jarang nulis dan merasa butuh kembali rutin menulis. Alasannya beragam: biar nggak tumpul, agar bisa ‘hidup’, memenuhi hasrat berbagi dan tentunya, mengalahkan rasa malas.
Satu kali dalam seminggu, kami berkomitmen untuk menulis dan memublisnya di blog masing-masing. Jika ada yang telat atau absen menulis, maka ia wajib mentraktir kami makan. Hehe. Karena kami memilih Jumat sebagai hari terbitnya tulisan, maka program ini pun kami beri nama Pencermat, yang merupakan kependekan dari pencerita Jumat.

Mata Eropa si Fotografer Pribumi Pertama

Tak butuh waktu lama untuk fotografi datang ke Indonesia. Tak lebih dari dua tahun setelah dipatenkan, Daguerretype—kamera pertama yang diciptakan oleh seorang Perancis, Louis Daguerre—datang ke Indonesia. Seorang Belanda bernama Jurrian Munich-lah yang membawa kamera pertama kali ke tanah Jawa. Saat itu adalah tahun 1840 ketika Munich ditugaskan untuk melakukan pemotretan flora dan peninggalan bersejarah di Hindia Belanda

 

Namun, baru setelah dua puluh tahun sejak kedatangannya, kamera baru benar-benar dioperasikan oleh pribumi, yaitu oleh Kassian Cephas, nama yang pastinya sudah kita banyak kenal sebagai fotografer pribumi pertama. Kassian berusia 20an tahun ketika itu. Sebagai salah satu pekerja di kesultanan ia berkesempatan untuk berlatih fotografi kepada jurufoto pemerintah Hindia Belanda yang ditugaskan di kesultanan Yogyakarta, Simon Willem Camerik.

 

Tak ada catatan pasti kapan Kassian pertama kali berlatih fotografi, tapi jika dilihat dari waktu tinggal Simon di Yogyakarta, maka Kassian mulai menggeluti fotografi pada kisaran 1861-1871.

Continue reading Mata Eropa si Fotografer Pribumi Pertama

#4 Transkrip Wawancara RU Images dan Yudhi Soerjoatmojo

Saya mengenal Yudhi Soerjoatmojo pertama kali yaitu saat mengerjakan skripsi, awal 2011 lalu, saya menemukan artikelnya tentang sejarah perkembangan fotografi di Indonesia dengan tajuk  The Challenge of Space: Photography in Indonesia 1841-1999. Tak disangka, tak lama setelah lulus, sekitar Oktober 2011, Yudhi yang konon sudah lama nggak muncul di dunia fotografi hadir sebagai pembicara di acara gelaran National Geographic. Saya pun menghadirinya. Kalau tak salah ingat, Yudhi berbicara tentang bagaimana fotografi bisa membawa perubahan.  
Menariknya, ternyata setelah sesi seminar selesai Yudhi diwawancara oleh RU Images, kemudian video wawancaranya diunggah di situsnya. Pewawancaranya adalah Rony Zakaria dan Okky Ardya. Saya suka wawancara itu. Pertanyaan dari pewancara begitu matang dan kontekstual. Omongan Yudhi terdengar santai tapi tegas. Bahan pembicaraannya juga banyak sekali, pertanyaan yang singkat pun dijawabnya dengan cerita panjang.  Bayangkan saja, wawancara 20 menititu  ketika saya ketik menjadi tulisan sepanjang tujuh halaman. Tak heran, Yudhi memang pelaku fotografi yang sudah sejak lama giat mengamati (secara kritis) fotografi di Indonesia. Karena saya suka dan butuh wawancara ini, maka saya pun terdorong untuk membuatkan transkripnya. Agar bisa lebih mudah dan lebih cermat disimak. 
Seluruh pernyataan Yudhi penting adanya. Ia berbicara tentang Galeri Fotografi Jurnalistik Antara yang dibangunnya, perkembangan foto jurnalistik, dan yang paling saya suka, tentang pencapaian yang sudah diraih fotografi Indonesia dan tentang apa yang dibutuhkan oleh ekosistem fotografi di sini. 
Transkrip yang saya buat di sini memang jauh dari sempurna. Ada sedikit bagian yang tidak saya catat dengan baik, bahkan ada yang saya tidak tahu. Tapi saya berusaha sebaik mungkin dalam membuatnya. Oia, demi memudahkan, saya melakukan penyesuaian dialog lisan menjadi dialog tulis. Kalau menemukan kejanggalan dan kesalahan, tolong kabari saya yah. 
Nah, sebelum kita baca tulisan ini, mari kita ucapkan terima kasih kepada tim RUImages yang sudah melakukan semua ini. 
Bersama Oscar Motuloh Anda terlibat menjadi tulang punggung Galeri Foto Jurnalistik Antara pada awal-awal pendiriannya pada tahun 90-an. Apa tantangan mengelola sebuah galeri foto di Indonesia saat itu?

Galeri foto jurnalistik Antara merupakan galeri jurnalistik pertama di Indonesia. Tantangannya banyak sekali. Pertama-tama adalah tidak adanya role model bagaimana galeri itu beroperasi dan berfungsi. Seluruhnya—konsep dll.—harus kita bangun dari nol. Selain itu juga bahwa galeri-galeri yang ada saat itu banyak sekali galeri yang bersifat komersial: menjual lukisan—umumnya sih lukisan yah, bahkan patung saat itu masih sangat sedikit sekali dijual: Patung, instalasi. Jadi kami tidak bisa beroperasi seperti mereka. Kami mandatnya adalah nonprofit jadi harus menciptakan cara untuk menciptakan audiens, menciptakan komunitas, menciptakan program. 

Dan kendala-kendala lainnya adalah dari sisi pendanaan. Karena dalam hal ini LKBN Antara sudah memberikan fasilitas galerinya termasuk menyediakan gaji saya dan tim tapi tidak ada dana khusus untuk membuat program. Jadi tantangannya adalah bagaimana membuat program yang akan menarik komunitas sementara kami tidak punya uang untuk membuat program. Itu benar-benar jadi tantangan yang besar. Kami  terletak di daerah yang historis dan indah (Pasar Baru, Jakarta) tetapi bukan kawasan yang anak-anak muda akan main, misalnya, akan biasa main ke sana. Jadi cukup banyak tantangan. 
Selama menjadi kurator di Galeri Foto Jurnalistik Antara, pameran apa yang paling berkesan? 

Saya sekitar lima tahun di Antara, (dari) Januari 1994 saya keluar Desember 1999. Setiap tahun kita rata-rata bikin sepuluh pameran. Mana yang paling impresi? yang paling mendebarkan tentunya yang pertama. Tapi yang paling impresif semuanya, saya rasa semua menarik. Semuanya menantang, semuanya berbeda. Karena ketika saya menjadi kurator, galeri ini, Galeri Foto Jurnalistik Antara, harus mejadi lembaga yang berbeda dari media cetak. Walau pun namanya Galeri foto jurnalistik, tidak semestinya dia sekedar memamerkan karya-karya dari teman-teman di media cetak. Pertama, karena teman-teman itu sudah punya wadah, (yaitu) medianya. 
Kedua, sebetulnya—ya ini memang tipikal saya—selalu bertanya memangnya galeri foto jurnalistik itu adalah foto eksklusif atau foto jurnalistik itu bisa luas, bisa mencakup sesuatu yang lebih inklusif dan tidak eksklusif. Jadi selama saya enam tahun di sana, ada karya-karya yang bahkan fotografer berbakat selama ini tidak dianggap sebagai foto jurnalis. Dan setelah itu tidak dianggap sebagai foto jurnalis tapi orang bisa menganggap kalau apa yang dia buat itu sebetulnya bisa dianggap sebagai karya fotografi jurnalistik. Salah satu contohnya adalah ketika kami memamerkan di tahun 2004 kami memamerkan karyanya fotografer Roy Genggam, fotografer iklan, komersial berdampingan dengan karya almarhum Donny Metri yang adalah foto jurnalis di majalah Tempo pada saat itu. Donny Metri membuat, memamerkan karya-karya tentang penyelamatan orangutan di Kalimantan Selatan, yang merupakan bagian dari  assingment-nya waktu masih di majalah Tempo ketika saya masih menjadi redaktur foto, tapi (fotonya) dikembangkan lagi. 
Sementara Roy Genggam membuat foto tentang gajah, tapi semua gajahnya itu mainan, patung, dll. Yang diset di studionya dengan lampu pencahayaan yang bagus. Tapi saya melihat semangat Donny dan Roy itu sama. Mereka sama-sama peduli dengan nasib satwa liar kita. Cuma kalau Roy Genggam melakukannya dengan pendekatan dan teknik dari fotografi komersial, Donny  menggunakan pendekatan fotografi pers. Yang satu (fotonya) berwarna yang satu hitam putih. Yang satu pergi ke lapangan  yang satu studio. Tapi esensinya sama. 
Apakah sering terjadi perdebatan atau kontroversi dalam kebijakan kuratorial pameran selama berada di Galeri Foto Jurnalistik Antara? 

Oh sering. Itu menjadi bagian dan konsekuensi dari kebijakan kuratorial saya. Pada saat saya masih menjadi kurator di Galeri Antara saya memang mempunyai kebijakan, keterbukaan, sikap kritis terhadap foto jurnalistik itu sendiri. Mempertanyakan apa sih foto jurnalistik. Esensinya, loh, bukan bentuknya. Jadi jangan kita ikut, terhanyut oleh bentuknya. “Fotografi (jurnalistik) tuh yang begini… yang di koran.” loh yang di media saja banyak bentuknya bagaimana kita bisa menyatakan yang ini iya yang itu tidak. Karena dulu saja saat saya mulai—ketika generasi saya lagi asik dengan foto esai—banyak yang menentang itu. “Kok fotonya begini sih, ya kan maunya seperti yang ini dong. Harus berwarna pula.” Tapi kita maunya hitam putih kok, dan ada alasannya kenapa hitam putih. Jadi, itu saja jadi perdebatan. 
Pada saat saya berada di Galeri Antara saya bilang: ini adalah ruang tiga dimensi, media cetak adalah ruang dua dimensi. Di ruang tiga dimensi ini tidak bisa dari yang ruang dua dimensi main dipindahkan saja. Harus ada yang lain, dimensi ketiganya apa, harus ada dialog, ada keterbukaan, bahkan kalau perlu fotografinya sendiri di pamerkan secara tiga dimensi karena bukan di koran atau majalah. Bisa dalam bentuk instalasi. Dan pada tahun-tahun 1997 mulai muncul karya-karya seperti itu. Mulai ada keberanian untuk bikin karya kolase, karya montase, instalasi dll. yang menciptakan perdebatan luar biasa antara saya dan saudara Erik Prasetya pada saat itu. Dan menurut saya perdebatan itu cukup seru dan menarik. 
Banyak festival fotografi bermunculan di Asia, seperti di Kamboja, China, Singapura dan Bangladesh. Seberapa perlukah sebuah festival foto untuk perkembanan fotografi di suatu negara? 

Festival seperti itu kan, festival apa pun termasuk fotografi, itu sangat penting. Karena itu memberikan kesempatan bagi satu kota, bukan hanya satu galeri atau bukan satu komunitas tertentu, tapi satu kota, untuk bisa menikmati. Problem terbesar dalam dunia kesenian kita bukan hanya di fotografi, bahwa yang datang ke ruang-ruang seni adalah orang-orang yang mengerti seni tertarik pada seni, masyarakat pada umumnya jarang sekali melihat seni. Walaupun ada upaya  untuk menaruh pameran foto di mal, misalnya, seberapa tertarik sih orang-orang. Paling lihat-lihat, satu dua orang tertarik tapi selebihnya “Saya ke sini bukan untuk ini kok, saya mau mau belanja, saya buru-buru takut salesnya habis.” segala macam lah, kira-kira seperti itu. Jadi sulit memang. 
Kebetulan saya pernah tinggal di Paris. Paris punya bulan foto, sangat menarik. bulan foto itu membuat atau mendorong masyarakat umum bukan hanya untuk melihat foto tetapi juga untuk berkeliling kota. Karena, saya pernah melihat pameran foto Sebastian Salgado di sebuah perpustakaan. Kalau tidak ada pameran itu saya nggak akan datang ke situ. Saya melihat karyanya satu fotografer yang lain di sebuah galeri yang kecil yang saya belum pernah dengar sebelumnya. Jadi, journey-nya. Perjalanan fisik ke sana kemari. Naik bus, naik metro, itu saja sudah mendebarkan. Apalagi ketika “ah ketemu galerinya,” “oh di situ toh galerinya” “Oh ini karyanya”. Itu penting menurut saya. Bukan hanya untuk fotografinya tetapi untuk kotanya. 
Dalam esai anda The Challenge of Space: Photography in Indonesia, 1841-1999, disebutkan bahwa diperlukan fotografer-fotografer yang terdidik secara formal sebagai salah satu fondasi fotografi Indonesia. Apakah hal itu sudah tercapai? 

Sebagian. Artinya, lahirnya generasi baru di dunia fotografi itu sudah terjadi sejak galeri antara mempunya program workshop. Sejak IKJ membuka jurusan fotografi, sejak ISI membuka jurusan Fotografi. Artinya, dulu untuk menjadi fotografer itu nggak ada sekolahnya, nggak ada trainingnya. Either kamu berbakat dari sananya, kemudian punya keberuntungan bisa mendapat peminjam kamera kemudian beruntung bisa latihan dan bertemu orang di media atau orang mengatakan “eh fotomu bagus, join yuk di perusahaanku.” Akan sangat susah masuk menjadi fotografer professional. Dan dari satu generasi ke generasi berikutnya itu jauh sekali. Dari almarhum Kartono Ryadi yang dulu jadi pentolannya di Kompas ke generasinya Julian Sihombing itu memakan waktu 25 tahun. Itu di tengah-tengahnya masih ada fotografer lain. Tapi yang kalau kita bicara mereka yang menonjol itu 25 tahun. Dari generasi Julian Sihombing ke Edi Hasbi sudah lebih dekat. 5-10 tahun tapi masih cukup lama. Ketika Galeri Antara itu muncul, IKJ muncul, ISI muncul, setiap tahun ada generasi baru, tentu tidak semuanya “jadi”. Minimal dari orang yang ikut pendidikan itu 10, 20 orang akan menjadi fotografer. Dan itu sekarang sekarang semakin cepat. Apalagi dengan kemudahan mendapatkan kamera. Tapi secara pendidikan setiap tahun Galeri Antara minimal menghasilkan 20 lulusan, IKJ 15-20 lulusan demikian pula dengan ISI. 
Selain fotografer yang kompeten dan berkualitas apakah kualitas seorang editor foto juga sama pentingnya dalam perkembangan fotografi kita? 

Pertama, banyak media yang tidak mempunyai editor foto. Kedua, tidak selalu editor foto yang ada pada saat itu adalah orang-orang yang pernah bekerja sebagai fotografer atau menyukai fotografi. Hanya bahwa dia lebih senior, atau yang terjadi di media–saya tidak tahu sekarang apakah situasinya kurang lebih sama—banyak yang berasal dari wartawan tulis. Kenapa? Karena wartawan tulis—jaman dulu, sekarang saya tidak tahu—dianggap lebih cerdas, lebih prestius, lebih pintar, lebih tahu, dibanding wartawan foto. Minimal itu pada zaman saya itu yang kami hadapi. Lucunya, ketika saya menjadi redaktur di Tempo—saya di Tempo tidak menjadi fotografer walaupun saya memotret, saya di Tempo itu memulai karier saya itu sebagai reporter, penulis, tapi karena saya bisa motret dan saya mengerti foto dan sebelumnya saya bekerja sebagai fotografer ya mereka kemudian merekrut saya ketika redaktur fotonya pindah ke tempat lain—lucunya, ada beberapa redaktur (redaktur tulis) lain yang mengatakan “ya ini kan menjadi redaktur foto karena dia wartawan tulis”
Apa yang harus dipunyai seorang editor foto?

Redaktur foto harus mengerti fotografi, dia tidak harus menjadi fotografer yang hebat. Tapi ia harus mengerti fotografi, dia harus mengerti yang khas dari fotografi, fotografi adalah bahasa tersendiri dari bahasa tulis, ada hal-hal tertentu yang kita harus pahami. Memahami bahasa fotografi itu tidak mentang-mentang anda mengerti bahasa tulis anda bisa mengerti bahasa fotografi. Itu sesuatu yang lain lagi. Seperti yang tadi saya katakan, fotografi itu dua dimensi, di sisi jurnalistik tulis, anda bisa mengatakan harus memenuhi prinsip 5W 1H. Tapi bisakah foto jurnalistik memenuhi prinsip 5 W 1 H, tidak akan pernah. Tidak pernah suatu foto pun yang menggambarkan tentang SBY pun tidak akan pernah anda bisa memenuhi prinsip 5W 1H. Anda bisa mengatakan “Oh ini SBY.” itu kalau anda orang Indonesia dan and baca berita dan anda tidak buta huruf, ya kalau ada orang Afrika atau Amerika yang bahkan tidak tahu Indonesia itu di mana, bagaimana bisa mengatakan kalau itu adalah SBY, atau itu adalah Susilo Bambang Yudhoyono, presiden Indonesia. Tidak mungkin, kecuali Anda menulis di bawahnya, “Presiden RI SBY sedang memberikan intruksi tentang Gayus atau segala macam,” harus ada tulisannya kan. Dan karena itulah kadang-kadang wartawan menganggap remeh pada fotografi. Nah, seorang redaktur foto yang baik harus memahami kelemahan itu. Pertama-tama dia harus bukan mengatakan bahwa fotografi itu satu karya seribu kata. Itu yang menurut saya membuat persoalan menjadi runyam. Karena ada tuntutan. “Fotolu mesti bicara doong! Katanya satu foto itu seribu kata.” Eh siapa bilang. Menurut saya redaktur foto yang baik adalah harus bisa memahami kekurangan dan kelemahan fotografi itu sendiri. Dari situlah baru dia berpikir bagaimana dia bisa membuat ini jadi lebih berbicara. Dengan cara apa, dengan pendekatan apa. Apakah ini persoalan teknis, komposisi, konten atau apa pun. 
Selain itu yang dibutuhkan oleh dunia fotografi adalah lebih banyak adanya kritikus fotografi. Kita tidak punya penulis fotografi. Saya sudah lama tidak nulis, begitu saya tidak nulis siapa yang menulis, nggak ada juga yang nulis. Dulu saya rajin nulis, lalu saya kira sudah cukup waktunya tidak perlu menulis. Siapa sih yang menulis, kalau tidak Firman Ichsan, Oscar Motuloh, Seno Gumira kadang-kadang kalau dia lagi ada waktu atau lagi tertarik sama fotografi. Dan yang kredibel yah maksudnya. Mereka yang saya sebut kalau mereka menulis memang ada argumentasinya mereka memang membaca mereka tahu sendiri dunianya. Tapi yang lain-lain, ya banyak yang asal-asalan, banyak yang plagiat pula. 
Jadi peran kritikus fotografi sangat dibutuhkan? 

Perlu sih perlu. persoalannya adalah seberapa penting sih masyarakat melihat, menganggap fotografi. Perlu sebagai apa? sebagai barang seni, barang informasi, hiburan atau apa pun. Sebenarnya itu yang perlu dipertanyakan. Fotografi itu bisa menjadi apa saja sih sebetulnya. “oh saya perlu fotografi karena saya butuh bikin foto untuk passport.”. Tapi itu butuhnya satu kali lima tahun dan itu fotonya gitu saja, tidak perlu diapa-apain. “Saya butuh karena saya pingin tahu letusan gunung berapi di Jogja seperti apa, Jogja jadi seperti apa.” Itu sebagai informasi “saya butuh foto pacar saya, istri saya, atau anak saya.” Itu jadi bagian dari memori “Saya butuh karena saya suka karyanya August Sander atau Ansel Adam, Eugene Smith, Cartier Bresson, saya ingin memilikinya karena saya mengapresiasi itu.” Itu yang belum ada. Yang lain-lainnya sih udah ada: sebagai souvenir, kenang-kenangan, kebutuhan administrasi, kebutuhan informasi, itu sudah ada. Yang belum ada adalah sebagai karya seni. Ada beberapa seniman atau fotografer Indonesia yang karyanya sekarang mulai dibeli, mulai dikoleksi, tapi jumlahnya masih sedikit. Jumlah kolektor foto masih sedikit, saya belum tahu persis jumlahnya, tapi tampaknya masih terlalu sedikit. Dan cenderung ke karya fotografi yang artistik, tapi karya-karya jurnalistik seperti Oscar pun belum benar-benar dikoleksi oleh kolektor dalam jumlah yang cukup signifikan. Dan menurut saya itu adalah antara lain peran galeri-galeri, seperti Antara, yang mesti mendorong ke arah sana. Karena dari sisi—sori rada mengkritik—dari pembangunan wacana saya rasa sudah cukup. Wacana dalam arti fotografi itu penting bisa merubah dunia dan segala macam. Yang dibutuhkan adalah level berikutnya bisa nggak sih orang menghargai itu, tidak sekedar datang menghadiri pameran dan memuji tetapi “Aku ingin memilikinya, aku ingin menghargainya, saya menganggap ini sebagai investasi, saya yakin bahwa karyanya Oscar Motuloh sepuluh tahun kemudian itu akan berkali-kali lipat nilainya” itu yang dibutuhkan.
Apakah fotografer Indonesia yang berkarakter dalam karyanya? 
Ada satu dua fotografer yang punya karakter tetapi justru tidak tempat. Salah satunya adalah yang sekarang saya tidak yakin dia masih motret atau tidak: Muhamad Iqbal. Tapi menurut saya di tahun-tahun terakhir sebelum dia menghilang dia menghasilkan  beberapa karya foto yang menurut saya berkarakter dan tadinya ada harapan dari saya bahwa bukan orang yang akan mengikuti gayanya tetapi orang kemudian akan berpikir “Ternyata bisa begitu yah, berarti saya bisa membuat karya saya seperti itu dong.” Nah menurut saya itu yang hilang. Sempat terpercik terus hilang. Saya beberapa kali berbicara dengan Muhamad Iqbal bahwa betapa frustasinya dia di lingkungan fotografernya karena dia merasa tidak diterima dengan karya-karya yang dia buat. 
Jadi ruang yang tersedia masih kurang untuk fotografer? 
Kurang. Kurang banyak sekarang kalau kita bicara tentang galeri yang galeri fotografi tinggal Galeri Antara yang survive. Oktagon masih ada, tapi galerinya sudah tidak beroperasi lagi setahu saya. Saya sudah lama sekali tidak terima undangan. Kemudian galerinya punyanya Deniek Sukarya juga sudah tidak ada. Saya sendiri juga galeri I See juga sudah tidak beroperasi. Jadi satu-satunya yang bertahan hidup, sustain adalah Galeri Antara. Dan itu sangat disayangkan. Sebetulnya sih itu tidak masalah seandainya museum dan galeri lain itu juga mengundang dan memamerkan dan bahkan kalau perlu, kalau seperti di Amerika dan Eropa, mereka membeli karya fotografi itu. Bahkan ketika kita melihat praktek seperti di … ketika museum membeli karya seniman, entah itu fotografer atau bukan, maka seniman itu mendapatkan stamp of approval dan itu jadi membuat namanya dan harganya juga jadi naik. Di Indonesia kan belum terjadi seperti itu. Kurang di situ, kurang juga di kritikus, dan juga kurang di kurator. Karena kalau kita ngomong kurator fotografi juga tidak ada ya paling itu-itu lagi. Firman Ichsan, Oscar, saya nggak tahu siapa lagi yang bisa saya anggap sebagai kurator.

Jadi kuncinya adalah menghasilkan orang-orang dalam lingkup fotografi diluar fotografer itu sendiri seperti contohnya kurator?
Bisa tapi persoalannya kan bukan sekedar mengeluarkan output yang memproduksi, orang-orang baru, apakah fotografer atau kurator, tapi seluruh ekosistemnya harus ada. Ekosistemnya ya itu tadi, harus ada consumer, pembeli, kolektor, harus ada wadah galeri, berarti harus ada yang mendanai galeri itu. Harus ada komunitasnya. Harus ada cukup banyak ragam jenis kerjaan, sehingga fotografer itu nggak hanya bertumpu pada satu tapi bisa hidup dari yang lain-lain. Jadi misalya, dia seorang footgrafer jurnalistik, dia menerima assignment dan segala macam tapi dia juga menerima royaltinya misalkan dari foto-fotonya yang dimuat. Kemudian dia bisa hidup karena diundang oleh sebuah museum atau koleksinya dibeli oleh museum, jadi sumber penghasilannya nggak cuma satu tapi ada dua, tiga atau empat. Kemudian ada penerbit yang mengatakan “Ini aku mau menerbitkan bukumu, royaltinya sekian, bukumu dijual sekian.” ada beberapa sumber yang diandalkan sebagai nafkah. Sekarang ini kan tidak. 
Sekarang anda lebih berkutat dengan industry kreatif dan tidak spesifik pada fotografi lagi. Mengapa?
Saya merasa bahwa persoalannya kita hanya berkutat pada sekitar  bahwa kita harus menghasilkan lebih banyak fotografer baru, harus mendorong orang itu lebih kreatif lagi, saya soalnya udah nggak di situ. Masalah adalah persoalan tadi itu loh: konsumennya mana. Dan ekosistem yang akan membantu si pencipta ini ketemu dengan pembelinya itu mana. Makanya saya jadi sangat tertarik dengan kreatif. Lima tahun terakhir saya lebih sering berkutat di isu seputar industri kreatif. Jadi nggak spesifik di bidang fotografi, ya di musik bisa. Tapi bukan berarti saya mendalami musik tapi lebih pada bagaimana sih indusitrinya, bagaiman kendalanya, apa sih tantangan dan kesempatan-kesempatannya. Kebijkan-kebijakan apa aja sih yang seharusnya ada tapi tidak ada. Siapa saja entrepreneur yang sudah melakukan itu tapi tidak dihargai dan tidak dijustifikasi. Jadi bagi saya persoalannya sudah bukan lagi sekedar menghasilkan generasi fotografi baru. Mendorong untuk jadi kreatif lagi, itu sudah berjalan. 
Apa yang anda bisa katakan untuk para pelaku dan pecinta fotografi di Indonesia? 
Coba melihat di luar duniamu. Coba melihat di luar hal-hal yang teknis. Fotografi, komposisi, dan segala macam. Coba lihat ke yang lebih real, bukan lebih real, tapi coba melihat persoalan ini dengan keluar dari kotak  dan melihat lebih luas dan pahamilah bahwa sekedar punya talent, skill, sekedar bisa bikin foto bagus tidak akan membuat anda sukses sebagai fotografer. Harus ada komponen-komponen lain gitu, lho. Dan kalau memang ada punya bakat di bidang itu, menjadi entrepreneur, kurator, kritikus, art dealer, maka jadilah. Jangan terpaku untuk menjadi fotografernya. Karena sudah banyak fotografer yang kita butuhkan adalah enterpreneur-nya, kurator, kritikus, pemilik galeri, orang yang bisa menggerakkan konsumer untuk mulai menghargai fotografi di luar wacana tapi juga dengan uangnya untuk menghargai itu. 
Saya tidak mengatakan semua-muanya diselesaikan dengan uang tapi ya bandingkanlah dengan seni lukis. Jelas, walau ada kontroversi bahwa harganya digoreng-goreng tapi tetap jelas mereka bisa hidup dari menjual lukisan. Di fotografi itu masih problem. Dan kalau saya bicara membeli karya fotografi itu bukan berarti membeli karya yang harganya satu milyar, bukan, bahkan membeli small print 8×10 cm. Mulai dari koleksi kecil-kecilan, harganya mungkin cuma satu juta atau satu juta setengah udah dapet karyanya Oscar Motuloh tapi 8 x 10 cm. Atau karyanya Erik Prasetya atau siapa. Itu udah bagus. Tapi juga tidak cukup kan membeli itu. Itu harus tetap dibangun, momentum itu harus tetap dibangung, ini karyanya Erik yang 1,5 juta harganya sekarang 10 tahun lagi harganya 10 juta . 
***
Jangan lupa mampir ke RU Images juga yah. Banyak artikel dan wawancara dengan fotografer lainnya yang perlu banget kita simak. Siapa tahu juga dengan kita banyak mampir ke RU Images, mereka jadi pengin aktif lagi. hehe. 

Workshop Fotografi Jakarta 32c: Lupakan Kamera Sejenak, Mari Kita Berwacana

*menulis laporan Workshop Fotografi Jakarta 32 c atas nama Ruangrupa untuk Whiteboard Journal. Diterjemahkan ke bahasa inggris oleh Dwiputri Pertiwi dan dipublish di Whiteboardjournal.com pada 21 September 2012

Apa jadinya kalau sebuah workshop fotografi tidak menghadirkan kamera sama sekali di tiap pertemuannya. Hal itulah yang terjadi di Workshop Fotografi Jakarta 32c garapan Ruangrupa. Workshop yang mengambil tempat di markas Ruangrupa, Tebet, Jakarta ini justru mengesampingkan mentah-mentah urusan teknis fotografi dan fokus ke hal penting lainnya yang terjadi dari kegiatan fotografi: menciptakan citra visual atas sebuah isu, membingkai realita menjadi sebuah wacana.

Ya, workshop yang digelar dalam delapan kali pertemuan pada periode 27 Juli – 13 Agustus 2012 ini dipenuhi oleh sesi diskusi berbagi gagasan tentang bagaimana tiap peserta akan menciptakan citra baru atas isu yang dipilihnya. Karena pada Jakarta 32 c kelima ini yang menjadi tema adalah ‘Lowongan”, maka workshop fotografi memilih untuk menyoroti masalah ‘pekerjaan’ yang ada di kota Jakarta. Ultra Vocation, begitulah The Secret Agents, duo seniman Indra Ameng – Keke Tumbuan selaku mentor memberi tajuk dari workshop fotografi ini.

“Partisipan akan diajak untuk bermain-bermain dengan kemampuan medium fotografi dalam memproduksi citraan yang berkaitan dengan pekerjaan masyarakat kota di masa depan,” tulis The Secret Agents dalam tulisan pengantar workshop.
Total tujuh peserta aktif yang mengikuti workshop ini. Mereka adalah mahasiswa terpilih yang berasal dari berbagai kampus berbeda, seperti Universitas Mercubuana, Institut Kesenian Jakarta, Universitas Bina Nusantara dan Universitas Negeri Jakarta.
Lantas, karena lewat workshop ini para peserta akan menghasilkan karya, maka sejak pertemuan awal pun mereka  sudah mulai diarahkan untuk memilih jenis pekerjaan yang akan dikaryakan kemudian di pertemuan-pertemuan tersebut mereka berdiskusi bertukar gagasan dan mematangkan konsep.
Setidaknya, delapan pertemuan itu terbagi menjadi dua sesi. Pertama, sesi latihan di pertemuan pertama hingga ketiga. Mentor mengajak peserta untuk mendeskripsikan suatu profesi berdasarkan objek-objek  visual yang dapat merepresentasikannya. Lalu, guna melatih serta memperkaya referensivisual, tiap peserta diminta mengumpulkan foto-foto  dari media massa untuk disatukan menjadi sebuah foto berseri. Lewat proses tersebut peserta pun belajar untuk mengkurasi karya, sebuah proses penting sebelum akhirnya mereka mengkurasi karya mereka sendiri.
Sesi kedua ialah pembicaraan konsep dan teknis pembuatan karya akhir. Sejak pertemuan keempat, workshop selalu riuh dengan gagasan-gagasan yang seru tentang calon karya tiap peserta. Perubahan-perubahan konsep pun tak bisa terelakkan seiring diskusi dan riset lapangan silih berganti berlangsung. Valdomisalnya, di sesi awal ia tertarik mengulas profesi guru, namun kemudian beralih mengangkat stigma masyarakat tentang profesi Sales Promotion Girls. Lewat karyanya nanti, Valdo ingin menciptkan citra baru, yang positif, dari seorang SPG.
Gagasan konsep yang ditawarkan oleh Vini dari universitas Bina Nusantara juga tak kalah menarik. Ia ingin mengkritisi fenomena munculnya orang yang tiba-tiba menjadi motivator bermodal kata-kata bijak serta penampilan yang rapih dan berwibawa.
Posisi dua mentor pada workshop ini pun menarik untuk disoroti. Pasalnya, alih-alih menghujani para peserta dengan materi-materi dan pemahaman, Ameng dan Keke justru terasa lebih sebagai pendamping yang memoderasi.Dengan sangat baik, mereka merangsang tiap peserta untuk berekspresi dan berwacana. Apa yang mentor lakukan adalah memberi suplemen ide guna memperlancar proses tersebut.
Lalu, di setelah pertemuan ketujuh pada 13 Agustus 2012, peserta pun sudah mulai mengeksekusi karyanya masing-masing dengan terus didampingi oleh mentor.
Melihat betapa serunya prosesi adu gagasan dan konsep pembuatan karya selama workshop, rasanya akan sangat menarik untuk menyimak hasil akhir karya para peserta. Selain SPG dan motivator, kita juga akan disuguhkan penampilan freelancer, kuli bangunan, tukang sol sepatu, ahli gigi, dan odong-odong dalam      Serentak, mereka akan dipamerkan di Galeri Nasional pada 22 September-8 oktober 2012. Mari kita saksikan!

Rizki  Ramadan

Ketika Penderitaan Menjadi Objek Wisata Pehobi Fotografi

Seorang ibu dan anak yang masih balita sedang terduduk di trotoar dengan pakaian yang lusuh tanpa alas kaki. Botol susu dan sebuah tas ada di sekitarnya.  Si anak terlihat sedang asik dengan benda yang dipegangnya, sepertinya sebuah plastik. Ia maju ke tepi trotoar menjauh dari jangkauan ibunya. Sementara sang Ibu mencoba meraihnya. Dalam foto yang berlatar waktu malam ini trotoar ditempati di kanan, mengisi setengah komposisi. Di luar trotoar adalah jalan raya. Terlihat beberapa pasang kaki wanita berjalan di jalan. Juga seorang pengendara motor yang sedang menepi. Mereka berpakaian rapih. Kontras dengan keadaan si Ibu dan anak yang menyedihkan.
Kira-kira begitulah keadaan perkotaan yang dibingkai oleh Prasetyo Utomo dalam fotonya yang diberi judul “Sabar ya nak, sebentar lagi kita dapet duit kok..”.  Sebuah representasi kemiskinan di perkotaan. Foto ini saya temukan di halaman depan situs Fotografer.net, sebuah forum fotografi  yang terbesar di Asia Tenggara. Terpampang di kolom Foto Pilihan Editor hari itu, 27 Juni 2011. Melihat foto ini, saya jadi bertanya-tanya. Mengapa banyak sekali bertebaran foto-foto yang menampilkan kemiskinan, keterpinggiran serta penderitaan manusia? Apakah benar foto dapat membantu mereka yang dipotret? Apakah benar kita bersimpati dengannya? Atau malah sekedar menjadikannya selayaknya objek wisata yang menarik untuk dibagi.

Hobi fotografi ala Fotografer.net

Perkembangan fotografi di Indonesia sangatlah dinamis. Fotografi bukan lagi milik para professional saja. Animo masyarakat meningkat seiring perusahaan kamera besar dunia berlomba-lomba menciptakan inovasi untuk menjadikan kamera bisa digunakan siapa pun dengan cara yang menyenangkan. Alhasil, hobi fotografi pun mulai menjamur di mana-mana. Beriringan dengan itu, komunitas-komunitas fotografi online pun berkembang.
Salah satu komunitas yang cukup fenomenal adalah situs Fotografer.net (FN). FN adalah forum fotografi online yang sudah berdiri sejak 30 Desember 2002. Setiap orang, dari berbagai kalangan dapat mendaftarkan diri menjadi anggota. Baik yang sebatas pehobi hingga yang professional. Hingga tulisan ini dibuat, jumlah anggotanya ialah 158506[i]. Tak ayal, jika FN didaulat sebagai forum fotografi terbesar se-Asia Tenggara.
FN menyediakan forum bagi para pegiat fotografi untuk saling berbagi. Forum diskusi, forum jual beli, dan pastinya galeri. Secara khusus, FN menyediakan galeri dimana para anggotanya bisa mengunggah karya fotografinya untuk kemudian dipamerkan dan diberi penilaian oleh anggota lainnya.
Sebagai forum yang besar tak ayal FN membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap fotografi di Indonesia. Sistem penilaian misalnya, menimbulkan tren di kalangan anggotanya untuk berlomba-lomba mendapatkan nilai tinggi. Administrator pun menyediakan kolom Foto Pilihan Editor. Tiap harinya ditampilkan enam foto yang terbaik pilihan editor. Walau pun sudah menjadi rahasia umum bahwa pemilihan Foto Pilihan Editor merupakan hasil perhitungan matematis yang  sudah terprogram, tetap saja hal ini menjadi sesuatu yang dikejar oleh para anggotanya.
Atas nama apresiasi
Situasi kompetisi ini sekilas memang ada baiknya, tiap orang termotivasi untuk terus meningkatkan kemampuan fotografinya. Namun celakanya justru motif perolehan atensi dan penilaian audiens ini yang lebih diutamakan. Tak jarang ada anggota yang memamerkan foto-foto yang sensasional dan atau dramatis agar mendapat banyak kunjungan. Foto-foto pada kategori manusia (human interest) misalnya, terlihat banyak sekali foto-foto yang menampilkan kemiskinan – entah itu pengemis, anak jalanan, pemulung, kehidupan di pemukiman kumuh – dan penderitaan, foto-foto bencana misalnya. Foto-foto itu memang membuat hati pemirsanya tersentuh. Foto milik Prasetyo Utomo ini adalah satu contohnya,  dan sialnya ini jadi foto pilihan editor.
Miris memang melihat situasi dalam foto itu. Sebuah kontradiksi antara keadaan si ibu dan anak dengan orang-orang yang berlalu lalang di Jalanan. Ibu dan anak itu adalah manusia-manusia yang terpinggirkan. Mereka berada di lingkungan yang serba ada, serba mampu, serba modern. Terlihat jelas bagaimana kesenjangan antara orang-orang berada dengan keadaan ibu dan anak. Mereka, si miskin hanya bisa terpaku meminta belas kasihan, tidak berdaya, sementara orang-orang lain begitu acuh, terus berjalan tanpa menghiraukan.
Tapi apakah mereka benar-benar menderita. Apa jangan-jangan ini adalah hasil dramatisasi sebuah kenyataan. Sebuah cara untuk meraih perhatian massa dengan tampilan foto yang humanis dan (pura-pura) mengerti penderitaan.
Foto dapat dikatakan sebagai sebuah representasi dari realitas. Oleh karena itu, adalah salah jika menganggap apa yang terlihat di foto adalah realitas yang ‘seutuhnya’. Fotografer sangat berperan dalam merepresentasikan realitas. Proses membingkai realitas – memilah potongan ruang dan waktu mana yang akan ditampilkan – lalu proses editing hingga pemberian judul dan caption menjadi unsur-unsur yang ikut menciptakan realitas baru dalam foto. Dalam foto ini, saya melihat bahwa si fotografer  lah yang membuat ibu dan anak itu menjadi menderita. Apalagi dengan judulnya itu. menunjukkan seolah-olah mereka tidak berdaya, tidak bisa mendapatkan uang. Dan hanya bisa terduduk tanpa daya usaha di pinggir trotoar. Kontras dengan mereka yang berlalu lalang di jalanan: aktif dan dinamis.
Jika dilihat dari tampilan fisik si Ibu. Saya menerka ia masih berusia muda. Belum ada kerut di wajahnya. Apalagi jika benar bayi yang ada di dekatnya ialah anaknya, maka ia belum terlalu tua. (Apakah seorang tua masih terpikir untuk memiliki anak? Sepertinya tidak). Jadi bisa diartikan bahwa si ibu itu sebenarnya masih mempunyai daya untuk bekerja yang layak. Bukan mengemis. Mengais rasa belas kasihan orang-orang yang berlalu lalang.
Lalu, bagaimana si fotografer bisa tahu kalau ibu itu sedang mencari uang di jalan seperti yang disebutkan dalam judul. Melihat keterangan pada foto, foto ini diambil dengan kecepatan rana 1/50 dan pada focal length 85mm. Saya tidak yakin dengan waktu sepersekian detik itu si fotografer bisa mengerti benar keadaan subjek dalam foto. Apalagi dengan focal length 85mm, berarti foto ini diambil dari jarak jauh. Tidak ada kedekatan dengan objek foto. Fotografer hanya ‘mencuri’ sepotong waktu lalu di’dandani’ kemudian.  Foto itu jadi terasa sangat dingin dan berjarak.
Kalau pun saya salah, dan ternyata si fotografer sudah melakukan pendekatan terhadap ibu dan anak itu – dengan mengobrol misalnya – tapi mengapa tidak diceritakan barang sedikit. Nama pun tidak ada. Di keterangan foto hanya ditulis keterangan teknis mengenai komposisi serta sapaan kepada para pengunjung foto tersebut.
Mengenai ibu dan anak dalam foto tersebut saya teringat berita-berita mengenai pengemis dan anak bayi. Para pengemis kerap menyewa anak kecil, biasanya balita, untuk diajak mengemis di jalan guna mendongkrak rasa belas kasihan orang-orang, sehingga lebih cepat dan mungkin lebih banyak memberikan uang[ii].
Saya melihat suatu komodifikasi bertingkat di sini. Si ibu dalam foto mengeksploitasi ketidakberdayaan bayi untuk menimbulkan rasa kasihan orang-orang yang lewat di depannya. Kemudian si fotografer menggunakan keadaan ibu dan anak itu untuk menimbulkan simpati para pengunjung forum, sehingga ia dipuji, diberi apresiasi dan bahkan foto ini menjadi foto pilihan editor. Sehingga foto ditampilkan di halaman depan selama sehari penuh. Pastinya hal ini menimbulkan kebanggaan bagi si fotografer. Menimbulkan rasa senang. Rasa senang akibat penderitaan orang.
Komodifikasi dapat diartikan sebagai suatu bentuk transformasi dari hubungan, yang awalnya terbebas dari hal-hal yang sifatnya diperdagangkan, menjadi hubungan yang sifatnya komersil[iii]. Dalam hal ini, kemiskinan menjadi sesuatu yang digunakan untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Entah itu yang bersifat materi atau pun yang psikologis, misalnya penghargaan, pengakuan atau reputasi.
Di negara yang sedang berkembang ini, dimana jurang pemisah antar kelas sosial begitu jelas terlihat, kemiskinan sepertinya sudah tidak ayal lagi jika dijadikan komoditas bagi beberapa pihak. Acara-acara reality show di televisi yang menampilkan kemiskinan, misalnya, tiba-tiba banyak bermunculan dan sialnya mendapat perhatian banyak pemirsa. Kemiskinan dikemas sedemikian rupa sehingga bisa menumbuhkan iba pemirsa sehingga rating meningkat. Si miskin dikerjai, diberi sejumlah uang lalu harus dihabiskan pada waktu tertentu. Si miskin dipaksa bertukar peran dengan keluarga kelas menengah ke atas, mencicipi kehidupan yang serba ada lengkap dengan gaya hidup yang serba modern. Kemiskinan menjadi objek kreasi media untuk dijadikan ladang uangnya.
Wisata ‘berburu’ derita
Tak lengkap rasanya jika berkumpul dengan sesama pegiat fotografi namun tidak pernah motret bareng. Untuk itu, acara-acara ‘hunting’ foto bersama pun kerap diselenggarakan oleh para anggota. Dari mulai motret model di studio atau di tempat-tempat khusus, motret keliling pemandangan hingga motret berkeliling kota. Sebagai salah satu anggota di forum ini sejak tahun 2007, tak jarang saya mengikuti acara tersebut, terutama sesi foto keliling kota.
Ternyata benar adanya, dari sekian banyak objek perkotaan, beberapa fotografer selalu tertarik untuk menghampiri pengemis atau anak jalanan untuk sekedar mengambil fotonya. Dari yang saya amati, mereka memang hanya menghabiskan waktu sebentar, secepat satu-dua frame diambil. Melihat kejadian ini saya jadi seperti sedang melihat orang yang tengah berwisata di kebun binatang, menghampiri binatang yang mereka suka lalu memotretnya, tanpa interaksi (karena tidak mungkin kita berinteraksi dengan binatang). Selain itu, istilah ‘hunting’ atau ‘berburu’ yang kerap digunakan lebih merujuk pada suatu pencarian, pengejaran, dan biasa dipakai jika binatang menjadi objeknya dan hutan menjadi tempatnya.
Pengemis atau pun pemulung sepertinya juga sudah terbiasa dengan tingkah para fotografer ini, bahkan di seputaran Kota Tua, Jakarta, ada sepasang suami-istri pemulung yang kerap menawarkan diri untuk difoto. Hal ini jelas menjadi berkah bagi para pehobi foto. Mereka tidak perlu repot-repot mencari, bahkan mereka bisa meminta kedua pemulung tersebut untuk berpose, sebagaimana memotret model di studio.
Tak hanya itu, bagi para pehobi foto, bencana ialah saat yang tepat untuk ‘berburu’ foto.  Saya pernah melihat kebakaran rumah tidak jauh dari tempat saya tinggal. Disana terlihat begitu banyak orang datang, berkerumunan, untuk menyaksikan kebakaran ini. Di antara orang-orang itu adalah beberapa anak muda, rata-rata gondrong, maju mendekat ke tempat api dan memotret. Ya, mereka memotret peristiwa kebakaran itu. Mereka memotret seperti sedang memotret sebuah festival. Begitu semangat.
Seorang kawan juga pernah mengajak saya pergi ke Jogja saat Gunung Merapi meletus. Selain untuk sekedar berjalan-jalan, alasan lain ia ingin ke sana adalah memotret situasi pasca bencana tersebut. Bencana adalah momen yang baik untuk memotret, mendapatkan foto yang humanis dan dramatis.
Foto bisa merubah keadaan?
Riset kecil-kecilan saya lakukan dengan mewawancarai beberapa fotografer yang memiliki foto bertema kemiskinan. Alasan mereka nyaris serupaa yaitu untuk memberi tahu publik, bahwa ada penderitaan di luar sana. Lebih jauh lagi mereka berharap bisa membangkitkan rasa kemanusiaan lalu mendorong orang untuk kemudian membantu penderitaan subjek yang di foto tersebut..
Susan Sontag dalam buku terakhirnya, Regarding the Pain of the Others memiliki kegelisahan yang sama. Ia menuliskan tentang foto-foto perang yang banyak tersebar di media massa. Awalnya, fotografi diharapkan bisa ikut menghentikan perang, dengan pendistribusian citra kekejaman perang kepada publik sehingga menyulut rasa kemanusiaan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, fotografi  (dalam media massa) justru menumpang hidup pada perang. “If it bleeds, it leads” begitulah ungkapan yang diberikan Sontag untuk fenomena ini[iv]. Fotografer berburu foto-foto peristwa berdarah yang tragis nan dramatis untuk bisa merebut perhatian massa. Untuk meningkatkan penjualan medianya.
Menghadapi penderitaan manusia memang membawa keadaan dilematis bagi fotografer, terutama pewarta foto. Di satu sisi, memotret peristiwa penuh derita itu diperlukan untuk kemudian diinformasikan kepada publik. Mengabarkan bahwa di luar sini ada kejadian. Kita tidak bisa diam begitu saja. Namun di lain sisi, memotret justru menunjukkan ketidak berdayaan fotografer untuk membantu secara langsung.
Kondisi seperti itu  pernah dirasakan oleh Kevin Carter, pewarta foto yang memenangkan penghargaan Pulitzer di tahun 1994 atas fotonya yang berlatar di Sudan pada 1993. Foto tersebut menampilkan seorang anak yang kering kerontang terpuruk di tanah, tidak jauh dari situ ada burung pemakan bangkai yang seolah sedang menunggu anak tersebut meninggal. Suatu keadaan yang mengharukan. Foto tersebut menuai banyak kritik. Mengapa Kevin tidak menolong anak itu,  mengusir burung lalu membantu anak itu ke camp penampungan PBB (diketahui bahwa sebenarnya si anak sedang berusaha untuk menuju ke camp tersebut). Kevin pun dihantui rasa bersalah. Dua bulan setelah menerima Pulitzer, ia bunuh diri dengan menggunakan karbon monoksida. “I’m really, really sorry. The pain of life overrides the joy to the point that joy does not exist.” Tulis Kevin dalam sebuah kertas yang ditemukan di kursi mobilnya. Sebuah penyesalan yang sangat mendalam[v].
Bayangkan, seorang pewarta foto kelas dunia saja merasa gelisah dan bersalah sedemikian rupa dengan apa yang dilakukan terhadap penderitaan manusia. Ia bersenang-senang di atas penderitaan si anak itu atas penghargaan Pulitzer yang diterimanya.  Padahal ia bisa dan sudah berhasil menyulut rasa kemanusiaan para pemirsa foto itu. Sementara kita, para fotografer yang masih berada pada tahap hobi, foto-foto kita hanya sampai di galeri online komunitas, bukan media massa. Begitu senangnya, kita menjadikan penderitaan sebagai objek kita dalam bermain-main atas nama seni, dengan alasan untuk belajar fotografi.
Perkembangan teknologi membuat distribusi foto menjadi sangat mudah dan cepat. Foto sanggup disebarkan secara real time ke seluruh penjuru dunia melalui media massa, internet misalnya. Sekali foto diunggah di dunia maya, maka foto  – beserta manusia-manusia yang menjadi subjek dalam foto tersebut –  dapat dilihat oleh massa. Penderitaan manusia-manusia tersebut pun dipertontonkan.
Melihat komentar-komentar yang diberikan pada foto-foto kategori human interest di FN ini  pun saya jadi ragu kalau foto seperti ini membangkitkan rasa  kemanusiaan. Bahkan tak jarang, yang justru mengomentari foto tersebut sebagai foto. Mengomentari perihal teknisnya. Seperti sebuah lukisan yang fiktif. Padahal foto menyimpan, merekam kenyataan yang sesungguhnya pernah terjadi.  Pada foto Prasetyo Utomo misalnya, hingga tulisan ini dibuat, foto tersebut memperoleh nilai 733 dan telah dilihat 894 kali. Jika dilihat dari komentar-komentar yang diberikan, kebanyakan hanya seadanya. “Mantab”,”Keren”,”nice picture”, “Sangat menyentuh, saya suka fotonya”. Tidak lebih dari 10 kata bahkan. Ya, foto penderitaan seperti ini dibilang bagus, keren, dan mantap. Sebuah kontradiksi.  Terlihat juga beberapa yang menyatakan diri benar-benar tersentuh melihat keadaan dalam foto tersebut. Namun hanya sedikit. Sisanya, jika dilihat dari panjang komentar yang diberikan, hanya menghabiskan beberapa detik untuk melihat foto ini. Alih-alih mengurangi penderitaan, dengan fotografi kita malah memunculkan penderitaan lain. Semakin sering kita melihat suatu hal semakin mudah kita terbiasa atau bahkan bosan dengan hal tersebut. Itulah hal yang saya takutkan, kita menjadi kebas, mati rasa terhadap penderitaan yang kerap dipertontonkan melalui fotografi. Menganggap ihwal penderitaan ialah hal yang sudah biasa dan nanti berlalu.
Dibutuhkan mata yang mendengarkan
Foto adalah sebuah pesan tanpa kode[vi]. Foto hanyalah sepotong kecil dari realita. Foto tak mungkin bisa memberikan informasi yang banyak mengenai suatu peristiwa. Foto tidak bisa menceritakan apa yang terjadi sebelum dan sesudah kejadian pada foto tersebut. Oleh karena itu,  citra fotografis sangat ditentukan oleh pengalaman dan pengetahuan dari orang yang memandanginya. Pengetahuan dan pengalaman serta daya serap itu lah yang memungkinkan orang menggali lapisan makna yang tersimpan dalam tiap objek dan subjek yang ditampilkan pada foto. Melihat komentar-komentar yang diberikan pada foto-foto penderitaan tersebut. Dapat disimpulkann bahwa kebanyakan dari kita, manusia, tidak memiliki literasi visual yang cukup. Kita hanya tertarik untuk mencerna citra umum foto, tanpa mencoba menguak hubungan-hubungan antar objek dengan konteks sosial.
Dalam kajian modernitas kapitalistis-konsumeristis, seperti yang dituliskan oleh F. Budi Hardiman, penderitaan menjadi sebuah objek yang disajikan, menjadi sebuah komoditas yang dapat dikonsumsi, dijual dan dinikmati massa. Para konsumen pun melihat foto-foto tersebut dalam literasi visual yang seadanya. Hanya sekedar melihat tidak menjadi merasa ingin ‘dekat’ dengan penderitaan. “Melihat, bukan untuk memahami yang dilihat, melainkan hanya untuk melihat” begitulah ungkap Heidegger yang dikutip oleh Hardiman[vii].
Hardiman pun menambahkan pentingnya “mata yang mendengarkan” untuk bisa memahami penderitaan orang lain tersebut. Penglihatan yang digerakkan oleh hati. Dengan begitu kita tidak akan menikmatinya, tidak mengintipnya, dan tidak sekedar melihat untuk melihat, melainkan membiarkan subjek dalam foto tersebut berbicara.
Oleh karena itu, internalisasi dengan keadaan sekitar serta pada subjek yang menderita menjadi hal yang sangat penting.  Melalukan riset atau pendekatan terlebih dahulu terhadap subjek yang akan difoto akan menjadi lebih baik. Sejatinya, karya seni rupa yang dibuat untuk merespon suatu fenomenan akan terasa hambar jika tidak didahului sebuah pengamatan mendalam, keterlibatan, dan internalisasi.   Dengan melakukan pengamatan kita bisa lebih tahu hal-hal apa yang perlu diekpos dan hal yang tidak perlu, sehingga kita dapat memanusiakan manusia, bukan sekedar menjadikannya sebagai unsur simbolis pelengkap estetika.
Beberapa bulan lalu, saya menghadiri seminar fotografi yang diisi oleh salah satu pegiat serta pemikir fotografi, Yudhi Soerjoatmodjo, ia mengatakan bahwa foto itu adalah medium dua dimensi. ‘Kehadiran’ atau keterlibatan sang fotografer dalam foto lah yang  menjadi dimensi ketiga yang membuat foto menjadi hidup. Hal ini tidak akan kita dapatkan jika hanya menghabiskan waktu secepat rana menangkap cahaya.
Ketika kita tidak yakin untuk bisa benar-benar merasakan penderitaan, lebih baik simpan kembali kamera kita.

________________________________________
[i] http://www.fotografer.net/isi/anggota/ , diakses  pada 8 Juli 2011.
[ii] Soebijoto, Hertanto. Dari Baju Dinas Sampai Sewa Balita. Kompas.com, Senin, 6 September 2010.  http://megapolitan.kompas.com/read/2010/09/06/09393154/Dari.Baju.Dinas.sampai.Sewa.Bayi. diakses pada 8 Juli 2011
[iii] http://www.marxists.org/glossary/terms/c/o.htm. Diakses pada 8 Juli 2010
[iv] Sontag, Susan. 2003. Regarding The Pain of The Others. United State: Farrar, Straus and Giroux.
[v] Macleod, Scott. Johhannesburg. The Life and Death of Kevin Carter . http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,981431,00.html#ixzz1RS2iSgQ1. Diakses pada 9 Juli 2011
[vi] Barthes, Roland.2010.  Imaji, musik, teks. Yogyakarta: Jalasutra

[vii] Hardiman, Budi. F. 2007. Nafsu Mata Atas Derita.  Jurnal Kalam, 23

Tulisan ini dibuat sebagai tugas akhir Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual yang diadakan oleh Ruangrupa di tahun 2011. Pertama kali dimuat di situs Jarakpandang.net . Di-pubslish di blog ini atas nama pengarsipan