Malam Minggu

Aku akan berolahraga besok pagi.

Berenang di kolam ikan bolak-balik sepuluh kali.

 

Aku akan sarapan nasi uduk di tengah jalan.

Sambil membacai puisi yang ada di halaman iklan

koran akhir pekan

 

Aku akan memperbaiki kasurku yang amblas besok siang.

Hari ini aku tidur seharian sambil nyemil Instagram.

Jempolku kapalan, berat mataku bertambah 2 kilogram.

 

Tapi malam ini aku mau memimpin upacara.

 

Di halaman rumah sudah kusiapkan seperangkat alat masak.

Demi membantu siapapun untuk menghangatkan semangat,

yang gampang basi seperti janji orang sibuk.

 

Aku sudah mengundang para perindu

yang sedang kehabisan kenangan untuk turut serta.

Akan kuajarkan cara mengheningkan cipta

diiringi drama Korea.

Obsesi Pada Memori

Tontonlah serial Black Mirror episode The Entire History of You. Maka kau akan gusar, dan berharap ketika kau masuk ke selimut, waktu di luar nggak berjalan sedetik pun. Kamu akan membenci waktu, karena waktu akan membuat teknologi semakin canggih. Dan karena teknologi canggih akan membuat kita berada di situasi yang suangat paradoks. Di satu sisi kita jadi makin bebas dan luas akses, tapi di satu sisi kita terawasi, mudah dilacak, dikungkung.

Episode Black Mirror yang satu itu isinya tentang kisah cinta di masa depan. Masa ketika menyimpan kebohongan sama mustahilnya seperti mengemut sikut sendiri.

Semua yang kita lihat, apa yang kita dengar, terekam dengan sangat baik di chip yang ditanam di otak kita. Kita bisa memutar ulang rekaman itu. Putar tombol, scroll data memori kita, dan voila, ingatan kita diproyeksikan. Bisa di depan mata, ditembakkan ke tembok, atau diputar di layar tv. Duh, lebih ngeri dari zaman Soeharto gak sih?.

Fi adalah seorang istri. Liam, sang suami curiga betul kalau Fi ada main dengan pria yang mereka temui di sebuah pesta kecil. Sampai di rumah, Liam menonton ulang ingatannya, di zoom sana-sini demi memerhatikan ekspresi istrinya saat di pesta tadi.

“Not everything that isn’t true is a lie, Liam,” Fi lihai mengelak, kawan-kawan. Kata-katanya quotable pula

Tapi, di masa itu, sejago-jagonya mulut mengelak, rekaman memori juga lah yang akan menindak.

Liam mendatangi si cowok tertuduh peselingkuh itu. Liam memaksa si cowok itu menghapus segala memori tentang istrinya yang ada di kepalanya. Tentu, sebelumnya memori itu terpampang. Satu file video ditemukan, bisa jadi bukti kuat.

“Apakah anak kita adalah benar-benar anak kita? Aku tak percaya.”

Lalu Fi dipaksa memutar segala memori tentang si cowok itu. Ditemukanlah satu memori video yang mengungkap segalanya.

Pokoknya, di akhir cerita, Liam yang sebenernya cinta sama Fi mengutuk chip perekam tersebut.

Jadi, kenapa kita terobsesi pada rekaman memori? Dan, kalau memori bisa diputer-puter terus, bahkan bisa ditonton, apakah di masa depan nanti, ketika teknologi udah makin cuanggih, kita masih akan punya masa yang udah berlalu?

Jejak Sastrawan di Majalah HAI

Ini adalah majalah HAI 2 Januari 1978. Ada cerpen karangan Leila Chudori di situ, ceritanya tentang Peter, siswa SMA yang mengigau saat tidur di kelas. Gurunya yang jadi sasaran, ia dikatai Peter dalam igauannya itu. Leila yang kelahiran 1962, saat itu berusia 16 tahun.

12 tahun setelahnya, di HAI edisi 11 tahun 1990, saya nemu nama Eka Kurniawan di rubrik surat pembaca. “EKA Kurniawan, kelas III A, SMPN 1 Pangandaran” begitu jelasnya. Dugaan saya, itu adalah Eka Kurniawan yang novelis itu. Doi kan emang asal Tasikmalaya.

Sembilan tahun kemudian, di HAI edisi 44 tahun 1999 ada cerpen Teman Kencan karangan Eka. Menurut buku kumcer Corat-coret di Toilet, sih, senggaknya ada tiga cerpen Eka yang pernah dimuat HAI. Eka kelahiran 1975, saat itu dia berusia 24 tahun. Sedang kuliah Filsafat di UGM berarti.

Saya juga pernah nemu cerpen Peluk karangan Dewi Lestari di HAI tahun 90-an saat lagi iseng menjelajah arsip majalah HAI.

HAI jaman baheula rupanya punya peran penting bagi para calon penulis besar yang saat itu masih muda. HAI jaman dulu, selalu ngasih ruang banyak untuk cerpen, puisi, dan komik.

Singkatnya, banyak penulis idola saya saat masih muda menjadikan HAI sebagai salah satu batu loncatannya. Gue jadi agak nyesel, waktu SMA belum segitunya sih sama dunia tulis menulis dan media. Jadi, kenal HAI cuma seadanya

Bagaimana dengan sekarang? Tinggal nunggu aja sih, lima tahun lagi deh. Saya yakin anak-anak SMA yang suka kirim artikel, ngajuin diri minta liputan ini-itu, bersikeras kirim puisi atau cerpen berkali-kali ke email redaksi walau tau HAI sekarang cuma sesekali aja nampilin sastra, mereka pasti bakal menjelma jadi sosok muda yang gue idolakan juga.
.
Dan saat itu umur gue cuma beda beberapa tahun sama umur HAI yang hari ini, 5 Januari ini, genap 40 tahun :/

Ngomong-ngomong, selamat ultah HAI. Semoga rubrik cerpen dimunculin dan digiati lagi, bukan cuma diadain untuk nambel aja tiap kali tiba2 masih halaman kosong. :p

Tulisan Feature Pertama untuk HAI

Karena HAI lagi ulang tahun ke-40 gue jadi inget artikel ini, artikel feature pertama yang saya tulis untuk HAI. Saat itu 2010, saat saya di HAI sebagai reporter magang. Masih jadi mahasiswa pastinya.
.
“Gue pengen nyoba lo bikin artikel panjang ,” kata mas Yorgi, editor desk sekolah, saat itu, “temanya tentang cewek B.B.B.”
.
Di masa itu, istilah cewek BBB emang hits, untuk merujuk para ciwik-ciwik yang memakai behel, penenteng Black Berry, dan berambut gaya belah tengah. Singkatnya, para cewek BBB adalah cewek-cewek hits, gaul, elit, dan kekinian pada masanya.
.
Saat dikasih tawaran nulls feature, saya senang. tapi saat dijabarin tugasnya saya keki. Saya mesti cari 3 cewek BBB yang beneran cakep dan gaul, terus wawancara 3 cowok SMA untuk minta testimoni mereka tentang cewek BBB ini. Maklum, dulu masih kikuk menghadapi narasumber, apalagi cewek cakep nan elit.

Coba aja dulu udah ada LINE, saya nggak mesti keliling-keliling sekolah daerah Bulungan, Kebayoran Lama, untuk nyari cewek BBB yang mau diwawancara dan diajak ke kantor untuk foto.

Dan kocaknya, ada salah satu cewek BBB narsum gue yang komplain dengan artikelnya saat terbit.

“Kak, cerita gue suka dugem, kok, lo tulis sih?”

“Wah, emang kenapa? kan lo sendiri yang cerita”

“Nyokap gue baca. Jadi ketauan deh. Gue diomelin nih!” .

Eng ing eng.

10 Cara untuk Jadi Menyebalkan

Orang-orang nggak enakan yang bercita-cita ingin jadi jahat, tapi selalu gagal, bisa mencoba cara-cara sederhana ini:

1. Jika ada rekan kerjamu mempost foto dirinya sedang duduk di resto cantik, atau sedang melompat ke laut, atau sedang mencium pipi pacarnya, maka tagihlah kerjaannya, atau ingatkan utangnya di kolom komentar.

2. Buatlah grup WhatsApp Keluarga Besar, dan pastikan semua saudara-saudaramu yang masih muda kamu invite.

3. Ketika ada pengamen, berilah ia uang Rp 5.000 tapi kamu minta kembalian sejumlah Rp 4.500. Memberi, harus dalam jumlah yang kita sanggup iklaskan, kan?

4. Jadilah orang yang nggak langsung membalas chat yang masuk tapi tetap menelusuri linimasa medsosmu, dan tinggalkan jejak like di mana-mana. Jika ada yang bertanya, kamu bisa pilih alasan-alasan berikut:

 “Kan, gue punya hak untuk milih mana yang pengen gue bales, mana yang nggak”

  “Chat lo tenggelem. Maaf yah,”

  “Astaga, keingetnya udah bales.”

5. Ganti knalpot motormu dengan knalpot yang menyembur. Ketika ada pengemudi motor di belakang yang menegurmu karena mukanya sudah menjadi sasaran tembak, maka bantahlah. “Kalau nggak mau kena asep, nggak usah keluar. Di rumah aja sono!”

6. Ceritakan semua yang sudah kamu capai, karya yang sudah kamu bikin, film series yang kamu tonton maraton, dan segala  idealismemu ke orang yang kau suka sampai ia cuma bisa ngangguk-angguk dan menyimpulkan dengan kalimat, “Dunia lo keren, yah. Gue cuma jarum di jam yang keabisan baterai,” dan kau menganggap sindiran itu sebagai pujian.
.
7. Bilang kalau kamu nggak jadi sanggup mengerjakan sesuatu yang ditawarkan temanmu, ketika sudah mepet deadline

8. Utarakan ketidaksukaanmu, senggaknya lima kali sehari. Misalnya, “Gue nggak suka judul artikel gue diubah,” atau, “Bang, ketopraknya kok nggak enak?”, atau, “Mas, ini saya balikin, sampah yang tadi situ buang”

9. menunjukkan kesanggupan untuk memenuhi 10 hal, tapi nyatanya, 9 pun tak sampai.

Saya sudah melakukan beberapa di antaranya dan terbukti, bikin jadi nggak enakkemudian. Jika ada yang pernah terlibat, satu kata empat huruf untukmu: maaf.

Ra Iso Kayak Daiso

Ra Iso Kayak Daiso

Kalian pasti tau Daiso. Temen-temen saya, sih, udah sering banget bercerita beli ini-itu secara tiba-tiba saat mampir ke sana. Sore tadi, saya pertama kalinya saya ke minimarket pernak-pernik “ajaib”  dari Jepang berharga  murah itu

“Yang ini harganya berapa, mbak?” tanya saya sambil menunjuk sebuah kotak plastik.

“Semua yang ada di sini 25 ribu, mas.”

“Wah!”

Ternyata Daiso sebaik itu yah. Saya lalu berkeliling. Apapun bendanya, yang saya pikirkan adalah, ini bisa berguna jadi apa yah, kayaknya asik nih untuk dibeli. Toh, harganya sama murahnya.

Di sekitaran kotak yang saya tanyakan tadi itu, ada banyak kotak-kotak lain. Ukurannya beda-beda, ada yang 25×25 cm, ada yang 10×20 cm tapi ada gagangnya, ada juga yang bentuknya kayak kerangjang. Semua harganya setara, 25 ribu.

Antusiasme saya tiba-tiba menurun ketika pindah ke rak lainnya. Melihat senter jepit yang sama persis seperti yang biasa dijual di bus kota seharga Rp 10.000.  Di rak lain, ada juga kaos kaki yang coraknya lucu, pun bahannya enak. Kalau disandingkan dengan Sport Station, kaos kaki kayak gitu biasanya bisa kita dapat senggaknya kalau ada I Gusti Ngurah Rai di dalam dompet.

Kalau dipikir-pikir, timpang yah. Sesuatu yang punya nilai lebih tinggi (dan mungkin biaya produksinya juga tinggi) disamakan harganya dengan sesuatu yang nilainya lebih rendah.  Walau pun di balik sistem harga seperti itu ada subsidi silang antar produk, tapi kan, gimana perasaan si pembuat kaos kaki supernyaman dan estetik itu coba?

Dulu, waktu kuliah Statistika Sosial, dosen saya punya cara unik dalam ngasih penilaian. Saya yang bahkan nggak ngerti apa itu regresi, ordinal, apalagi SPSS, bisa dapet nilai B. Sama persis kayak nilai temen sekelas saya yang emang bercita-cita ngerjain skripsi kuantitatifnya sendiri. Bagi saya, itu adalah rezeki, bagi teman saya, itu adalah sumber kekesalan.
.
“Kesetaraan itu belum tentu adil.” Saya ingat Rima pernah ngomong gitu, setelah baca bab Gender dan Pembangunan di buku Sosiologi Umum punya adiknya.

Okeh, atas nama keadilan, saya nggak jadi jajan di Daiso #tapiboong .

Yang Lama dari Tahun Baru

1.

Bagi tukang koran di seluruh nusantara ini, tahun baru dan tanggal-tanggal merah lainnya adalah celaka. Tak ada terbitan yang bisa mereka jual. Tak ada surat kabar yang terbit di hari ini, ya walaupun beberapa para wartawannya dipastikan mesti tetap seliweran liputan. Abang N misalnya, penjual koran yang biasa mangkal di depan komplek, tiap tanggal merah lebih sering terlihat jadi tukang parkir di minimarket daripada di kios korannya.

2.

Baju-baju kotor di ember depan kamar mandi pemuda R sudah menumpuk. Sudah seharusnya ia membawanya ke londri. Ia juga sudah menyiapkan plastik ukuran jumbo untuk mengangkut baju-baju apek gudang daki dan noda itu. Namun, ia malas. Baru dua hari lalu ia akhirnya tergerak berangkat. Itu pun berujung gagal. Padahal si mbok penjaga londri sudah menimbang baju dan menuliskan bon.

“Selesainya kapan, Bu?”

“Tahun depan, Dek.”

“Astaga.”

3.

Anak-anak muda yang bisa check in di hotel bersama teman-temannya lalu naik ke rooftop gedung jelang jam 12 malam untuk melihat kembang api dan menertawakan kota yang ada di bawahnya, boleh bahagia. Tapi mereka masih kalah bahagia dari penjual kembang api di pinggir jalan. Jumlah lembaran uang yang mereka dapat kemarin bisa lebih banyak dari jumlah struk yang ada di tempat sampah satu gerbang tol saat mudik lebaran. Jelang jam 12 malam, mereka juga bisa tertawa sambil menyalakan kembang api sisa yang belum terjual, atau membagi-bagikannya ke tetangga-tetangganya, tanpa merasa rugi sedikitpun.

4.

Coba lihat isi buku harianmu, atau atau kertas post it yang kau tempel di cermin agar tiap kali kau berdandan sebelum memulai hari kau selalu melihatnya. Ada berapa catatan rencana tahunan yang malah kau coret? Tenang, kau tak perlu gusar. Selama malaikat maut belum jadi motivator yang suka dakwah di televisi, bermimpi sengaco-ngaconya adalah hak segala bangsa. Kau juga boleh menertawakan tiap mimpi-mimpi lamamu yang gagal itu tiap tahun baru seperti mamah dedeh terkekeh tiap kali ia mati gaya di depan kamera. Penonton yang mudah diajak bertepuk tangan, dan jeda iklan, akan menyelamatkanmu

Tips Menyenangkan untuk Bersedih

Andai tak ada kesepakatan tak tertulis antar para laki-laki untuk tidak saling memedulikan perasaannya masing-masing, pemuda R pasti akan menghampiri pemuda K, memberikan senyumnya yang paling sederhana lalu menepuk pundaknya sambil berkata, “Ada apa?”

Dan pemuda K pun takkan menjawab karena ia lebih senang sesunggukan mengikuti irama tangisannya.

Setengah jam yang lalu, pemuda K wara-wiri dari satu situs ke situs lain. Ia ingin menonton film yang ia sudah tonton dua tahun lalu tapi ia lupa sama sekali apa judulnya. Yang ia ingat betul adalah, setengah jam terakhir film itu membuat ia menangis, seperti seorang anak sulung pertama kali melihat foto bapak kesayangannya ada di sampul buku Yasin.

Film itu bercerita tentang seorang pewarta foto perang. Ia wanita. Semakin lama, suaminya semakin mengutuk profesinya itu. Siapa pula keluarga yang mau ditinggal pergi dalam kurun waktu yang lama, dan tak pernah jelas bisa pulang ke rumah atau ke makam. Pun, durasi kerjanya yang lama itu kerap bikin si suami keki membohongi syahwat barangkali. Di setengah jam terakhir itu, si pewarta foto dirundung dilema luar biasa: gantung kamera, atau ia akan kehilangan keluarga. Manusia memang tak diciptakan untuk bisa memelihara dua cinta sekaligus, agaknya. Jadi, ia harus memilih.

Continue reading Tips Menyenangkan untuk Bersedih

Resensi Novel “KAMU Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya” karangan Sabda Armandio Alif

Suka banget sama novel ini. Ceritanya seru nan ajaib; sepanjang buku bertaburan kalimat-kalimat cerdas; dan pemikiran-pemikiran dua tokoh utama: si aku (narator) dan Kamu sangat cespleng. Dari mulai pemikiran soal sekolah dan sistem pendidikan, negara, agama, cinta, kenangan, sampai masalah kesepian.

Tiap baca buku, saya selalu menandai potongan cerita, atau kalimat yang gue suka. Nah, di novel ini, gue menghabiskan nggak kurang dari 30 lembar post-it! Ini beberapanya:

“Aku cuma senang tertawa. Kau tahu kenapa? Mungkin aku hanya sedang berusaha mengecoh kesepian.”

“Aku ingin jadi pengarang agar bisa memetakan pikiran dan perasaanku sendiri.”

dan ini juga:

“Suatu hari aku mau jadi petani. Mencangkul sambil menyanyikan lagu-lagu AC/DC, kayaknya gagah sekali. Aku baca di koran, katanya pembangunan mal di Jakarta masuk rangking sepuluh besar di dunia, dan orang-orang bangga. Aku justru heran, sebenarnya itu kemajuan atau kemunduran, sih?”

Bahkan–ini norak–ada satu bagian yang saat saya baca, saya sampai melempar bukunya ke tembok, sambil cengegesan, saking greget kagum sama cerita dan olahan-olahan kalimatnya

Kalau dipikir-pikir, 70 persen novel ini berisi tumpahan pemikiran si aku yang memang hobi banget melamun (si aku adalah pelamun yang lebih suka mie instan ketimbang senja). Di satu titik saya ngerasa buku ini lebih terasa sebagai panduan melamun dan merapihkan pikiran, alih-alih sebagai novel. Sampai sekarang pun, tokoh si aku dan Kamu semacam hidup di dalam kepala. Tiap kali sedang melamun, saya membayangkan saya bercerita ke mereka gitu. Waa

Mau tau ceritanya? kira-kira gini:

Di suatu malam, si aku mengenang sahabatnya yg bernama Kamu. Saat SMA, jelang ujian nasional, mereka hatrick bolos: tiga hari berturut-turut. Hari pertama, cerita ajaib dialami di alam mimpi

Hari 2, si aku menemani mantan pacarnya yang hamil entah oleh siapa, ke dokter. Hari ketiga, mereka bertemu Permen.

Selesai baca saya bertanya, berapa banyak buku lagi yang mesti gue baca ya biar bisa nulis cerita seasik ini

Seperti Menemukan Tahu Sumedang di Belitung

Kunjungan saya ke Belitung ini besar dipengaruhi oleh Rima yang berulang tahun. Ia ingin merayakannya dengan nyobain solo traveling  di saat-saat ia menuju usia 23 tahun. Rima sudah merencanakannya sejak lama. Sejak September kalau nggak salah. Doi sudah beli tiket pesawatnya–lewat penjual tiket promo di Instagram–sudah memesan kamar untuk dirinya di Surya, penginapan yang paling direkomendasikan para bloger karena biaya permalamnya berkisar 80-150 ribu; dan sudah merencanakan tempat-tempat yang akan dikunjunginya kemudian. 

Nah, yang terakhir itu Rima nggak mau banyak menceritakannya. Ya nggak masalah. Rima punya hak untuk memiliki rencana perjalanannya sendiri; sebagaimana saya punya hak untuk diam-diam punya rencana untuk menyusulnya.

Saya berangkat Sabtu siang bermodal tiket Sriwijaya yang saya beli sekitar Rp 350.000. Agak nggak mau kalah dari Rima, saya pun ingin mencicip pengalaman menjelajah daerah baru sendirian. Setibanya di Belitung saya langsung menaruh barang di penginapan, menyewa motor Kharisma beserta helmnya dengan ongkos Rp 70.000 perhari, lalu ngebut–tapi sayang, kecepatannya cuma mentok di 60 km/jam–ke daerah Pantai Tanjung Klayar yang berjarak sekitar 35 km dari kota Tanjung Pandan, dengan mengandalkan GMaps tentunya. Jalanan yang saya lewati itu adalah jalanan yang paling damai, bersahaja, dan sepi yang pernah saya lewati. Di kota tempat kita bisa meninggalkan motor dengan kunci masih terpasang sekali pun, tanpa merasa resah akan ada yang mencurinya ini, jalanan sepi nggak menyimpan ancaman.

Continue reading Seperti Menemukan Tahu Sumedang di Belitung