Masa Depan Cerah Estetika Kamera Lama

Di tangan para anak muda, estetika dari kamera lama dicari. Di kala harga film makin tinggi, lab-lab indie berdiri. Dari yang pehobi sampai profesinoal main analog lagi. Karakter warnanya yang khas dianggap sebagai eye candy.

Sepulang sekolah, masih berseragam, Gemilang Rachmad mendatangi Renaldy Fernando Kusuma atau Enad, pemilik Jelly Playground,penyedia segala kebutuhan pehobi fotografi analog. Saat itu, Gemilang sedang kehabisan rol film.

Di masa SMP hingga awal SMA, cowok dari SMA Al Azhar 3 Jakarta ini suka banget dengan fotografi, selain bersepeda. Ia rutin meramaikan Instagram-nya dengan foto-foto suasana perkotaan, aktivitas bersepeda, dan momen travelling-nya. Selain jago mengambil angle, Gemilang lihai memoles fotonya dengan filter-filter dengan tonal asik. Itu adalah ketika Gemilang masih mengandalkan smartphone dan DLSR Nikon D7000-nya.

Hobi motretnya malah makin menjadi-jadi ketika ia jauh dari kamera digital dan akrab sama kamera analog. Gemilang jadi pelanggan Jelly Playground bukan hanya untuk beli rol film, tetapi juga merchandise bertema analog dan pernak-pernik lainnya.

“Saat SMA, gue bisa seminggu dua kali, pergi hunting foto pake analog,” cerita Gemilang saat HAI temui di acara bazaar kamera analog Low Light Bazaar.

Continue reading Masa Depan Cerah Estetika Kamera Lama

Sekolah Tani di Kota Maritim

Di kota kecil pulau Buton Sulawesi Tenggara yang terkenal potensi lautnya, ada 94 siswa yang giat belajar demi mengembangkan hasil tanah. Cerita perjuangan mereka adalah lahan segar tempat memanen inspirasi.

“Orang sini, tuh, kalo nggak makan ikan aneh rasanya,” cerita Hendra, pegawai muda dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga kota Baubau sewaktu makan siang. Saya cuma angguk-angguk kepala. Di depan saya, laut membiru bikin mata lega dan adem pas ngelihatnya. Kami sudah siap menyantap ikan laut di sebuah rumah makan, yang letaknya dekat Pelabuhan Murhum, titik ekonomi pulau di bibir samudera ini.

Hari berganti. Kejadiannya agak mirip dengan cerita tadi. Saya lagi bareng bersama Muhammad Hamzah. Biar gampang panggil aja dia Anca. Dia bersekolah di SMK Negeri 4 Baubau dan tercatat sebagai salah satu penghuni kelas XI. Sepulang Anca sekolah, kami berjalan kaki. Tujuannya, cari tempat makan siang.

“Tiada hari tanpa ikan di sini,” katanya sambil menyuap sop sodara. “Di rumah pun, tiap hari aku makan ikan.” Mumpung dapat traktiran, Anca pilih sop yang menyajikan daging. Ikan tak jadi pilihannya. Saya? “So pasti ikang.” Gimana mau nolak, aroma ikan bakar di deretan meja sebelah amat menggoda selera makan saya.

Ikan dan laut emang sudah jadi keseharian warga Baubau. Selamat datang di kota kecil yang ada di pinggir Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Sejak masa kerajaan Buton (Wolio) Berjaya, laut sudah pegang peran penting. Kota ini emang nyaris dikelilingi laut. Pulau kecil di sekitarnya jadi pagar alami buat menahan gelombang samudra. Sekarang, ekonomi tempat ini makin maju, gegara pesawat baling-baling bolak-balik angkut penumpang dan barang.

Continue reading Sekolah Tani di Kota Maritim

Guru Curang Buka Les Sepulang Sekolah: Siapa Ikut, Nilai Terangkut

Ada sejumlah guru yang paham betul pelajarannya sulit dipahami. Saat di kelas tak cukup efektif, bimbel di luar sekolah pun dibuka. Pengajaran lebih asik. Siapa ikut, nilai bisa terangkut.

Pak Rinto, nama samaran, nggak mengikuti acara lomba-lomba peringatan 17 Agustus sampai selesai Selasa itu. Ajakan adu catur dari seorang murid yang penasaran betul ingin bisa mengalahkannya pun ia tolak. Begitu juga dengan seporsi nasi tumpeng yang disajikan rapih oleh muridnya dari kelas XI, nggak ia gubris barang sesuap. Padahal matanya terlihat lapar “Ini saya bungkus saja, deh. Saya harus ke rumah. Sudah mau pukul empat. Takut sudah ada anak-anak yang menunggu,” katanya sambil melihat Apple Watch-nya.

Saat itu jam menunjukkan pukul 15.40. Untuk bisa sampai ke rumah dari sekolah, Pak Rinto nggak butuh waktu lama memang. Selain hanya berjarak sekitar 3 km, komplek tempat pak Rinto tinggal bisa dituju tanpa bertemu macet. Sekali naik mikrolet dari depan sekolah, pak Rinto sudah bisa turun di depan kompleksnya dalam waktu 15 menit. Bahkan, jika sedang menggunakan motor Astrea-nya, dalam 15 menit sudah ia bisa sampai hingga ke rumah.

Namun, hanya anak perempuannya saja yang pak Rinto lihat sesampainya di sana. Sedang menyapu halaman sambil mendengar lagu lewat headset.

“Belum ada anak-anak yang datang dari tadi?” tanya pak Rinto pada anaknya.

“Belum keliatan, tuh.”

Anak-anak yang dimaksud pak Rinto adalah anak muridnya yang seharusnya rutin datang tiap sore untuk mengikuti les fisika. Tapi, hingga pukul 16.20, belum terlihat seorang pun yang datang.

“Kayaknya gara-gara di sekolah lagi ada 17-an, jadi mood mereka ada di sana. Nggak ada les hari ini berarti. Ya senggaknya saya sudah datang dan siap mengajar,” kata Pak Rinto santai. Ia seperti sudah apal betul kelakuan murid-muridnya. Bisa saja pak Rinto menanyakan satu persatu para peserta les lewat hapenya, tapi ia memilih untuk memaklumi, sebagaimana biasanya.

Nggak cuma pada Selasa saja les fisika di rumahnya digelar, melainkan tiap hari. Pak Rinto membagi-bagi jadwalnya: Selasa untuk kelas X, Kamis untuk kelas XI.  Dia bukannya nggak buka kelas untuk kelas XII, cuma saja di tingkat akhir tersebut, murid-muridnya lebih memilih ikut bimbingan belajar di tempat lain, yang lebih intensif, untuk persiapan ujian nasional dan persiapan seleksi universitas.

Berbeda dengan kemarin lusanya, Kamis sore itu, saat saya berkunjung lagi, sudah ada dua anak yang nangkring di depan pagar rumah pak Rinto, yaitu Oki dan Maul, nama samaran. Sementara Oki sudah pulang ke rumah dulu dan berganti pakaian, bahkan sudah mandi lagi, Maul datang masih dengan seragam sekolahnya: atasan batik biru dan celana putih.

“Eh, nyalain tethering hape lo dong,” pinta Maul masih di motornya. Ia seperti ragu untuk langsung parkir.

“Mau ngapain lu?”

“Mau nge-LINE si Alifa, nanyain yang lain pada dateng atau nggak.”

Les dimulai sepuluh menit kemudian, setelah pak Rinto mengeluarkan mobilnya dari garasi lalu mengatur meja dan kursi plastik yang sebelumnya ditumpuk di pojokan. AC dinyalakan, proyektor dan laptop ia siapkan, garasi yang cukup memuat satu Kijangnya itu berubah menjadi ruang kelas.

Semestinya ada tujuh anak yang datang sore itu, nggak cuma Oki, Maul, dan Kevin yang datang begitu kelas dimulai. Namun, kayaknya empat sisanya berhalangan, Alifa yang diduga akan hadir pun nggak keliatan sampai kelas berakhir.

“si Alifa udah lupa kali sama les ini,” celetuk pak Rinto di tengah-tengah materi.

Di sekolah, Pak Rinto selalu terlihat gagah dengan seragam dinasnya. Namun di rumah, pria berambut putih ini terlihat sangat santai. Ia hanya memakai kaos dan celana pendek.

Sore itu kelas membahas soal-soal yang sudah ditugaskan. Materinya tentang kinematika dengan analisa vektor. Nggak kurang dari tiga soal diurai cara penyelesaiannya oleh pak Rinto.

Ngomong-ngomong soal tugas, rupanya pak Rinto adalah tipe guru yang sangat mengandalkan latihan mengerjakan tugas demi membuat murid-muridnya terbiasa dengan fisika. Saban satu bab bahasan berakhir, ia menghadiahkan murid-muridnya dengan tugas. “Bisa 30 sampai 60 nomor,” cerita Oki. Sumbernya, bisa dari buku paket atau soal bikinannya sendiri yang disebar ke murid-murid secara online.

Tugas tersebut ditulis di buku khusus. Dan mesti dikumpul seminggu setelah diberikan. Mejanya di ruang guru sekolah selalu penuh dengan tumpukan buku tugas murid.

Beres menghabiskan waktu sejam untuk membahas soal-soal tugas tersebut, Pak Rinto menampilkan file soal-soal lainnya yang belum pernah didapat Oki, Kevin, maupun Maul.

Setelah ketiga muridnya itu mencoba menjawab soal nomor 10 Pak Rinto bilang kalau itu merupakan gambaran soal mid test nanti.

“Wah, flashdisk mana, flashdisk. Buruan di-copy filenya,” kata Kevin  setengah serius setengah becanda kepada Oki saat Pak Rinto sedang meninggalkan ruangan.  Kevin punya dugaan kuat kalau soal yang dibahas tadi akan jadi soal mid-testnya kemudian yang hanya akan diubah angka-angkanya.  Lumayan, buat bahan latihan dan bisa disebar ke teman-teman lain, pikirnya.

Jika bagi murid-murid jurusan IPA di sekolah tugas pak Rinto tadi terasa seperti mendaki bukit, maka ujian darinya adalah menjajal arung jeram. Jauh lebih singkat tapi supermenegangkan.  Tiap murid disuruh maju ke depan lalu mengambil kocokan dan mengerjakan soal sesuai nomor yang didapat, di depan kelas, ditonton teman-teman lainnya.

Pak Rinto sudah mengajar Fisika sejak tahun 1982. Di masa awal-awalnya menjadi guru, lulusan jurusan Fisika Murni ini mengajar di banyak sekolah sekaligus. “Dulu upah guru tuh kecil sekali. Sekarang sudah lebih baik, pemerintah lebih peduli dengan kesejahteraan guru. Ya, walaupun masih dalam tahap cukup, sih. Tapi kalau punya anak yang udah kuliah di luar kota itu masih belum cukup,” ceritanya.

Hingga akhirnya ia diangkat menjadi PNS dan mengajar tetap di sekolah negeri tempatnya kerja sekarang ini.

Demi membantu murid-muridnya yang butuh tambahan pendampingan belajar Fisika ia buka kelas tambahan di rumahnya itu. Sudah sejak 15 tahun lalu. Bahkan, dulu tak hanya fisika, tetapi juga Kimia dan Matematika yang diampu dua rekannya. Ada kalanya juga, murid dari sekolah lain pun daftar di sini

“Tapi, kan, sekarang tempat bimbel udah makin banyak,” ujarnya. “Sekarang ini masih sepi, tujuh orang. Nanti deh kalau udah musim ulangan, mulai pada daftar.”

Shila, nama samaran, salah satu muridnya yang kini sudah kelas XII ngaku kalau cara mengajar pak Rinto di rumahnya dan di sekolah berbeda. “Di tempat les dia lebih sabar. (Dia mengajar) sampai kami benar-benar mengerti. Gue pun lebih ngerti sejak belajar di sana,” kata cewek berhijab ini.

Cerita tentang guru sekolah negeri yang menawarkan les khusus di luar jam sekolah nggak cuma ada di satu-dua tempat. Menurut survei yang HAI lakukan, kebanyakan guru tersebut adalah pengajar mata pelajaran eksak. Seperti Fisika, Matematika, dan Kimia, selain bahasa Inggris yang ada di beberapa sekolah.

Alfa, teman kita dari sebuah SMA Negeri di Yogyakarta juga cerita bahwa di sekolahnya ada tuh guru Matematika yang buka les juga. Sudah sejak awal masuk tahun ajaran baru, Bu Ani, nama samaran, mempromosikan lesnya itu.

Ifo, teman seangkatan Alfa adalah salah satu pesertanya. Di kelas X lalu, siswi kelas XI ini merasa sangat terbantu dengan pendalaman materi lewat les itu.

“Les itu membantu murid-murid yang masih belum paham seperti aku dengan materi yang telah disampaikan selama di kelas. Toh, kalau  les jadi lebih fokus belajarnya dan bisa tanya-tanya sepuasnya, kalau di kelas kan terbatas,” ungkap cewek berhijab  ini santai.

Les tersebut dilakukan di lantai atas rumah sang guru. Ongkosnya Rp 30.000 per murid tiap kali pertemuan.

“Sistem lesnya, tuh, seminggu sekali. Dalam satu kelompok ada enam anak. Normalnya selama empat kali pertemuan doang, tapi fleksibel bisa nambah atau private gitu kalau masih kurang paham. Waktunya menyesuaikan. Bisa ganti hari sesuai kesepakatan,” cerita Ifo yang suka nyemil snack atau makan mie instan bareng sambil les.

Di sana, mereka mengulang materi yang sudah diulas di sekolah namun belum dipahami betul. Pembahasan soal tentu jadi lebih intim dan fokus. Peserta bisa bertanya sepuasnya.

Gara-gara les itu, Ifo mengaku kalau nilai Matematikanya terkatrol drastis. Sebelumnya, hanya berkisar di 30-50. Setelah les, nilainya nggak kurang dari 80.

“Ibunya jadi hapal sama anak-anak yang les, terus tiap selesai ulangan bisa langsung tanya nilai dan membahas soalnya langsung,” repet Ifo yang sering juga dapet update kisi-kisi soal ulangan dari les itu.

Nggak cuma di rumah, les tambahan dari guru sekolah juga ada yang digelar di ruang kelas sekolah. Seperti yang terjadi di sebuah sekolah negeri bilangan Ciledug, Tangerang.

Guru Fisika kelas XI di sana mengajak siswanya untuk membentuk sesuatu yang mereka sebut kelompok belajar sepulang sekolah. Nggak gratis, tiap peserta dikenakan iuran Rp 100.000 tiap bulan.

Sang guru yang tinggal jauh dari keluarganya di Cirebon sana itu buka les tiap Senin, Selasa dan Kamis, pukul 15.00 hingga menjelang magrib.

“Cara ngajarnya di kelas dan di les sebenarnya sama. Bedanya, di les dia lebih banyak bahas soal, buat latihan,” kata Alin salah satu murid yang mengikuti lesnya itu.

Tio, nama samaran, kakak kelas Alin yang sudah merasakan manfaat les tersebut cerita bahwa semenjak ikut les nilai Fisikanya bisa mencapai 85, naik 10 poin dari sebelumnya.

“Kalau anak les, tiap ulangan disuruhnya jawab pakai pensil aja. Nanti kalau ada yang salah, dia hapus dan dia ganti jawabannya. Gue pernah, tuh, pas kertas ulangannya dibalikkin, ada tulisan yang diganti. Gue tau banget itu bukan tulisan gue,” kata cewek yang walaupun sekarang sudah lulus SMA ini namun belum berkuliah.

Tak Mempan Sanksi

Seperti yang sudah kita duga, kehadiran guru yang buka bimbel di luar sekolah pasti akan menuai kecemburuan sekaligus kecurigaan.

Kegeraman terhadap gurunya itu makin menjadi-jadi pada Alfa. Gimana nggak, dia tahu ada temannya yang dipaksa untuk ikut lesnya.

“Pernah dulu ada temen yang nanya tentang matematika selesai jam pelajaran, eh, malah disuruh  dateng ke rumah beliau alias ikutan les, kan aneh banget?,” bocor siswa yang kini duduk di kelas XII IPA. Selain itu, guru tersebut juga jarang memberikan remedial dan diduga  Alfa suka asal dalam memberi nilai.

“Nilai UKK matematikaku aja cuma 75, padahal  aku peringkat tiga pararel rangkingnya dan ngerasa bisa ngerjain soalnya waktu itu,” curhat Alfa.

Nggak cuma para siswa yang jengah dengan ketidakadilan guru yang buka bimbel, pihak sekolah pun sebenarnya merasakan hal yang sama.

Bu Ani, nama samaran, guru di sekolah Alfa tahu betul gimana Bu Alan sudah ditegur oleh petinggi sekolah dan kurang disukai guru-guru lain karena kelakuannya itu.

“Saya pribadi dan beberapa guru amat sangat tidak setuju jika ada guru yang buka les di Sekolah, karena itu bertentangan dengan undang-undang dan peraturan pemerintah,” ungkap Bu Ani.

Bu Ani juga menyanyangkan sikap kepala sekolah yang terlalu memaklumi kelakuan bu Alan itu. “Ia (Bu Alan) sudah sering ditegur, tapi nggak dihiraukan. Selain itu, atasan di sini kurang tegas pula dalam memberi sanksi. Dulu pernah ditegus, tapi cuma ditegur saja tanpa ada kelanjutan. Alasan dia (pak Kepala Sekolah), sih, alasan kemanusiaan,” paparnya.

Jika menurut pada aturan, bu Ani berpendapat, bahwa aksi bu Alan itu bisa diganjar dengan sanksi potongan jam mengajar, sehingga nggak memenuhi syarat sertifikasi.

Isu Kesejahteraan

St Kartono, pengamat pendidikan, juga sepakat bahwa guru yang membuka bimbel berbayar untuk murid sekolahnya itu nggak adil. Menurutnya, guru mesti menuntaskan pengajarannya di kelas di sekolah.

“Guru (sekolah) itu bukan guru silat yang ketika punya sepuluh jurus tapi yang diajarkan kepada sekolahnya cuma sembilan. Jurus satunya disimpan hanya untuk yang mau bayar les ke dia. Seharusnya guru memberikan pelayanan yang utuh di sekolah. Kalau guru membuka bimbel untuk muridnya sendiri menurut saya itu kurang elok,” kata pria yang sering menulis kolom opini tentang pendidikan di surat kabar nasional ini.

St Kartono juga tak setuju jika alasan guru membuka bimbel itu adalah karena demi menutupi kebutuhannya yang nggak bisa dipenuhi dari gaji guru negeri. Katanya, “Saya tidak setuju kalau ketidaksejahteraan dipakai untuk pembelaan perilaku yang tidak etis. Peningkatan mutu dan guru yang etis itu nggak berkait langsung dengan penghasilan.”

 Dilarang Undang-undang dan Kode Etik

Dalam Undang-undang no 14 tahun 2005 pasal  1 guru diharapkan bisa menjalani profesinya dengan profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik

Lalu di pasal 20, kewajiban guru diatur. Guru yang membuka bimbel di luar sekolah melanggar poin c pasal tersebut yang menyebutkan bahwa guru memiliki kewajiban untuk:

“Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;”

 Sementara itu kode etik guru yang dirancang oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) melalui kongresnya pada 2013, guru disebutkan wajib menjaga hubungan profesional dengan peserta didik.

Pada PGRI XXI NO. VI/KONGRES/XXI/PGRI/2013 pasal 2 nomor 7, disebutkan guru wajib:

 “Menjaga hubungan profesional dengan peserta didik dan tidak memanfaatkan untuk keutungnagn pribadi dan /atau kelompok dan tidak mealnggar norma yang berlaku”

See? Kesimpulannya, kalau di sekolah lo ada guru yang buka les di luar sekolah, maka jangan ragu untuk adukan ke kepala sekolah dan pemerintah, bro! Tuntut dia untuk memberikan pengajaran maksimal dan adil kepada seluruh siswa. Ini adalah masalah sekolah yang mesti kita beresi bersama.

Penulis: Rizki Ramadan

Reporter: Rizki Ramadan, Rasyid Sidiq, Ghufron Zein.

Ilustrator: Rahman Subagio

Dipublis di: Majalah HAI no. 35 2016 (Cek PDF)

 

 

 

 

 

Bisnis Plesetan (nan Slengean) a la Kamengski


Dengan plesetan visual, Kamengski membuat pemuda urban gemar dengan Firdaus Oil, Meggy Z dan Nike Ardila
Kita tentu sepakat, bahwa di kalangan pemuda kelas menengah macam kita-kita ini, produk bermerk Firdaus Oil pasti ditampik. Kita menyadari keberadaannya sebagai minyak penumbuh bulu, tapi sangat jarang sekali menggunakannya. Begitu juga Meggy Z. Agaknya, jarang ada pemuda kekinian yang peduli dengan pedangdut Anggur Merah tersebut. Sebenarnya, Firdaus Oil dan Meggy Z tak beda dengan Pomade dan Elvis Presley. Semuanya bagian dari budaya popular. Hanya saja, mereka ngepop di dua kelas masyarakat yang berbeda. 
Hingga hadirlah Kamengski, lini usaha yang dalam konten baju dagangannya melakukan culture jamming bergaya plesetan visual. Dengan bahasa visual, Kamengski mencampur-adukkan budaya popular lintas kelas dan lintas regional—budaya pop global dicampur dengan yang lokal. Gambar pria brewok pada logo Firdaus Oil dibuang, diganti dengan rupa wajah tokoh yang sama-sama berbulu, tetapi datang dari budaya popular kelas berbeda. Diambillah gambar Chewbecca, karakter di Star Wars yang tubuhnya dipenuhi rambut, untuk menjelaskan merk Firdaus Oil. Begitu juga dengan Meggy Z. Kamengski menyematkan gambarnya di artwork untuk lagu “Holy War… The Punisment Due” milik Megadeth. Bukankah Meggy Z dan Megadeth nyaris sama bunyinya jika dilafalkan? 
“Anjr*t, kepikiran aja nih yang bikin. Hahaha,” komentar saya ketika pertama kali melihat produk  Kamengski. Saya yakin, kekaguman pemuda-pemuda lain akan Kamengski dimulai dengan ekspresi yang tak jauh beda seperti saya itu. 
Dimulai Dari Hasrat Berkarya dan Bercanda
Bendera Kamengski berkibar sejak 2009. Penggagasnya adalah Sulaiman Said dan Aditya Fachrizal (Godit). Tapi sekarang, Said menjadi satu-satunya biang keladi Kamengski. Pemuda 26 tahun lulusan Desain Komunikasi Visual, IKJ ini punya misi sederhana saat mendirikan Kamengski, “gue pengin karya gue bisa dijadiin kaus dan dipakai banyak orang.”
Ingin tahu asal nama Kamengski? siap-siap heran. Saat Said dan Godit memikirkan nama brand, lewatlah seniornya di kampus yang bernama Meang. Said biasa memanggilnya Ka Meang. “Biar lebih asik, ditambahin imbuhan -ski deh,” kata Said. Jadilah Kamengski. 
Walau mengangkat becandaan di karyanya, Said tak main-main dengan motivasi berkayanya itu. Ia pun serius mengumpulkan modal. Lulus kuliah, Said pun bekerja menjadi desainer grafis kantoran. Bukan untuk menetap, melainkan sekadar untuk mengumpulkan modal. Sambil bekerja, sambil ia terus jalani Kamengski. Satu persatu ide plesetan visual diproduksinya dan diperlihatkan ke teman-teman.
Mendulang respon yang baik, Said kian gencar membesarkan usaha. Ia pun nekat meminjam uang ke bank untuk modalnya membeli mesin cetak direct to garmen (DTG) seharga Rp 15 juta agar bisa memproduksi kaus satuan dengan mudah. Daya produksi pun meningkat sejalan dengan meningkat pula permintaan pasar. Tak disangka, pinjaman bank yang seharusnya diangsur setahun sudah bisa dilunasi Said hanya dalam jangka enam bulan. “Waktu itu, gara-gara lebaranan, kaus laku banyak banget. Pinjaman pun gue lunasin terus gue resign dari kantor,” kenang Said. 
Sudah sangat banyak sekali rupa culture jamming yang turut  meramaikan pergaulan muda-mudi perkotaan gara-gara ulah Kamengski. Selain Chewbecca di logo Firdaus Oil dan Meggy Z di album Megadeth, beberapa produk pamor dari Kamengski lainnya adalah baju bergambar cupang slayer yang disandingkan dengan logo band Slayers, tokoh fiksi Detektif Conan disandingkan dengan logo kamera Canon, dan logo sepatu Nike yang ditambahkan tulisan ‘Ardila’. 
Laku keras, kaus-kaus plesetan Kamengski pun viral di ranah online. Hingga tulisan ini dibuat, Kamengski memiliki 3750 pengikut di Twitter, 2573 di Facebook, dan  12397 di Instagram. Kini, Kamengski juga sudah punya markas. Di sebuah rumah mini daerah Lenteng Agung, Said bermukim. Di sana pulalah ia sendiri bekerja mengurusi produksi sekaligus penjualan Kamengski. Modal utamanya: mesin cetak DTG, dua unit PC, koneksi internet dan smartphone. Tak jauh dari tempat tinggalnya, Said juga menyewa toko. Kamengski pun menjadi distro. 
Soal omzet, jangan ditanya. Tiap bulan, kaus Kamengski yang dihargai Rp 115-150 ribu ini bisa terjual setidaknya seratus potong. Belum lagi jika Kamengski ikut buka lapak di bazar. “Minimal empat juta gue kantongin tiap bazar. Paling heboh sih waktu Holy Market di ruangrupa. Belasan juta deh gue dapet,” cerita Said senang. 

Sederhana Dalam Pemasaran. Santai dalam Penjualan

Said memilih untuk sederhana dalam pemasaran dan santai dalam penjualan. Untuk pemasaran, dia hanya mengandalkan akun-akun media sosialnya, itu pun bentuk promosinya sederhana dan tetap bernada bercanda. Di kolom bio Instagramnya saja, Kamengski mencantumkan deskripsi yang nyeleneh bukan main. “Rajin Ibadah, Ramah Tamah, Baik Hati, Murah Senyum, dan Tidak Sombong, mau curhat hubungi 081317722721.”
Etalase digitalnya di Instagram pun tak mewah, hanya berupa foto kaus, tanpa model,  itu pun difoto dengan kamera hape. Tidak seperti kebanyakan online shop yang tampil elegan dan tak jarang berhamburan hashtag.
Andalan promosi Kamengski lainnya adalah jaringan pertemanan. Berada di scene seni Jakarta juga membawa keuntungan bagi Said. Beberapa koleganya yang lebih dulu diikuti banyak followers, kerap mempost foto dirinya memakai baju Kamengski. Dari situ, plesetan visual khas Kamengski kian viral. 
 “Gue juga pernah coba ajak kerja sama akun humor di Instagram. Gue isi konten di situ. Lumayan. Sekali post, bisa nambah follower sampai 500,” cerita Said. 
Soal penjualan, sebenarnya, bisa saja Kamengski diikutkan ke bazar-bazar akbar seperti Jakcloth atau Brightspot. Tapi Said memilih untuk pelan-pelan. “Gue nggak mau agresif gitu ah. Lagian kalau gitu jadi nggak lux lagi produknya,” katanya. Beberapa temen yang ingin berinvenstasi juga pernah datang ke Said. Tapi lagi-lagi, Said belum menggubris satu pun tawarannya.  
 
Plesetan nggak ada matinya”

Untuk pengikut brand Kamengski sejak awal berdiri, pasti akan tahu bahwa di awal pendiriannya, gambar-gambar di kausnya lebih nyeni dengan menampilkan berbagai karya buatannya dan beberapa teman kampusnya. Namun, tak lama sejak itu akhirnya berbelok arah, dan memilih mengangkat plesetan visual saja hingga sekarang. 
Kenapa plesetan?
“Karena gue susah serius. Gue mau keliatan keren tapi udah pasti kalah keren. Jadi, mending katro aja deh. Jadi nggak mutu aja. Eh, malah banyak yang senang,” ujar Said enteng. 
Selain itu, menurut Said, bisnis parodi seperti yang dilakukannya itu tak akan pernah mati. Project Pop dan grup lawak Warkop saja, sebut Said, hingga kini masih terasa lucunya jika kita menyaksikan karya-karyanya. 
“Parodi, apalagi dalam bentuk visual pasti nggak gampang basi,” ujar pemuda yang juga merilis novel grafis Munir, Juli lalu. 
Ekspansi Dengan Berkolaborasi
Belum lama ini, Kamengski merilis kaus yang sama sekali tak mengandung unsur plesetannya. Gambarnya adalah sekolah anak punk sedang menyalami tangan ibunya. Di produk itu, Kamengski mengajak  Mufti Priyanka, ilustrator yang lebih dikenal dengan nama Amenkcoy. 
Amenkcoy, adalah satu dari beberapa nama seniman muda yang pernah diajak Kamengski untuk berkolaborasi. Bagi Said, Kamengski sangat terbuka dengan kolaborasi. Bahkan ia membutuhkannya agar menambah variasi produknya. “Kolaborasi penting biar kita bisa bersinergi dan saling bantu. Mau kolaborasi di media apa pun ayo-ayo aja,” jelas Said. 
Selain Kaus, Kamengski juga akan menambah jenis produknya.Selain pernah membuat gantungan baju berbentuk senapan, Kamengski juga berencana mengeluarkan casing smartphone dalam waktu dekat ini. Tentu, dengan desain yang khas dan unik.
“Gue nggak nyangka juga sih Kamengski udah segede ini. Apalagi gue nggak ada basic bisnis. Gue cuma menjalani ya karena gue suka dan gue senang,” tutup Said. 
Kunjungi: www.instagram.com/kamengski , www.twitter.com/kamengski, www.facebook.com/kamengski. 
Tulisan ini dimuat di rubrik Sidewalks di Things Magazine edisi Oktober. Terima kasih atas kesempatannya. Semoga bermanfaat. 😀  Berikut inilah bukti penampakannya: 


(foto: Dok. Kamengski )

Self-Published Your Photobook and Be Happy

Di era kemajuan teknologi, industri percetakan dan sosial media ini, rasanya tiap pehobi fotografi perlu menjadikan penerbitan buku fotonya sendiri sebagai pencapaian. Selain akan membahagiakan diri sendiri, ini penting untuk memperkaya referensi fotografi.


Kalau kita berkunjung ke toko buku dan melihat rak koleksi buku-buku fotografi, pasti yang banyak kita temui adalah buku-buku panduan teknik fotografi. Mulai dari panduan fotografi dasar, teknik pencahayaan, hingga panduan menguasai digital imaging dalam waktu singkat. Sementara buku fotografi yang berisi kumpulan karya foto dengan tema tertentu dari seorang fotografer sedikit sekali mengisi rak. Kalau pun ada pasti harganya mengejutkan. Kebanyakan harganya di atas Rp 300 ribu. Niat untuk mengoleksi buku foto, memperkaya referensi foto, dan mengapresiasi karya fotografer pun mau tak mau harus ditunda. 

Ridzki Noviansyah, seorang penikmat sekaligus pengamat fotografi cum co-founder Jakarta Photobook Club bahkan bercerita bahwa scene buku foto di Indonesia itu belum begitu hidup. “Sejak tahun 50-an, photobook Indonesia itu paling cuma ada 150-an buku. Sementara di Jerman setiap tahun bisa ada 150-an photobook yang terbit,” ujarnya. Data Ridzki tersebut mengacu dari pameran pemenang dan nominasi Penghargaan Buku Fotografi Terbaik Jerman 2013 yang digelar oleh Goethe Institute. 
Kalau melihat animo masyarakat akan fotografi yang terus meningkat, penerbitan buku foto itu perlu digalakkan demi menyeimbangkan semangat berfotografi masyarakat. Jika selama ini aspek produksi  dan distribusi (baca: pamer) foto yang paling sering digembar-gemborkan, maka penerbitan buku foto akan memicu semangat mengonsumsi serta mengapresiasi foto. Jika siklus produksi-konsumsi dalam ekosistem fotografi ini seimbang, geliat fotografi Indonesia pasti akan terus tumbuh dan semakin seru.

Untungnya, beberapa fotografer, baik dari kalangan hobi atau profesional, mulai memanfaatkan peluang dari perkembangan teknologi, media sosial dan industri percetakan. Satu persatu fotografer kemudian merancang, mendesain, mencetak lalu menjual buku fotonya secara independen, tanpa menunggu ‘ajakan’ dari penerbit besar. Tanpa mengandalkan penjualan di toko buku mayor. Kini, jika  rajin berjejaring di forum maya para pecinta fotografi, kita akan sering sekali disuguhi posting seorang fotografer yang sedang memperkenalkan buku fotonya. 
Aji Susanto Anom misalnya, fotografer muda asal kota Solo ini pada 13 September 2013 lalu merilis buku fotonya secara independen. Aji mengumpulkan foto-fotonya yang menggunakan pendekatan street photography merespon kejadian-kejadian sehari-hari di kota tempat tinggalnya. Buku berukuran sedikit lebih besar dari kartu pos itu kemudian ia beri judul Nothing Personal.

“Aku pengin menerbitkan buku karena aku pengin nyumbang karya dalam bentuk yang lebih nyata buat scene fotografi Indonesia,” tegas Aji yang juga menganggap menerbitkan buku foto dengan semangat Do It Yourself itu lebih mengasyikkan karena kita bisa menunjukkan idealisme dan cara berekspresi dengan sangat bebas. 
Selain Aji, ada juga Rian Afriadi, fotografer hobyist yang menggeluti fotografi pendekatan dokumenter subjektif yang  kini sedang merencanakan penerbitan buku fotonya. Bagi Rian, menerbitkan buku foto itu adalah  art statement. “Kalau gue lebih sebagai art statement dan doing it for love. Bukan demi uang. Apalagi hitung-hitungan profit bagi fotografer indie tentunya tidak terlalu wow,” ungkap Rian.
Bermodal Konsep dan Tekad
Berbicara soal langkah penerbitan buku foto, Ridzki menegaskan bahwa ketika kita ingin menerbitkan buku foto, maka yang paling perlu lakukan adalah mematangkan konsep dari foto-foto kita itu. “Jangan terlalu buru-buru apalagi merasa dikejar untuk menerbitkan photobook. Pematangan konsep dan tema foto itu lebih dibutuhkan,” ungkap Ridzki yang juga merekomendasikan kita untuk melihat sebuah photobook independen tentang joki cilik di pacuan kuda di NTB yang pengumpulan fotonya digarap oleh Romi Perbawa selama empat tahun. 
Matang di konsep dan tema, langkah selanjutnya adalah mendesain dan mencetak buku. Untuk tahap ini, kita bisa mengerjakan sendiri seluruh alur pengerjaan buku sendiri seperti yang dilakukan oleh Aji. Lulusan jurusan Desain Grafis ini mengerjakan sendiri desain tata letak, penulisan, pemilihan kertas dan pencetakan hingga penjilidan buku. 
proses pembuatan buku Nothing Personal. (foto dicomot dari FB Aji Susanto Anom)
Namun, jika belum menguasai teknik produksi buku, tak perlu risau. Dengan modal tekad yang kuat, kita pasti tetap bisa membuatnya, dengan menggunakan bantuan kawan misalnya, seperti yang dilakukan oleh Rian. Ia banyak berkonsultasi dengan desainer, teman-temannya yang sudah pernah berurusan dengan pencetakan buku, penulis dan editor.

O ya, metode kolaborasi juga bisa jadi opsi. Terutama jika kita punya kawan yang pendekatan fotografinya sama. Astrid Prasestianti dan Renaldy Fernando misalnya, yang pada 2012 lalu merilis buku berisi kumpulan foto-foto terbaiknya dari kamera analog. Buku yang diberi judul 88 itu dikerjakan secara kolaboratif. Setelah foto-foto dipilih bersama, Astrid yang sehari-harinya bekerja sebagai desainer mengerjakan urusan desain buku, sementara Renaldy banyak berperan di urusan promosi dan penjualan.
Satu hal lagi yang mesti diperhatikan dalam penerbitan buku foto adalah penyuntingan yang mencakup pemilihan foto, penentuan alur dan urutan penempatan foto. Dalam tahap ini, menurut Ridzki, fotografer memerlukan second opinion agar penyuntingan foto tak melulu mengikuti ego fotografer.
Pendapat Rian juga senada dengan Ridzki, katanya, “Si fotografer cenderung punya bias terhadap foto-fotonya. Ada kalanya kita ingin mempertahankan foto favorit padahal di mata viewer, foto itu malah dianggap merusak alur photobook.
Nah, soal pencetakan, seperti yang sudah kita tahu, kini jasa digital printing sudah menjamur. Semua pasti menyanggupi layanan cetak buku foto. Harga produksinya pun tak akan begitu mahal, apalagi jika kita langsung cetak banyak. Cukup siapkan file siap cetak, pilihan kertas dan jilidnya, selanjutnya kita serahkan ke para petugas percetakan.

Promosi dan Penjualan Bisa Tanpa Modal
Lewat media sosial kita bisa sangat mudah memperkenalkan buku foto kita dan menjualnya. Syaratnya pun simpel, cukup rajin berjejaring dengan forum-forum (group) pehobi fotografer dan pecinta buku foto. Setelahnya, cukup dengan membuat posting promosi yang menarik, kita sudah bisa mendapatkan peminat. 
Enaknya lagi, kita bahkan tak butuh banyak modal banyak untuk menerbitkan buku foto. Seperti yang dilakukan oleh Aji, dan duo Astrid-Renaldy yang menerapkan sistem pre-order. Jadi, kita hanya perlu modal untuk mencetak dummy, lalu kita promosikan via media sosial dan mengajak teman-teman yang berminat membeli untuk membayar uang mukanya terlebih dahulu. Uang muka itulah yang menjadi modal kita mencetak buku. Aji dan duo Astrid-Renaldy pun bisa mencapai target penjualan seperti yang diharapkannya. 
“Aku pertama cuma berencana bikin 100 buku, tapi ternyata permintaannya sampai 150 buku. Lumayan lah,” cerita Aji. 
Tentu, keberhasilan penjualan buku foto ini juga berbanding lurus dengan seberapa besar jaringan pecinta fotografi yang sudah dibangun si fotografer. “Pasar photobook itu sebenernya kecil. Tapi tergantung dengan networking si fotografernya juga,” ujar Ridzki. 
Perlunya Meningkatkan Pencapaian

Tren photobook ini jelas menjadi kabar baik bagi scene fotografi Indonesia. Namun, walau begitu, seperti yang disebutkan Ridzki, kita masih perlu juga meningkatkan pencapaiannya. Pertama, buku foto independen baiknya tak hanya disasar ke lingkup jaringan pertemanan di media sosial saja, melainkan ke segmen yang lebih luas lagi. “Para penerbit buku foto independen di luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura itu perhitungan pasarnya sudah nyebar ke negeri-negeri lainnya,” ungkap Ridzki. 
Selain itu, sekali lagi Ridzki mengingatkan jika kita ingin menjual buku foto, kita perlu mematangkan konsep atau setidaknya punya alasan kenapa khalayak mau membeli buku kita tersebut. “Karena itu, artist talks setelah buku foto dirilis perlu digelar sebagai sarana bedah buku dan ajang sharing cerita di balik pembuatan buku foto tersebut,” tambah Ridzki lagi. 
Nah, biar makin semangat, selalu ingatlah juga ungkapan “foto yang baik adalah foto yang dicetak.” Walau pun sekarang kita bisa mudah melihat foto di layar gadget, tetapi sensasi melihat foto kita tercetak dengan baik di kertas pilihan, apalagi dalam bentuk buku itu tak akan ada yang bisa menggantikannya. Selalu membahagiakan. Karena itulah, Mari kita cetak buku foto kita sendiri, seperti saran Aji jika kita ingin  menerbitkan buku foto maka, “Just do it! aja.”
Selamat mencoba. 😀
=======
Tulisan ini dimuat di rubrik Sidewalks di Things Magazine edisi Juli. Terima kasih atas kesempatannya. Semoga bermanfaat. 😀  

Mata Eropa si Fotografer Pribumi Pertama

Tak butuh waktu lama untuk fotografi datang ke Indonesia. Tak lebih dari dua tahun setelah dipatenkan, Daguerretype—kamera pertama yang diciptakan oleh seorang Perancis, Louis Daguerre—datang ke Indonesia. Seorang Belanda bernama Jurrian Munich-lah yang membawa kamera pertama kali ke tanah Jawa. Saat itu adalah tahun 1840 ketika Munich ditugaskan untuk melakukan pemotretan flora dan peninggalan bersejarah di Hindia Belanda

 

Namun, baru setelah dua puluh tahun sejak kedatangannya, kamera baru benar-benar dioperasikan oleh pribumi, yaitu oleh Kassian Cephas, nama yang pastinya sudah kita banyak kenal sebagai fotografer pribumi pertama. Kassian berusia 20an tahun ketika itu. Sebagai salah satu pekerja di kesultanan ia berkesempatan untuk berlatih fotografi kepada jurufoto pemerintah Hindia Belanda yang ditugaskan di kesultanan Yogyakarta, Simon Willem Camerik.

 

Tak ada catatan pasti kapan Kassian pertama kali berlatih fotografi, tapi jika dilihat dari waktu tinggal Simon di Yogyakarta, maka Kassian mulai menggeluti fotografi pada kisaran 1861-1871.

Continue reading Mata Eropa si Fotografer Pribumi Pertama

Parkour: Seni Gerak Yang Kaya Nilai

 

Far magazine edisi 16, Desember 2011
Berawal dari ikut ayahnya yang seorang pemadam kebakaran latihan melewati halang rintang, David Belle kemudian mengaplikasikan teknik-teknik tersebut di lingkungan sehari-hari di Prancis sana. Dari situ lah, Parkour sebagai seni berpindah tempat yang mengutamakan efisiensi dan efektifitas berkembang. Hingga kini, disiplin ini sudah ditularkan nyaris ke semua negara, termasuk di Indonesia.
Parkour mulai dikenal Indonesia mulai masuk di tahun 2007. Di tahun pertamanya Malang, Bandung, Yogya, Surabaya dan Jakarta menjadi lima kota pertama yang mulai menggeluti kegiatan Parkour ini. Melalui obrol-obrol lewat forum di dunia maya akhirnya mereka bersatu membentuk Parkour Indonesia. Dari situ lah 17 Juli 2007 pun dimantapkan sebagai hari jadi Parkour Indonesia. Kini, nyaris disetiap kota-kota besar di Indonesia memiliki organisasi parkournya.

Di Jakarta sendiri, komunitas Parkour-nya dimulai oleh segelintir orang saja. Di antaranya  adalah Fadli dan Daniel. Dari segelintir orang tersebut, kini mereka sudah menarik peminat lebih banyak. Menurut pendataan yang dilakukan pada Mei kemarin, ada sekitar 60 anggota tetap yang tergabung. Kalau dihitung jumlah orang ikut berlatih, Daniel menyatakan jumlahnya bisa lebih dari seribu orang. Menariknya lagi, para anggota ini tidak dibatasi umur dan jenis kelaminnya. Bahkan anak kelas 1 SD pun pernah gabung latihan.
Mengambil tempat di Gelora Bung Karno, Senayan anak-anak Parkour Jakarta ini rutin latihan tiap Minggu pagi.  Nah, bagi kita yang tertarik untuk gabung mencoba seperti apa sih Parkour itu kita bisa langsung datang ke sana. Tidak ada pungutan biaya sama sekali. Cukup datang bawa diri. Di sana kita bakal diajarkan teknik-teknik dasar Parkour.
Bukan cuma latihan rutin aja yang diadakan oleh komunitas ini. Untuk saling memupuk rasa persaudaraan, para anggota parkour tiap kota ini sering melakukan jamming, melalui ajang ini mereka saling bertukar informasi dan saling mengajarkan teknik-teknik terkini. Pertengahan September kemarin pun, diadakan Jamming Nasional di Yogyakarta. Komunitas Parkour dari tiap kota berkumpul disana. Kebayangkan gimana ramai dan serunya.
Sekilas parkour memang terlihat sebagai olahraga ektrim. Apalagi kalau kita liat aksi yang sering dilakukannya. Melompat dari ketinggian, berguling-guling di tanah, memanjat tembok hingga melompati mobil. Tapi ternyata, Parkour bawaan David Belle ini tidak bisa disebut sebagai cabang olahraga. “Parkour itu tidak bisa dikotak-kotakkan sebagai olahraga. Lebih tepatnya parkour disebut sebagai suatu disiplin atau seni,” ungkap Daniel.
Sebagai disiplin yang bukan cabang olahraga, nggak ada tuh yang namanya kompetisi-kompetisi. Parkour sangat menjunjung tinggi nilai kebersamaan, dan semangat saling berbagi. kompetisi hanya akan membuat para anggota parkour jadi bersaing untuk jago-jagoan teknik. Semua nilai-nilai itu terrangkum dalam slogan Parkour, yaitu etre fort pour etre utile’ yang artinya menjadi kuat dan berguna.  Jadi, kekuatan yang didapat dari Parkour harus bisa diaplikasikan di kehidupan sehari-hari.
Nah, setelah kita lihat dan kenali lebih dalam lagi, kita bakal tahu kalau parkour itu bukan sekedar aktivitas nekat-nekatan yang cuma mengandalkan nyali semata. Banyak nilai dan filosofi dari bisa kita ambil dari sini. Untuk bisa melewati rintangan dengan efektif dan efisien itu diperlukan kreatifitas, kita perlu peka melihat celah. Selain itu, melawan rasa takut dan kemauan untuk bangkit dari kegagalan menjadi hal dilatih melalui parkour ini. Dengan terbiasa melewati rintangan melalui parkour kita juga bakal terbiasa melewati masalah-masalah dalam kehidupan. Betul nggak?
Tertarik untuk gabung melintasi rintangan di komunitas Parkour Indonesia? Kalian bisa langsung kunjungi www.parkourindonesia.co.id.
Selamat mencoba