Sekolah Tani di Kota Maritim

Di kota kecil pulau Buton Sulawesi Tenggara yang terkenal potensi lautnya, ada 94 siswa yang giat belajar demi mengembangkan hasil tanah. Cerita perjuangan mereka adalah lahan segar tempat memanen inspirasi.

“Orang sini, tuh, kalo nggak makan ikan aneh rasanya,” cerita Hendra, pegawai muda dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga kota Baubau sewaktu makan siang. Saya cuma angguk-angguk kepala. Di depan saya, laut membiru bikin mata lega dan adem pas ngelihatnya. Kami sudah siap menyantap ikan laut di sebuah rumah makan, yang letaknya dekat Pelabuhan Murhum, titik ekonomi pulau di bibir samudera ini.

Hari berganti. Kejadiannya agak mirip dengan cerita tadi. Saya lagi bareng bersama Muhammad Hamzah. Biar gampang panggil aja dia Anca. Dia bersekolah di SMK Negeri 4 Baubau dan tercatat sebagai salah satu penghuni kelas XI. Sepulang Anca sekolah, kami berjalan kaki. Tujuannya, cari tempat makan siang.

“Tiada hari tanpa ikan di sini,” katanya sambil menyuap sop sodara. “Di rumah pun, tiap hari aku makan ikan.” Mumpung dapat traktiran, Anca pilih sop yang menyajikan daging. Ikan tak jadi pilihannya. Saya? “So pasti ikang.” Gimana mau nolak, aroma ikan bakar di deretan meja sebelah amat menggoda selera makan saya.

Ikan dan laut emang sudah jadi keseharian warga Baubau. Selamat datang di kota kecil yang ada di pinggir Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Sejak masa kerajaan Buton (Wolio) Berjaya, laut sudah pegang peran penting. Kota ini emang nyaris dikelilingi laut. Pulau kecil di sekitarnya jadi pagar alami buat menahan gelombang samudra. Sekarang, ekonomi tempat ini makin maju, gegara pesawat baling-baling bolak-balik angkut penumpang dan barang.

Continue reading Sekolah Tani di Kota Maritim

Tanda Bahaya

Aku heran mengapa musim hujan tak membuat kutu-kutu di rambutmu minggat. Apa benar kamu undang mereka masuk ke kepalamu untuk berjudi bersama?

Aku dengar, di siang hari kamu mengajak kutu-kutumu diskusi matematika demi mencari rumus mendapatkan angka lebih besar dari pengurangan. Lalu kalian pergi ke terminal di malamnya, berkenalan dengan preman, belajar cara cari gara-gara tanpa ribut-ribut.

Dan musim kemarau sebentar lagi tiba.

Aku rasa kamu perlu belajar pramuka. Agar tahu cara memadamkan api dan paham sandi-sandi. Karena kelak akan ada kebakaran besar dari api unggun yang kehilangan himpunan .

Kami menduga kamu lebih percaya pada kerumunan dan tak pernah membaca tanda bahaya dari tangga darurat.

Guru Curang Buka Les Sepulang Sekolah: Siapa Ikut, Nilai Terangkut

Ada sejumlah guru yang paham betul pelajarannya sulit dipahami. Saat di kelas tak cukup efektif, bimbel di luar sekolah pun dibuka. Pengajaran lebih asik. Siapa ikut, nilai bisa terangkut.

Pak Rinto, nama samaran, nggak mengikuti acara lomba-lomba peringatan 17 Agustus sampai selesai Selasa itu. Ajakan adu catur dari seorang murid yang penasaran betul ingin bisa mengalahkannya pun ia tolak. Begitu juga dengan seporsi nasi tumpeng yang disajikan rapih oleh muridnya dari kelas XI, nggak ia gubris barang sesuap. Padahal matanya terlihat lapar “Ini saya bungkus saja, deh. Saya harus ke rumah. Sudah mau pukul empat. Takut sudah ada anak-anak yang menunggu,” katanya sambil melihat Apple Watch-nya.

Saat itu jam menunjukkan pukul 15.40. Untuk bisa sampai ke rumah dari sekolah, Pak Rinto nggak butuh waktu lama memang. Selain hanya berjarak sekitar 3 km, komplek tempat pak Rinto tinggal bisa dituju tanpa bertemu macet. Sekali naik mikrolet dari depan sekolah, pak Rinto sudah bisa turun di depan kompleksnya dalam waktu 15 menit. Bahkan, jika sedang menggunakan motor Astrea-nya, dalam 15 menit sudah ia bisa sampai hingga ke rumah.

Namun, hanya anak perempuannya saja yang pak Rinto lihat sesampainya di sana. Sedang menyapu halaman sambil mendengar lagu lewat headset.

“Belum ada anak-anak yang datang dari tadi?” tanya pak Rinto pada anaknya.

“Belum keliatan, tuh.”

Anak-anak yang dimaksud pak Rinto adalah anak muridnya yang seharusnya rutin datang tiap sore untuk mengikuti les fisika. Tapi, hingga pukul 16.20, belum terlihat seorang pun yang datang.

“Kayaknya gara-gara di sekolah lagi ada 17-an, jadi mood mereka ada di sana. Nggak ada les hari ini berarti. Ya senggaknya saya sudah datang dan siap mengajar,” kata Pak Rinto santai. Ia seperti sudah apal betul kelakuan murid-muridnya. Bisa saja pak Rinto menanyakan satu persatu para peserta les lewat hapenya, tapi ia memilih untuk memaklumi, sebagaimana biasanya.

Nggak cuma pada Selasa saja les fisika di rumahnya digelar, melainkan tiap hari. Pak Rinto membagi-bagi jadwalnya: Selasa untuk kelas X, Kamis untuk kelas XI.  Dia bukannya nggak buka kelas untuk kelas XII, cuma saja di tingkat akhir tersebut, murid-muridnya lebih memilih ikut bimbingan belajar di tempat lain, yang lebih intensif, untuk persiapan ujian nasional dan persiapan seleksi universitas.

Berbeda dengan kemarin lusanya, Kamis sore itu, saat saya berkunjung lagi, sudah ada dua anak yang nangkring di depan pagar rumah pak Rinto, yaitu Oki dan Maul, nama samaran. Sementara Oki sudah pulang ke rumah dulu dan berganti pakaian, bahkan sudah mandi lagi, Maul datang masih dengan seragam sekolahnya: atasan batik biru dan celana putih.

“Eh, nyalain tethering hape lo dong,” pinta Maul masih di motornya. Ia seperti ragu untuk langsung parkir.

“Mau ngapain lu?”

“Mau nge-LINE si Alifa, nanyain yang lain pada dateng atau nggak.”

Les dimulai sepuluh menit kemudian, setelah pak Rinto mengeluarkan mobilnya dari garasi lalu mengatur meja dan kursi plastik yang sebelumnya ditumpuk di pojokan. AC dinyalakan, proyektor dan laptop ia siapkan, garasi yang cukup memuat satu Kijangnya itu berubah menjadi ruang kelas.

Semestinya ada tujuh anak yang datang sore itu, nggak cuma Oki, Maul, dan Kevin yang datang begitu kelas dimulai. Namun, kayaknya empat sisanya berhalangan, Alifa yang diduga akan hadir pun nggak keliatan sampai kelas berakhir.

“si Alifa udah lupa kali sama les ini,” celetuk pak Rinto di tengah-tengah materi.

Di sekolah, Pak Rinto selalu terlihat gagah dengan seragam dinasnya. Namun di rumah, pria berambut putih ini terlihat sangat santai. Ia hanya memakai kaos dan celana pendek.

Sore itu kelas membahas soal-soal yang sudah ditugaskan. Materinya tentang kinematika dengan analisa vektor. Nggak kurang dari tiga soal diurai cara penyelesaiannya oleh pak Rinto.

Ngomong-ngomong soal tugas, rupanya pak Rinto adalah tipe guru yang sangat mengandalkan latihan mengerjakan tugas demi membuat murid-muridnya terbiasa dengan fisika. Saban satu bab bahasan berakhir, ia menghadiahkan murid-muridnya dengan tugas. “Bisa 30 sampai 60 nomor,” cerita Oki. Sumbernya, bisa dari buku paket atau soal bikinannya sendiri yang disebar ke murid-murid secara online.

Tugas tersebut ditulis di buku khusus. Dan mesti dikumpul seminggu setelah diberikan. Mejanya di ruang guru sekolah selalu penuh dengan tumpukan buku tugas murid.

Beres menghabiskan waktu sejam untuk membahas soal-soal tugas tersebut, Pak Rinto menampilkan file soal-soal lainnya yang belum pernah didapat Oki, Kevin, maupun Maul.

Setelah ketiga muridnya itu mencoba menjawab soal nomor 10 Pak Rinto bilang kalau itu merupakan gambaran soal mid test nanti.

“Wah, flashdisk mana, flashdisk. Buruan di-copy filenya,” kata Kevin  setengah serius setengah becanda kepada Oki saat Pak Rinto sedang meninggalkan ruangan.  Kevin punya dugaan kuat kalau soal yang dibahas tadi akan jadi soal mid-testnya kemudian yang hanya akan diubah angka-angkanya.  Lumayan, buat bahan latihan dan bisa disebar ke teman-teman lain, pikirnya.

Jika bagi murid-murid jurusan IPA di sekolah tugas pak Rinto tadi terasa seperti mendaki bukit, maka ujian darinya adalah menjajal arung jeram. Jauh lebih singkat tapi supermenegangkan.  Tiap murid disuruh maju ke depan lalu mengambil kocokan dan mengerjakan soal sesuai nomor yang didapat, di depan kelas, ditonton teman-teman lainnya.

Pak Rinto sudah mengajar Fisika sejak tahun 1982. Di masa awal-awalnya menjadi guru, lulusan jurusan Fisika Murni ini mengajar di banyak sekolah sekaligus. “Dulu upah guru tuh kecil sekali. Sekarang sudah lebih baik, pemerintah lebih peduli dengan kesejahteraan guru. Ya, walaupun masih dalam tahap cukup, sih. Tapi kalau punya anak yang udah kuliah di luar kota itu masih belum cukup,” ceritanya.

Hingga akhirnya ia diangkat menjadi PNS dan mengajar tetap di sekolah negeri tempatnya kerja sekarang ini.

Demi membantu murid-muridnya yang butuh tambahan pendampingan belajar Fisika ia buka kelas tambahan di rumahnya itu. Sudah sejak 15 tahun lalu. Bahkan, dulu tak hanya fisika, tetapi juga Kimia dan Matematika yang diampu dua rekannya. Ada kalanya juga, murid dari sekolah lain pun daftar di sini

“Tapi, kan, sekarang tempat bimbel udah makin banyak,” ujarnya. “Sekarang ini masih sepi, tujuh orang. Nanti deh kalau udah musim ulangan, mulai pada daftar.”

Shila, nama samaran, salah satu muridnya yang kini sudah kelas XII ngaku kalau cara mengajar pak Rinto di rumahnya dan di sekolah berbeda. “Di tempat les dia lebih sabar. (Dia mengajar) sampai kami benar-benar mengerti. Gue pun lebih ngerti sejak belajar di sana,” kata cewek berhijab ini.

Cerita tentang guru sekolah negeri yang menawarkan les khusus di luar jam sekolah nggak cuma ada di satu-dua tempat. Menurut survei yang HAI lakukan, kebanyakan guru tersebut adalah pengajar mata pelajaran eksak. Seperti Fisika, Matematika, dan Kimia, selain bahasa Inggris yang ada di beberapa sekolah.

Alfa, teman kita dari sebuah SMA Negeri di Yogyakarta juga cerita bahwa di sekolahnya ada tuh guru Matematika yang buka les juga. Sudah sejak awal masuk tahun ajaran baru, Bu Ani, nama samaran, mempromosikan lesnya itu.

Ifo, teman seangkatan Alfa adalah salah satu pesertanya. Di kelas X lalu, siswi kelas XI ini merasa sangat terbantu dengan pendalaman materi lewat les itu.

“Les itu membantu murid-murid yang masih belum paham seperti aku dengan materi yang telah disampaikan selama di kelas. Toh, kalau  les jadi lebih fokus belajarnya dan bisa tanya-tanya sepuasnya, kalau di kelas kan terbatas,” ungkap cewek berhijab  ini santai.

Les tersebut dilakukan di lantai atas rumah sang guru. Ongkosnya Rp 30.000 per murid tiap kali pertemuan.

“Sistem lesnya, tuh, seminggu sekali. Dalam satu kelompok ada enam anak. Normalnya selama empat kali pertemuan doang, tapi fleksibel bisa nambah atau private gitu kalau masih kurang paham. Waktunya menyesuaikan. Bisa ganti hari sesuai kesepakatan,” cerita Ifo yang suka nyemil snack atau makan mie instan bareng sambil les.

Di sana, mereka mengulang materi yang sudah diulas di sekolah namun belum dipahami betul. Pembahasan soal tentu jadi lebih intim dan fokus. Peserta bisa bertanya sepuasnya.

Gara-gara les itu, Ifo mengaku kalau nilai Matematikanya terkatrol drastis. Sebelumnya, hanya berkisar di 30-50. Setelah les, nilainya nggak kurang dari 80.

“Ibunya jadi hapal sama anak-anak yang les, terus tiap selesai ulangan bisa langsung tanya nilai dan membahas soalnya langsung,” repet Ifo yang sering juga dapet update kisi-kisi soal ulangan dari les itu.

Nggak cuma di rumah, les tambahan dari guru sekolah juga ada yang digelar di ruang kelas sekolah. Seperti yang terjadi di sebuah sekolah negeri bilangan Ciledug, Tangerang.

Guru Fisika kelas XI di sana mengajak siswanya untuk membentuk sesuatu yang mereka sebut kelompok belajar sepulang sekolah. Nggak gratis, tiap peserta dikenakan iuran Rp 100.000 tiap bulan.

Sang guru yang tinggal jauh dari keluarganya di Cirebon sana itu buka les tiap Senin, Selasa dan Kamis, pukul 15.00 hingga menjelang magrib.

“Cara ngajarnya di kelas dan di les sebenarnya sama. Bedanya, di les dia lebih banyak bahas soal, buat latihan,” kata Alin salah satu murid yang mengikuti lesnya itu.

Tio, nama samaran, kakak kelas Alin yang sudah merasakan manfaat les tersebut cerita bahwa semenjak ikut les nilai Fisikanya bisa mencapai 85, naik 10 poin dari sebelumnya.

“Kalau anak les, tiap ulangan disuruhnya jawab pakai pensil aja. Nanti kalau ada yang salah, dia hapus dan dia ganti jawabannya. Gue pernah, tuh, pas kertas ulangannya dibalikkin, ada tulisan yang diganti. Gue tau banget itu bukan tulisan gue,” kata cewek yang walaupun sekarang sudah lulus SMA ini namun belum berkuliah.

Tak Mempan Sanksi

Seperti yang sudah kita duga, kehadiran guru yang buka bimbel di luar sekolah pasti akan menuai kecemburuan sekaligus kecurigaan.

Kegeraman terhadap gurunya itu makin menjadi-jadi pada Alfa. Gimana nggak, dia tahu ada temannya yang dipaksa untuk ikut lesnya.

“Pernah dulu ada temen yang nanya tentang matematika selesai jam pelajaran, eh, malah disuruh  dateng ke rumah beliau alias ikutan les, kan aneh banget?,” bocor siswa yang kini duduk di kelas XII IPA. Selain itu, guru tersebut juga jarang memberikan remedial dan diduga  Alfa suka asal dalam memberi nilai.

“Nilai UKK matematikaku aja cuma 75, padahal  aku peringkat tiga pararel rangkingnya dan ngerasa bisa ngerjain soalnya waktu itu,” curhat Alfa.

Nggak cuma para siswa yang jengah dengan ketidakadilan guru yang buka bimbel, pihak sekolah pun sebenarnya merasakan hal yang sama.

Bu Ani, nama samaran, guru di sekolah Alfa tahu betul gimana Bu Alan sudah ditegur oleh petinggi sekolah dan kurang disukai guru-guru lain karena kelakuannya itu.

“Saya pribadi dan beberapa guru amat sangat tidak setuju jika ada guru yang buka les di Sekolah, karena itu bertentangan dengan undang-undang dan peraturan pemerintah,” ungkap Bu Ani.

Bu Ani juga menyanyangkan sikap kepala sekolah yang terlalu memaklumi kelakuan bu Alan itu. “Ia (Bu Alan) sudah sering ditegur, tapi nggak dihiraukan. Selain itu, atasan di sini kurang tegas pula dalam memberi sanksi. Dulu pernah ditegus, tapi cuma ditegur saja tanpa ada kelanjutan. Alasan dia (pak Kepala Sekolah), sih, alasan kemanusiaan,” paparnya.

Jika menurut pada aturan, bu Ani berpendapat, bahwa aksi bu Alan itu bisa diganjar dengan sanksi potongan jam mengajar, sehingga nggak memenuhi syarat sertifikasi.

Isu Kesejahteraan

St Kartono, pengamat pendidikan, juga sepakat bahwa guru yang membuka bimbel berbayar untuk murid sekolahnya itu nggak adil. Menurutnya, guru mesti menuntaskan pengajarannya di kelas di sekolah.

“Guru (sekolah) itu bukan guru silat yang ketika punya sepuluh jurus tapi yang diajarkan kepada sekolahnya cuma sembilan. Jurus satunya disimpan hanya untuk yang mau bayar les ke dia. Seharusnya guru memberikan pelayanan yang utuh di sekolah. Kalau guru membuka bimbel untuk muridnya sendiri menurut saya itu kurang elok,” kata pria yang sering menulis kolom opini tentang pendidikan di surat kabar nasional ini.

St Kartono juga tak setuju jika alasan guru membuka bimbel itu adalah karena demi menutupi kebutuhannya yang nggak bisa dipenuhi dari gaji guru negeri. Katanya, “Saya tidak setuju kalau ketidaksejahteraan dipakai untuk pembelaan perilaku yang tidak etis. Peningkatan mutu dan guru yang etis itu nggak berkait langsung dengan penghasilan.”

 Dilarang Undang-undang dan Kode Etik

Dalam Undang-undang no 14 tahun 2005 pasal  1 guru diharapkan bisa menjalani profesinya dengan profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik

Lalu di pasal 20, kewajiban guru diatur. Guru yang membuka bimbel di luar sekolah melanggar poin c pasal tersebut yang menyebutkan bahwa guru memiliki kewajiban untuk:

“Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;”

 Sementara itu kode etik guru yang dirancang oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) melalui kongresnya pada 2013, guru disebutkan wajib menjaga hubungan profesional dengan peserta didik.

Pada PGRI XXI NO. VI/KONGRES/XXI/PGRI/2013 pasal 2 nomor 7, disebutkan guru wajib:

 “Menjaga hubungan profesional dengan peserta didik dan tidak memanfaatkan untuk keutungnagn pribadi dan /atau kelompok dan tidak mealnggar norma yang berlaku”

See? Kesimpulannya, kalau di sekolah lo ada guru yang buka les di luar sekolah, maka jangan ragu untuk adukan ke kepala sekolah dan pemerintah, bro! Tuntut dia untuk memberikan pengajaran maksimal dan adil kepada seluruh siswa. Ini adalah masalah sekolah yang mesti kita beresi bersama.

Penulis: Rizki Ramadan

Reporter: Rizki Ramadan, Rasyid Sidiq, Ghufron Zein.

Ilustrator: Rahman Subagio

Dipublis di: Majalah HAI no. 35 2016 (Cek PDF)

 

 

 

 

 

Lupa

Aku tahu mengapa sekolah hanya mengajarkan kita untuk menghapal tapi untuk urusan melupa, kita mesti otodidak. Karena hilaf adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan. Butuh banyak usaha dan banyak waktu untuk bisa menghapal dengan baik. Tapi untuk melupa? kita hanya butuh sedetik pengabaian agaknya.

Kamu nggak percaya? coba saja tanya ke bakwan angkringan yang walau sudah digoreng tapi kuminta dipanggang lagi. Ia menyaksikan bagaimana seorang pemuda yang selalu luput dari percobaan menepati janji.

Continue reading Lupa

10 Cara untuk Jadi Menyebalkan

Orang-orang nggak enakan yang bercita-cita ingin jadi jahat, tapi selalu gagal, bisa mencoba cara-cara sederhana ini:

1. Jika ada rekan kerjamu mempost foto dirinya sedang duduk di resto cantik, atau sedang melompat ke laut, atau sedang mencium pipi pacarnya, maka tagihlah kerjaannya, atau ingatkan utangnya di kolom komentar.

2. Buatlah grup WhatsApp Keluarga Besar, dan pastikan semua saudara-saudaramu yang masih muda kamu invite.

3. Ketika ada pengamen, berilah ia uang Rp 5.000 tapi kamu minta kembalian sejumlah Rp 4.500. Memberi, harus dalam jumlah yang kita sanggup iklaskan, kan?

4. Jadilah orang yang nggak langsung membalas chat yang masuk tapi tetap menelusuri linimasa medsosmu, dan tinggalkan jejak like di mana-mana. Jika ada yang bertanya, kamu bisa pilih alasan-alasan berikut:

 “Kan, gue punya hak untuk milih mana yang pengen gue bales, mana yang nggak”

  “Chat lo tenggelem. Maaf yah,”

  “Astaga, keingetnya udah bales.”

5. Ganti knalpot motormu dengan knalpot yang menyembur. Ketika ada pengemudi motor di belakang yang menegurmu karena mukanya sudah menjadi sasaran tembak, maka bantahlah. “Kalau nggak mau kena asep, nggak usah keluar. Di rumah aja sono!”

6. Ceritakan semua yang sudah kamu capai, karya yang sudah kamu bikin, film series yang kamu tonton maraton, dan segala  idealismemu ke orang yang kau suka sampai ia cuma bisa ngangguk-angguk dan menyimpulkan dengan kalimat, “Dunia lo keren, yah. Gue cuma jarum di jam yang keabisan baterai,” dan kau menganggap sindiran itu sebagai pujian.
.
7. Bilang kalau kamu nggak jadi sanggup mengerjakan sesuatu yang ditawarkan temanmu, ketika sudah mepet deadline

8. Utarakan ketidaksukaanmu, senggaknya lima kali sehari. Misalnya, “Gue nggak suka judul artikel gue diubah,” atau, “Bang, ketopraknya kok nggak enak?”, atau, “Mas, ini saya balikin, sampah yang tadi situ buang”

9. menunjukkan kesanggupan untuk memenuhi 10 hal, tapi nyatanya, 9 pun tak sampai.

Saya sudah melakukan beberapa di antaranya dan terbukti, bikin jadi nggak enakkemudian. Jika ada yang pernah terlibat, satu kata empat huruf untukmu: maaf.

Ra Iso Kayak Daiso

Ra Iso Kayak Daiso

Kalian pasti tau Daiso. Temen-temen saya, sih, udah sering banget bercerita beli ini-itu secara tiba-tiba saat mampir ke sana. Sore tadi, saya pertama kalinya saya ke minimarket pernak-pernik “ajaib”  dari Jepang berharga  murah itu

“Yang ini harganya berapa, mbak?” tanya saya sambil menunjuk sebuah kotak plastik.

“Semua yang ada di sini 25 ribu, mas.”

“Wah!”

Ternyata Daiso sebaik itu yah. Saya lalu berkeliling. Apapun bendanya, yang saya pikirkan adalah, ini bisa berguna jadi apa yah, kayaknya asik nih untuk dibeli. Toh, harganya sama murahnya.

Di sekitaran kotak yang saya tanyakan tadi itu, ada banyak kotak-kotak lain. Ukurannya beda-beda, ada yang 25×25 cm, ada yang 10×20 cm tapi ada gagangnya, ada juga yang bentuknya kayak kerangjang. Semua harganya setara, 25 ribu.

Antusiasme saya tiba-tiba menurun ketika pindah ke rak lainnya. Melihat senter jepit yang sama persis seperti yang biasa dijual di bus kota seharga Rp 10.000.  Di rak lain, ada juga kaos kaki yang coraknya lucu, pun bahannya enak. Kalau disandingkan dengan Sport Station, kaos kaki kayak gitu biasanya bisa kita dapat senggaknya kalau ada I Gusti Ngurah Rai di dalam dompet.

Kalau dipikir-pikir, timpang yah. Sesuatu yang punya nilai lebih tinggi (dan mungkin biaya produksinya juga tinggi) disamakan harganya dengan sesuatu yang nilainya lebih rendah.  Walau pun di balik sistem harga seperti itu ada subsidi silang antar produk, tapi kan, gimana perasaan si pembuat kaos kaki supernyaman dan estetik itu coba?

Dulu, waktu kuliah Statistika Sosial, dosen saya punya cara unik dalam ngasih penilaian. Saya yang bahkan nggak ngerti apa itu regresi, ordinal, apalagi SPSS, bisa dapet nilai B. Sama persis kayak nilai temen sekelas saya yang emang bercita-cita ngerjain skripsi kuantitatifnya sendiri. Bagi saya, itu adalah rezeki, bagi teman saya, itu adalah sumber kekesalan.
.
“Kesetaraan itu belum tentu adil.” Saya ingat Rima pernah ngomong gitu, setelah baca bab Gender dan Pembangunan di buku Sosiologi Umum punya adiknya.

Okeh, atas nama keadilan, saya nggak jadi jajan di Daiso #tapiboong .

Yang Lama dari Tahun Baru

1.

Bagi tukang koran di seluruh nusantara ini, tahun baru dan tanggal-tanggal merah lainnya adalah celaka. Tak ada terbitan yang bisa mereka jual. Tak ada surat kabar yang terbit di hari ini, ya walaupun beberapa para wartawannya dipastikan mesti tetap seliweran liputan. Abang N misalnya, penjual koran yang biasa mangkal di depan komplek, tiap tanggal merah lebih sering terlihat jadi tukang parkir di minimarket daripada di kios korannya.

2.

Baju-baju kotor di ember depan kamar mandi pemuda R sudah menumpuk. Sudah seharusnya ia membawanya ke londri. Ia juga sudah menyiapkan plastik ukuran jumbo untuk mengangkut baju-baju apek gudang daki dan noda itu. Namun, ia malas. Baru dua hari lalu ia akhirnya tergerak berangkat. Itu pun berujung gagal. Padahal si mbok penjaga londri sudah menimbang baju dan menuliskan bon.

“Selesainya kapan, Bu?”

“Tahun depan, Dek.”

“Astaga.”

3.

Anak-anak muda yang bisa check in di hotel bersama teman-temannya lalu naik ke rooftop gedung jelang jam 12 malam untuk melihat kembang api dan menertawakan kota yang ada di bawahnya, boleh bahagia. Tapi mereka masih kalah bahagia dari penjual kembang api di pinggir jalan. Jumlah lembaran uang yang mereka dapat kemarin bisa lebih banyak dari jumlah struk yang ada di tempat sampah satu gerbang tol saat mudik lebaran. Jelang jam 12 malam, mereka juga bisa tertawa sambil menyalakan kembang api sisa yang belum terjual, atau membagi-bagikannya ke tetangga-tetangganya, tanpa merasa rugi sedikitpun.

4.

Coba lihat isi buku harianmu, atau atau kertas post it yang kau tempel di cermin agar tiap kali kau berdandan sebelum memulai hari kau selalu melihatnya. Ada berapa catatan rencana tahunan yang malah kau coret? Tenang, kau tak perlu gusar. Selama malaikat maut belum jadi motivator yang suka dakwah di televisi, bermimpi sengaco-ngaconya adalah hak segala bangsa. Kau juga boleh menertawakan tiap mimpi-mimpi lamamu yang gagal itu tiap tahun baru seperti mamah dedeh terkekeh tiap kali ia mati gaya di depan kamera. Penonton yang mudah diajak bertepuk tangan, dan jeda iklan, akan menyelamatkanmu

Tips Menyenangkan untuk Bersedih

Andai tak ada kesepakatan tak tertulis antar para laki-laki untuk tidak saling memedulikan perasaannya masing-masing, pemuda R pasti akan menghampiri pemuda K, memberikan senyumnya yang paling sederhana lalu menepuk pundaknya sambil berkata, “Ada apa?”

Dan pemuda K pun takkan menjawab karena ia lebih senang sesunggukan mengikuti irama tangisannya.

Setengah jam yang lalu, pemuda K wara-wiri dari satu situs ke situs lain. Ia ingin menonton film yang ia sudah tonton dua tahun lalu tapi ia lupa sama sekali apa judulnya. Yang ia ingat betul adalah, setengah jam terakhir film itu membuat ia menangis, seperti seorang anak sulung pertama kali melihat foto bapak kesayangannya ada di sampul buku Yasin.

Film itu bercerita tentang seorang pewarta foto perang. Ia wanita. Semakin lama, suaminya semakin mengutuk profesinya itu. Siapa pula keluarga yang mau ditinggal pergi dalam kurun waktu yang lama, dan tak pernah jelas bisa pulang ke rumah atau ke makam. Pun, durasi kerjanya yang lama itu kerap bikin si suami keki membohongi syahwat barangkali. Di setengah jam terakhir itu, si pewarta foto dirundung dilema luar biasa: gantung kamera, atau ia akan kehilangan keluarga. Manusia memang tak diciptakan untuk bisa memelihara dua cinta sekaligus, agaknya. Jadi, ia harus memilih.

Continue reading Tips Menyenangkan untuk Bersedih

Resensi Novel “KAMU Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya” karangan Sabda Armandio Alif

Suka banget sama novel ini. Ceritanya seru nan ajaib; sepanjang buku bertaburan kalimat-kalimat cerdas; dan pemikiran-pemikiran dua tokoh utama: si aku (narator) dan Kamu sangat cespleng. Dari mulai pemikiran soal sekolah dan sistem pendidikan, negara, agama, cinta, kenangan, sampai masalah kesepian.

Tiap baca buku, saya selalu menandai potongan cerita, atau kalimat yang gue suka. Nah, di novel ini, gue menghabiskan nggak kurang dari 30 lembar post-it! Ini beberapanya:

“Aku cuma senang tertawa. Kau tahu kenapa? Mungkin aku hanya sedang berusaha mengecoh kesepian.”

“Aku ingin jadi pengarang agar bisa memetakan pikiran dan perasaanku sendiri.”

dan ini juga:

“Suatu hari aku mau jadi petani. Mencangkul sambil menyanyikan lagu-lagu AC/DC, kayaknya gagah sekali. Aku baca di koran, katanya pembangunan mal di Jakarta masuk rangking sepuluh besar di dunia, dan orang-orang bangga. Aku justru heran, sebenarnya itu kemajuan atau kemunduran, sih?”

Bahkan–ini norak–ada satu bagian yang saat saya baca, saya sampai melempar bukunya ke tembok, sambil cengegesan, saking greget kagum sama cerita dan olahan-olahan kalimatnya

Kalau dipikir-pikir, 70 persen novel ini berisi tumpahan pemikiran si aku yang memang hobi banget melamun (si aku adalah pelamun yang lebih suka mie instan ketimbang senja). Di satu titik saya ngerasa buku ini lebih terasa sebagai panduan melamun dan merapihkan pikiran, alih-alih sebagai novel. Sampai sekarang pun, tokoh si aku dan Kamu semacam hidup di dalam kepala. Tiap kali sedang melamun, saya membayangkan saya bercerita ke mereka gitu. Waa

Mau tau ceritanya? kira-kira gini:

Di suatu malam, si aku mengenang sahabatnya yg bernama Kamu. Saat SMA, jelang ujian nasional, mereka hatrick bolos: tiga hari berturut-turut. Hari pertama, cerita ajaib dialami di alam mimpi

Hari 2, si aku menemani mantan pacarnya yang hamil entah oleh siapa, ke dokter. Hari ketiga, mereka bertemu Permen.

Selesai baca saya bertanya, berapa banyak buku lagi yang mesti gue baca ya biar bisa nulis cerita seasik ini