Kutipan Berkesan Dari The Catcher in The Rye – J.D. Salinger

Saya sudah lama tahu novel ini. Pertama kali saat kuliah, salah satu teman baik saya, Andra, punya satu di kamarnya. Ia pernah bercerita bahwa ini adalah novel tentang kemarahan.

Baru pada 2015 saya membelinya: versi bahasa Inggris. Nemu di sebuah obral buku. Dijual cuma Rp 45 ribu. Saya coba baca, duh, bahasa Inggris saya kurang mumpuni ternyata. Jadi, saat dengar kabar penerbit Banana cetak ulang versi bahasa Inggrisnya ya saya niatkan beli.

Saya selalu suka cerita-cerita tentang cowok SMA beranjak dewasa. Nah, cerita Holden ini menawarkan tema baru. Hidup Holdeh penuh masalah dan karena itu ia senang mempermasalahkan banyak hal. Ia nggak dikeluarkan dari sekolah karena nilainya kurang baik–kecuali bahasa Inggris. Guru yang berpengaruh baginya pun cuma bisa menolongnya dengan nasihat alih-alih kenaikan kelas. Teman sekamarnya kencan dengan kasih tak sampainya.

Usai berkelahi Stradler, teman sekamarnya, Holden memutuskan ciao menuju New York membawa ransel, memakai topi berburu, mengemut rokok, mengantongi uang tabungan dan menyeret setumpuk kegelisahan: menuju kereta, hostel mesum, gedung pertunjukan, taman kota, rumahnya sendiri, dan kebun binatang.

Ia mencari cara untuk bisa berbicara dengan orang. Namun, orang-orang yang ia temuinya, baik sengaja maupun nggak, di kereta, hostel, atau pun gedung pertunjukan nggak menunjukkan gejala bahwa mereka benar-benar peduli dan mau menemani Holden. Padahal yang Holden butuhkan cuma satu: penerimaan.

Saya juga selalu suka dengan novel-novel yang mengobok-obok dialog interior tokoh utamanya. Holden adalah pengoceh yang lebih dari baik. Ia selalu meladeni segala pikiran yang melintas di kepalanya. Saya suka bagaimana Holden menunjukkan kebenciannya terhadap orang-orang yang munafik, orang-orang yang terlalu institusional, sistem pendidikan, maskulinitas teman-temannya dan kadang ia juga membenci dirinya sendiri.

“Menjadi seorang pengecut memang bukan hal yang menyenangkan,” tukasnya.

Selama membaca buku ini, seperti juga buku-buku lainnya, saya menandai tiap kalimat yang cespleng. Karena saya punya versi bahasa Inggrisnya, maka sesekali saya membacanya secara bilingual. Atas nama iseng.

Selain imbuhan “dan semuanya”, “atau apalah”, dan “Maksudku begini” ada banyak potongan kalimat yang begitu melekat. Beberapa di antaranya adalah:

  • Halaman 26:

Menurutku, yang namanya buku dahsyat adalah, yang begitu selesai dibaca, kita lantas berandai-andai bahwa si penulis cerita tersebut adalah teman baik kita sehingga kita bisa saja langsung telepon kapan pun kita baik. Tidak banyak buku seperti itu.”

  • Halaman 106:

Aku cukup dekat dengannya. Maksudku bukan secara fisik atau apalah–bukan begitu–tetapi kamu selalu jalan bareng waktu itu. Kita tidak selalu harus mengarah ke yang begitu-begituan untuk bisa kenal dengan seorang perempuan.

  • Halaman 110:

Untuk gadis-gadis tertentu, kita memang kadang-kadang tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

  • Halaman 122

Aku sendiri selalu mengucapkan ‘senang berkenalan denganmu’ setiap kali berkenalan dengan orang yang sebetulnya sama sekalai tidak aku senangi. Kalau ingin terus selamat dalam hidup ini, kita harus selalu mengulang-ulang ucapan palsu seperti ini.

  • Halaman 124:

Menjadi seorang pengecut memang bukan hal yang menyenangkan. Mungkin sebetulnya aku bukan pengecut betulan. Ah, entahlah, aku tidak tahu. Aku pikir barangkali aku ini cuma setengah pengecut. Setengahnya lagi adalah tidak pedulian.

  • Halaman 138:

Di tempat tidur, aku tiba-tiba ingin berdoa atau seperti itulah. Tetapi aku tidak bisa. Aku selalu saja tidak bisa berdoa justru pada saat aku sedang ingin. Pertama, aku memang agak ateis juga. Aku menyukai Yesus dan sebagainya, tetapi aku tidak terlalu ambil pusing dengan semua yang ada dalam Alkitab.”

  • Halaman 146:

Sebetulnya yang benar-benar ingin aku lakukan pada saat itu adalah bunuh diri. Aku merasa kepingin melocat dari jendela. Seandainya aku bisa yakin bahwa aka nada orang yang langsung menutupi bangkaiku begiut aku menghajar tanah nanti, mungkin aku akan lakukan itu. Aku cuma tidak ingin ada rombongan sirkus berisi para ceucunguk tengik yang melongok-longok melihatku dalam kondisi menjijikan seperti itu .

  • Halaman 147:

“Tentu. Oke juga.”

Oke juga. Oke juga adalah kata yang aku benci. Palsu.

  • Halaman 158:

Uang sialan. Yang memang tak pernah bisa bikin kita merasa senang.

  • Halaman 184:

Sekali-sekali kamu harus mampir ke sekolah khusus anak laki-laki. Coba saja kapan-kapan, “ kataku. “sekolah seperi itu selalu saja penuh sesak dengan pemuda-pemuda yang serba munafik. Satu-satunya yang harus kami pelajari adalah belajar keras agar kami bisa tahu bagaimana caranya bisa jadi cukup cerdas. Cukup cerdas agar bisa beli Cadillac sialan suatu hari nanti. Kami harus berpura-pura dengan sekuat tenaga menipu diri dan meyakin-yakinkan betul pada diri kami sendiri bahwa sialan betul kalau tim sepak bola sekolah kami sampai kalah. Dan yang kami harus lakukan tiap hari adalah sibuk mengoceh soal gadis yang juga tentang minuman keras dan seks seharian penuh. Lalu semua orang saling membela satu sama lain yang tergabun dalam kelompok mereka masing-masing.

  • Halaman 207:

Orang-orang cerdas seperti dia hanya bisa bercakapa-cakap secara intelektual apabila mereka yang pegang kendali. Mereka selalu menyuruh kami tutup mulut begitu mereka menutup mulut, dan masuk kamar saat mereka juga kembali ke kamar mereka.”

  • Halaman 220:

Yang kita harus lakukan adalah mengoceh tentang sesuatu yang tak satu orang pun mengerti dan mereka lantas melakukan apa pun yang kita minta.” –

  • Halaman 262:

Mereka yang belum dewasa adalah yang bersedia mati demi memperjuangkan satu hal, sementara mereka yang dewasa justru bersedia hidup dengan rendah hati memperjuangkan hal itu.”

  • Halaman 264:

Mereka yang berpendidikan dan terpelajar, sekaligus cerdas dan kreatif –yang sayangnya kombinasi semacam itu agak jarang ada—cenderung meninggalkan catatan yang amat sangat berharga dibandingkan dengan mereka yang sekedar cerdas dan kreatif. Orang-orang seperti ini cenderung mengekpresikan dirinya dengan lebih jelas, dan mereka biasanya punya gairah untuk terus menelusuri pemikiran mereka sampai tuntas. Dan—yang lebih penting lagi—sembian dari sepuluh orang seperi itu jauh lebih rendah hati ketimbang para pemikir yang tidak terpelejar. Kamu mengerti maksudku?”

Masa Depan Cerah Estetika Kamera Lama

Di tangan para anak muda, estetika dari kamera lama dicari. Di kala harga film makin tinggi, lab-lab indie berdiri. Dari yang pehobi sampai profesinoal main analog lagi. Karakter warnanya yang khas dianggap sebagai eye candy.

Sepulang sekolah, masih berseragam, Gemilang Rachmad mendatangi Renaldy Fernando Kusuma atau Enad, pemilik Jelly Playground,penyedia segala kebutuhan pehobi fotografi analog. Saat itu, Gemilang sedang kehabisan rol film.

Di masa SMP hingga awal SMA, cowok dari SMA Al Azhar 3 Jakarta ini suka banget dengan fotografi, selain bersepeda. Ia rutin meramaikan Instagram-nya dengan foto-foto suasana perkotaan, aktivitas bersepeda, dan momen travelling-nya. Selain jago mengambil angle, Gemilang lihai memoles fotonya dengan filter-filter dengan tonal asik. Itu adalah ketika Gemilang masih mengandalkan smartphone dan DLSR Nikon D7000-nya.

Hobi motretnya malah makin menjadi-jadi ketika ia jauh dari kamera digital dan akrab sama kamera analog. Gemilang jadi pelanggan Jelly Playground bukan hanya untuk beli rol film, tetapi juga merchandise bertema analog dan pernak-pernik lainnya.

“Saat SMA, gue bisa seminggu dua kali, pergi hunting foto pake analog,” cerita Gemilang saat HAI temui di acara bazaar kamera analog Low Light Bazaar.

Continue reading Masa Depan Cerah Estetika Kamera Lama

SAYEMBARRA: Media Baik

Atas nama iseng, saya membuat Sayembarra, semacam ajang kompetisi  di Instagram dengan hadiah kecil-kecilan khas dari saya. Ini adalah kali pertama. Tema yang saya angkat adalah Media Baik. Pesertanya mesti anak SMA, ya karena saya punya mendampingi HAI School Crew jadi dekat dengan anak SMA. Tapi lebih dari itu, saya pengen tahu pendapat mereka tentang media sekarang ini.

Sekarang tanggal 26 dan gaji bulanan sudah diterima. Maka bolehlah kiranya sa iseng-iseng bikin #SAYEMBARRA sederhana. . Ini diperuntukkan untuk temen-temen yang masih SMA. Untuk yang kelas XII, pas banget kan tuh kemarin baru selesai USBN (bukan Universal Serial Bus Nasional). Otak kalian mesti masih anget-angetnya untuk diajak mikirin negara. Dedek-dedek kelas X-XI juga boleh ikut. Kan, otaknya lebih jernih belum keracunan UN. Apa yang disyaratkan? Sungguh mudah, asik, dan perlu dilakukan .

✔ Pilih satu dari dua poster yang ada di samping. Lalu regram ke akun kalian .

✔Di kolom caption, utarakan pendapat kalian tentang: .
1. Seperti apa sih media yang baik itu? Dari segi konten informasinya dan kreativitas penyajiannya .
2. Ceritakan media (web/akun IG/OA LINE/channel YouTube) favorit kalian yang menurut kalian baik nan keren; jelaskan alasannya .

✔ Sertakan tagar #mediabaik dan #sayembarra yah . . .

Semoga kita sama-sama sepakat bahwa tema ini perlu diangkat. Informasi itu seperti air. Kita butuh air minum, tapi kita benci dibuat repot karena air banjir . Mengendalikan media pembuat banjir informasi dan menghargai yang memberi “minuman” bergizi adalah perlu adanya Sa menyiapkan 3 hadiah sederhana untuk 3 pemenang: tiga novel kesukaan saya yang selain asik untuk dinikmati, juga memicu pemikiran-pemikiran seru . Pemenang pertama berhak pertama kali memilih hadiah bukunya, lalu dilanjut pemenang kedua dan ketiga Tiap buku akan disertai dengan voucher jajan di Gramedia senilai Rp 50 ribu Ditunggu sampe Selasa yaaah. Selamat Minggu ~

A post shared by Riz Kiram (@terlalurisky) on

Continue reading SAYEMBARRA: Media Baik

Sekolah Tani di Kota Maritim

Di kota kecil pulau Buton Sulawesi Tenggara yang terkenal potensi lautnya, ada 94 siswa yang giat belajar demi mengembangkan hasil tanah. Cerita perjuangan mereka adalah lahan segar tempat memanen inspirasi.

“Orang sini, tuh, kalo nggak makan ikan aneh rasanya,” cerita Hendra, pegawai muda dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga kota Baubau sewaktu makan siang. Saya cuma angguk-angguk kepala. Di depan saya, laut membiru bikin mata lega dan adem pas ngelihatnya. Kami sudah siap menyantap ikan laut di sebuah rumah makan, yang letaknya dekat Pelabuhan Murhum, titik ekonomi pulau di bibir samudera ini.

Hari berganti. Kejadiannya agak mirip dengan cerita tadi. Saya lagi bareng bersama Muhammad Hamzah. Biar gampang panggil aja dia Anca. Dia bersekolah di SMK Negeri 4 Baubau dan tercatat sebagai salah satu penghuni kelas XI. Sepulang Anca sekolah, kami berjalan kaki. Tujuannya, cari tempat makan siang.

“Tiada hari tanpa ikan di sini,” katanya sambil menyuap sop sodara. “Di rumah pun, tiap hari aku makan ikan.” Mumpung dapat traktiran, Anca pilih sop yang menyajikan daging. Ikan tak jadi pilihannya. Saya? “So pasti ikang.” Gimana mau nolak, aroma ikan bakar di deretan meja sebelah amat menggoda selera makan saya.

Ikan dan laut emang sudah jadi keseharian warga Baubau. Selamat datang di kota kecil yang ada di pinggir Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Sejak masa kerajaan Buton (Wolio) Berjaya, laut sudah pegang peran penting. Kota ini emang nyaris dikelilingi laut. Pulau kecil di sekitarnya jadi pagar alami buat menahan gelombang samudra. Sekarang, ekonomi tempat ini makin maju, gegara pesawat baling-baling bolak-balik angkut penumpang dan barang.

Continue reading Sekolah Tani di Kota Maritim

Tanda Bahaya

Aku heran mengapa musim hujan tak membuat kutu-kutu di rambutmu minggat. Apa benar kamu undang mereka masuk ke kepalamu untuk berjudi bersama?

Aku dengar, di siang hari kamu mengajak kutu-kutumu diskusi matematika demi mencari rumus mendapatkan angka lebih besar dari pengurangan. Lalu kalian pergi ke terminal di malamnya, berkenalan dengan preman, belajar cara cari gara-gara tanpa ribut-ribut.

Dan musim kemarau sebentar lagi tiba.

Aku rasa kamu perlu belajar pramuka. Agar tahu cara memadamkan api dan paham sandi-sandi. Karena kelak akan ada kebakaran besar dari api unggun yang kehilangan himpunan .

Kami menduga kamu lebih percaya pada kerumunan dan tak pernah membaca tanda bahaya dari tangga darurat.

Guru Curang Buka Les Sepulang Sekolah: Siapa Ikut, Nilai Terangkut

Ada sejumlah guru yang paham betul pelajarannya sulit dipahami. Saat di kelas tak cukup efektif, bimbel di luar sekolah pun dibuka. Pengajaran lebih asik. Siapa ikut, nilai bisa terangkut.

Pak Rinto, nama samaran, nggak mengikuti acara lomba-lomba peringatan 17 Agustus sampai selesai Selasa itu. Ajakan adu catur dari seorang murid yang penasaran betul ingin bisa mengalahkannya pun ia tolak. Begitu juga dengan seporsi nasi tumpeng yang disajikan rapih oleh muridnya dari kelas XI, nggak ia gubris barang sesuap. Padahal matanya terlihat lapar “Ini saya bungkus saja, deh. Saya harus ke rumah. Sudah mau pukul empat. Takut sudah ada anak-anak yang menunggu,” katanya sambil melihat Apple Watch-nya.

Saat itu jam menunjukkan pukul 15.40. Untuk bisa sampai ke rumah dari sekolah, Pak Rinto nggak butuh waktu lama memang. Selain hanya berjarak sekitar 3 km, komplek tempat pak Rinto tinggal bisa dituju tanpa bertemu macet. Sekali naik mikrolet dari depan sekolah, pak Rinto sudah bisa turun di depan kompleksnya dalam waktu 15 menit. Bahkan, jika sedang menggunakan motor Astrea-nya, dalam 15 menit sudah ia bisa sampai hingga ke rumah.

Namun, hanya anak perempuannya saja yang pak Rinto lihat sesampainya di sana. Sedang menyapu halaman sambil mendengar lagu lewat headset.

“Belum ada anak-anak yang datang dari tadi?” tanya pak Rinto pada anaknya.

“Belum keliatan, tuh.”

Anak-anak yang dimaksud pak Rinto adalah anak muridnya yang seharusnya rutin datang tiap sore untuk mengikuti les fisika. Tapi, hingga pukul 16.20, belum terlihat seorang pun yang datang.

“Kayaknya gara-gara di sekolah lagi ada 17-an, jadi mood mereka ada di sana. Nggak ada les hari ini berarti. Ya senggaknya saya sudah datang dan siap mengajar,” kata Pak Rinto santai. Ia seperti sudah apal betul kelakuan murid-muridnya. Bisa saja pak Rinto menanyakan satu persatu para peserta les lewat hapenya, tapi ia memilih untuk memaklumi, sebagaimana biasanya.

Nggak cuma pada Selasa saja les fisika di rumahnya digelar, melainkan tiap hari. Pak Rinto membagi-bagi jadwalnya: Selasa untuk kelas X, Kamis untuk kelas XI.  Dia bukannya nggak buka kelas untuk kelas XII, cuma saja di tingkat akhir tersebut, murid-muridnya lebih memilih ikut bimbingan belajar di tempat lain, yang lebih intensif, untuk persiapan ujian nasional dan persiapan seleksi universitas.

Berbeda dengan kemarin lusanya, Kamis sore itu, saat saya berkunjung lagi, sudah ada dua anak yang nangkring di depan pagar rumah pak Rinto, yaitu Oki dan Maul, nama samaran. Sementara Oki sudah pulang ke rumah dulu dan berganti pakaian, bahkan sudah mandi lagi, Maul datang masih dengan seragam sekolahnya: atasan batik biru dan celana putih.

“Eh, nyalain tethering hape lo dong,” pinta Maul masih di motornya. Ia seperti ragu untuk langsung parkir.

“Mau ngapain lu?”

“Mau nge-LINE si Alifa, nanyain yang lain pada dateng atau nggak.”

Les dimulai sepuluh menit kemudian, setelah pak Rinto mengeluarkan mobilnya dari garasi lalu mengatur meja dan kursi plastik yang sebelumnya ditumpuk di pojokan. AC dinyalakan, proyektor dan laptop ia siapkan, garasi yang cukup memuat satu Kijangnya itu berubah menjadi ruang kelas.

Semestinya ada tujuh anak yang datang sore itu, nggak cuma Oki, Maul, dan Kevin yang datang begitu kelas dimulai. Namun, kayaknya empat sisanya berhalangan, Alifa yang diduga akan hadir pun nggak keliatan sampai kelas berakhir.

“si Alifa udah lupa kali sama les ini,” celetuk pak Rinto di tengah-tengah materi.

Di sekolah, Pak Rinto selalu terlihat gagah dengan seragam dinasnya. Namun di rumah, pria berambut putih ini terlihat sangat santai. Ia hanya memakai kaos dan celana pendek.

Sore itu kelas membahas soal-soal yang sudah ditugaskan. Materinya tentang kinematika dengan analisa vektor. Nggak kurang dari tiga soal diurai cara penyelesaiannya oleh pak Rinto.

Ngomong-ngomong soal tugas, rupanya pak Rinto adalah tipe guru yang sangat mengandalkan latihan mengerjakan tugas demi membuat murid-muridnya terbiasa dengan fisika. Saban satu bab bahasan berakhir, ia menghadiahkan murid-muridnya dengan tugas. “Bisa 30 sampai 60 nomor,” cerita Oki. Sumbernya, bisa dari buku paket atau soal bikinannya sendiri yang disebar ke murid-murid secara online.

Tugas tersebut ditulis di buku khusus. Dan mesti dikumpul seminggu setelah diberikan. Mejanya di ruang guru sekolah selalu penuh dengan tumpukan buku tugas murid.

Beres menghabiskan waktu sejam untuk membahas soal-soal tugas tersebut, Pak Rinto menampilkan file soal-soal lainnya yang belum pernah didapat Oki, Kevin, maupun Maul.

Setelah ketiga muridnya itu mencoba menjawab soal nomor 10 Pak Rinto bilang kalau itu merupakan gambaran soal mid test nanti.

“Wah, flashdisk mana, flashdisk. Buruan di-copy filenya,” kata Kevin  setengah serius setengah becanda kepada Oki saat Pak Rinto sedang meninggalkan ruangan.  Kevin punya dugaan kuat kalau soal yang dibahas tadi akan jadi soal mid-testnya kemudian yang hanya akan diubah angka-angkanya.  Lumayan, buat bahan latihan dan bisa disebar ke teman-teman lain, pikirnya.

Jika bagi murid-murid jurusan IPA di sekolah tugas pak Rinto tadi terasa seperti mendaki bukit, maka ujian darinya adalah menjajal arung jeram. Jauh lebih singkat tapi supermenegangkan.  Tiap murid disuruh maju ke depan lalu mengambil kocokan dan mengerjakan soal sesuai nomor yang didapat, di depan kelas, ditonton teman-teman lainnya.

Pak Rinto sudah mengajar Fisika sejak tahun 1982. Di masa awal-awalnya menjadi guru, lulusan jurusan Fisika Murni ini mengajar di banyak sekolah sekaligus. “Dulu upah guru tuh kecil sekali. Sekarang sudah lebih baik, pemerintah lebih peduli dengan kesejahteraan guru. Ya, walaupun masih dalam tahap cukup, sih. Tapi kalau punya anak yang udah kuliah di luar kota itu masih belum cukup,” ceritanya.

Hingga akhirnya ia diangkat menjadi PNS dan mengajar tetap di sekolah negeri tempatnya kerja sekarang ini.

Demi membantu murid-muridnya yang butuh tambahan pendampingan belajar Fisika ia buka kelas tambahan di rumahnya itu. Sudah sejak 15 tahun lalu. Bahkan, dulu tak hanya fisika, tetapi juga Kimia dan Matematika yang diampu dua rekannya. Ada kalanya juga, murid dari sekolah lain pun daftar di sini

“Tapi, kan, sekarang tempat bimbel udah makin banyak,” ujarnya. “Sekarang ini masih sepi, tujuh orang. Nanti deh kalau udah musim ulangan, mulai pada daftar.”

Shila, nama samaran, salah satu muridnya yang kini sudah kelas XII ngaku kalau cara mengajar pak Rinto di rumahnya dan di sekolah berbeda. “Di tempat les dia lebih sabar. (Dia mengajar) sampai kami benar-benar mengerti. Gue pun lebih ngerti sejak belajar di sana,” kata cewek berhijab ini.

Cerita tentang guru sekolah negeri yang menawarkan les khusus di luar jam sekolah nggak cuma ada di satu-dua tempat. Menurut survei yang HAI lakukan, kebanyakan guru tersebut adalah pengajar mata pelajaran eksak. Seperti Fisika, Matematika, dan Kimia, selain bahasa Inggris yang ada di beberapa sekolah.

Alfa, teman kita dari sebuah SMA Negeri di Yogyakarta juga cerita bahwa di sekolahnya ada tuh guru Matematika yang buka les juga. Sudah sejak awal masuk tahun ajaran baru, Bu Ani, nama samaran, mempromosikan lesnya itu.

Ifo, teman seangkatan Alfa adalah salah satu pesertanya. Di kelas X lalu, siswi kelas XI ini merasa sangat terbantu dengan pendalaman materi lewat les itu.

“Les itu membantu murid-murid yang masih belum paham seperti aku dengan materi yang telah disampaikan selama di kelas. Toh, kalau  les jadi lebih fokus belajarnya dan bisa tanya-tanya sepuasnya, kalau di kelas kan terbatas,” ungkap cewek berhijab  ini santai.

Les tersebut dilakukan di lantai atas rumah sang guru. Ongkosnya Rp 30.000 per murid tiap kali pertemuan.

“Sistem lesnya, tuh, seminggu sekali. Dalam satu kelompok ada enam anak. Normalnya selama empat kali pertemuan doang, tapi fleksibel bisa nambah atau private gitu kalau masih kurang paham. Waktunya menyesuaikan. Bisa ganti hari sesuai kesepakatan,” cerita Ifo yang suka nyemil snack atau makan mie instan bareng sambil les.

Di sana, mereka mengulang materi yang sudah diulas di sekolah namun belum dipahami betul. Pembahasan soal tentu jadi lebih intim dan fokus. Peserta bisa bertanya sepuasnya.

Gara-gara les itu, Ifo mengaku kalau nilai Matematikanya terkatrol drastis. Sebelumnya, hanya berkisar di 30-50. Setelah les, nilainya nggak kurang dari 80.

“Ibunya jadi hapal sama anak-anak yang les, terus tiap selesai ulangan bisa langsung tanya nilai dan membahas soalnya langsung,” repet Ifo yang sering juga dapet update kisi-kisi soal ulangan dari les itu.

Nggak cuma di rumah, les tambahan dari guru sekolah juga ada yang digelar di ruang kelas sekolah. Seperti yang terjadi di sebuah sekolah negeri bilangan Ciledug, Tangerang.

Guru Fisika kelas XI di sana mengajak siswanya untuk membentuk sesuatu yang mereka sebut kelompok belajar sepulang sekolah. Nggak gratis, tiap peserta dikenakan iuran Rp 100.000 tiap bulan.

Sang guru yang tinggal jauh dari keluarganya di Cirebon sana itu buka les tiap Senin, Selasa dan Kamis, pukul 15.00 hingga menjelang magrib.

“Cara ngajarnya di kelas dan di les sebenarnya sama. Bedanya, di les dia lebih banyak bahas soal, buat latihan,” kata Alin salah satu murid yang mengikuti lesnya itu.

Tio, nama samaran, kakak kelas Alin yang sudah merasakan manfaat les tersebut cerita bahwa semenjak ikut les nilai Fisikanya bisa mencapai 85, naik 10 poin dari sebelumnya.

“Kalau anak les, tiap ulangan disuruhnya jawab pakai pensil aja. Nanti kalau ada yang salah, dia hapus dan dia ganti jawabannya. Gue pernah, tuh, pas kertas ulangannya dibalikkin, ada tulisan yang diganti. Gue tau banget itu bukan tulisan gue,” kata cewek yang walaupun sekarang sudah lulus SMA ini namun belum berkuliah.

Tak Mempan Sanksi

Seperti yang sudah kita duga, kehadiran guru yang buka bimbel di luar sekolah pasti akan menuai kecemburuan sekaligus kecurigaan.

Kegeraman terhadap gurunya itu makin menjadi-jadi pada Alfa. Gimana nggak, dia tahu ada temannya yang dipaksa untuk ikut lesnya.

“Pernah dulu ada temen yang nanya tentang matematika selesai jam pelajaran, eh, malah disuruh  dateng ke rumah beliau alias ikutan les, kan aneh banget?,” bocor siswa yang kini duduk di kelas XII IPA. Selain itu, guru tersebut juga jarang memberikan remedial dan diduga  Alfa suka asal dalam memberi nilai.

“Nilai UKK matematikaku aja cuma 75, padahal  aku peringkat tiga pararel rangkingnya dan ngerasa bisa ngerjain soalnya waktu itu,” curhat Alfa.

Nggak cuma para siswa yang jengah dengan ketidakadilan guru yang buka bimbel, pihak sekolah pun sebenarnya merasakan hal yang sama.

Bu Ani, nama samaran, guru di sekolah Alfa tahu betul gimana Bu Alan sudah ditegur oleh petinggi sekolah dan kurang disukai guru-guru lain karena kelakuannya itu.

“Saya pribadi dan beberapa guru amat sangat tidak setuju jika ada guru yang buka les di Sekolah, karena itu bertentangan dengan undang-undang dan peraturan pemerintah,” ungkap Bu Ani.

Bu Ani juga menyanyangkan sikap kepala sekolah yang terlalu memaklumi kelakuan bu Alan itu. “Ia (Bu Alan) sudah sering ditegur, tapi nggak dihiraukan. Selain itu, atasan di sini kurang tegas pula dalam memberi sanksi. Dulu pernah ditegus, tapi cuma ditegur saja tanpa ada kelanjutan. Alasan dia (pak Kepala Sekolah), sih, alasan kemanusiaan,” paparnya.

Jika menurut pada aturan, bu Ani berpendapat, bahwa aksi bu Alan itu bisa diganjar dengan sanksi potongan jam mengajar, sehingga nggak memenuhi syarat sertifikasi.

Isu Kesejahteraan

St Kartono, pengamat pendidikan, juga sepakat bahwa guru yang membuka bimbel berbayar untuk murid sekolahnya itu nggak adil. Menurutnya, guru mesti menuntaskan pengajarannya di kelas di sekolah.

“Guru (sekolah) itu bukan guru silat yang ketika punya sepuluh jurus tapi yang diajarkan kepada sekolahnya cuma sembilan. Jurus satunya disimpan hanya untuk yang mau bayar les ke dia. Seharusnya guru memberikan pelayanan yang utuh di sekolah. Kalau guru membuka bimbel untuk muridnya sendiri menurut saya itu kurang elok,” kata pria yang sering menulis kolom opini tentang pendidikan di surat kabar nasional ini.

St Kartono juga tak setuju jika alasan guru membuka bimbel itu adalah karena demi menutupi kebutuhannya yang nggak bisa dipenuhi dari gaji guru negeri. Katanya, “Saya tidak setuju kalau ketidaksejahteraan dipakai untuk pembelaan perilaku yang tidak etis. Peningkatan mutu dan guru yang etis itu nggak berkait langsung dengan penghasilan.”

 Dilarang Undang-undang dan Kode Etik

Dalam Undang-undang no 14 tahun 2005 pasal  1 guru diharapkan bisa menjalani profesinya dengan profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik

Lalu di pasal 20, kewajiban guru diatur. Guru yang membuka bimbel di luar sekolah melanggar poin c pasal tersebut yang menyebutkan bahwa guru memiliki kewajiban untuk:

“Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;”

 Sementara itu kode etik guru yang dirancang oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) melalui kongresnya pada 2013, guru disebutkan wajib menjaga hubungan profesional dengan peserta didik.

Pada PGRI XXI NO. VI/KONGRES/XXI/PGRI/2013 pasal 2 nomor 7, disebutkan guru wajib:

 “Menjaga hubungan profesional dengan peserta didik dan tidak memanfaatkan untuk keutungnagn pribadi dan /atau kelompok dan tidak mealnggar norma yang berlaku”

See? Kesimpulannya, kalau di sekolah lo ada guru yang buka les di luar sekolah, maka jangan ragu untuk adukan ke kepala sekolah dan pemerintah, bro! Tuntut dia untuk memberikan pengajaran maksimal dan adil kepada seluruh siswa. Ini adalah masalah sekolah yang mesti kita beresi bersama.

Penulis: Rizki Ramadan

Reporter: Rizki Ramadan, Rasyid Sidiq, Ghufron Zein.

Ilustrator: Rahman Subagio

Dipublis di: Majalah HAI no. 35 2016 (Cek PDF)

 

 

 

 

 

Lupa

Aku tahu mengapa sekolah hanya mengajarkan kita untuk menghapal tapi untuk urusan melupa, kita mesti otodidak. Karena hilaf adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan. Butuh banyak usaha dan banyak waktu untuk bisa menghapal dengan baik. Tapi untuk melupa? kita hanya butuh sedetik pengabaian agaknya.

Kamu nggak percaya? coba saja tanya ke bakwan angkringan yang walau sudah digoreng tapi kuminta dipanggang lagi. Ia menyaksikan bagaimana seorang pemuda yang selalu luput dari percobaan menepati janji.

Continue reading Lupa

Di Bus Kota

Pedagang 1: “Sambil nunggu bus jalan, bapak ibu ya, saya kasih comercial break yah, bapak ibu yah. Saya jual korek kuping dengan senter di ujungnya, bapak ibu yah. Murah saja. Harganya goceng, bapak ibu yah. Boleh ditawar jadi lima ribu, bapak ibu yah.”

Pengamen 1: “Yang pura-pura tidur, pura-pura nggak kedengeran. Hati-hati dompet tas hilang. Nanti nggak bisa pulang. Saya doakan semoga kita semua mendapatkan berkah tak kepalang.” .

Pedagang 2: “Ini saya tawarkan inovasi senter terbaru, yah. Cahaya lampunya terang. Harganya penghabisan. Lima ribu saja. Maaf ya kalau ada yang kemarin beli sepuluh ribu.” .

Kenek: *cek kecrek kecrek*

Penumpang 1: “Kembalinya, bang. Saya turun di kebon jeruk”

Kenek: *cek kecrek kecrek*

Penumpang 1: “Vindicated, i’m selfish, i am right, i am rig…..ht” .

Kenek: *cek kecrek kecrek*

Penumpang 1: “Maaf bang, udah gak ada uang”

Kenek: “Ongkos.”

Penumpang 1: “Lah tadi saya udah kasih. Ke abang yang….”

Pengamen 1: “Pir, minggir dikit, pir. Gue turun”.

Surat Hilang

Namaku Tri. kelas lima SD. hari ini aku bolos demi bisa ikut ibu ke kantor Pos

Kami bukan ke loket depan sebagaimana orang lain. Kami menuju tempat para pengantar surat bekerja sebelum berangkat ke rumah-rumah

“Saya mau nanya,” kata ibu tanpa permisi,”Adakah surat untuk saya, yang belum terkirim?” .

Pak Pos yang kemudian kami tahu bernama Yusuf, menjawab

“Nama Ibu siapa?”

“Siti, Pak.”

“Di dalam satu kotak ini saja sudah ada tiga ‘Siti’ yang saya temui. Nama panjang ibu siapa?”

“Siti…”

“Yaudah, nama pengirimnya siapa deh? Nanti saya cari.”

“Dari Wi…”

Aku membuat ibu menghentikan kata-katanya itu. Aku tarik-tarik tangannya ketika ia mulai menyebut nama Bapak. Di pojok ruangan, aku lihat ada pria berkumis mengernyitkan dahi dan melempar pandangannya ke kami

“…Ah, nggak, Pak. Bukan dari siapa-siapa.”

Samar-samar, aku mendengar pria berkumis di pojok memanggil rekannya. Aku mendengar mereka menyebut “buron” dan “presiden”.

Aku tak tahu apa itu buron. Tapi aku tahu apa itu presiden. Guru sejarah pernah cerita, di negara kita ini, cuma ada dua sosok yang masih hidup saat digambarkan untuk lembaran rupiah. Yaitu orang utan, dan presidenku itu

Teman-temanku menganggap itu sebagai cerita jenaka, aku mendengarnya sebagai cerita misteri

Tak lama kemudian, tiba-tiba lewat seorang pria dari dalam. Aku tak sempat melihat mukanya karena ia tinggi sekali. Aku melihat derap langkahnya, cepat dan berdebam

Ibu menoleh melihat pria itu juga. Lalu aku, ibu, dan Pak Yusuf menoleh ke bawah. Ada sobekan kertas jatuh dari tangan si pria

Astaga! di kertas itu tertulis ‘Siti’ dan tulisan yang lebih jelek dari tulisanku itu adalah tulisan bapakku

Ibu memungut sobekan kertas. Lalu menarikku keluar meninggalkan pak Yusuf yang belum berkata apa-apa itu

Ibu berjalan tergesa. Genggaman tangannya mengeras mengepal. Samar-samar aku mendengar ibu berbisik, seperti bicara dengan dirinya sendiri

Tak jelas apa yang ibu ucapkan. Entah itu “Aparat” atau “Keparat”, atau gabungan keduanya. Aku juga belum tahu artinya

Yang kutahu, surat dari bapak tak pernah datang lagi sejak itu.

Berlangganan Koran

Terakhir kali saya berlangganan media cetak, tuh waktu kuliah. Langganan majalah Ripple. Tapi kemudian mereka suka lupa kirim. Jadi saya mesti ngambil sendiri ke kantornya. Grrr

Lalu, sejak Desember kemarin, saya berlangganan lagi media cetak, yaitu harian Kompas. Pemicunya sederhana dan sungguh receh adanya: ketika saya lagi di sebuah bazar buku yang bahkan untuk masuk ke arenanya saja mesti antre dua jam, seorang petugas menawari: “Mas, kalau langganan Kompas, mas nggak mesti ngantre, lho. Bisa langsung masuk.”

Maka beberapa hari setelahnya, setiap pagi pukul 06.00 sebagaimana saya rikues, seorang loper koran yang sampai sekarang saya belum pernah lihat wujudnya seperti apa, mampir ke rumah untuk sekedar melempar koran ke garasi atau ke teras. Papah, adalah yang paling sering memungutnya lalu membawa masuk ke rumah. Menaruhnya di meja tengah

Kayaknya, setiap orang tuh selalu senang kalau di mejanya tiba-tiba ada kiriman. Itulah yang saya rasakan tiap turun dari kamar saban pagi. Setelah menyeduh kopi atau sekadar menuang air mineral, saya mengambil koran itu. Dikebet-kebet dari halaman depan hingga yang paling belakang. Senggaknya dua kali bulak-balik

Pertama, untuk memindai saja. “Ada berita pendidikan apa hari ini?”, “Oh artikel ini ditulis sama si wartawan itu, toh. Suka! besok kalau ketemu diliputan lagi gue pantau, ah.”, “Oh ini toh campaign yang lagi dibikin temen eug Marcomm-nya Kompas itu”, “Kompas Klass kok udah nggak ada yah.”, “Wah, layoutnya berubah”, “Wah, rubrik Sosialita ganti nama.”

Di putaran kedua, baru deh baca betul-betul artikel yang paling menarik. Nggak banyak, paling 3-5,itu pun termasuk bacain iklan. :p

Baca koran itu asik. Berita yang ditampilkannya lebih utuh, lebih didesain, dibanding berita daring yang… gitu deh. Judul berita di koran juga nggak dilebay-lebayin, jadi saat baca nggak membawa kehebohan

Tapi. Walau impulsif, saat memutuskan langganan koran saya memastikan diri, kalau keputusan saya ini bukan aksi melawan zaman, kok

Beradaptasi dengan perkembangan, mengikuti kebaruan kan nggak melulu dilakukan dengan berhenti mempertahankan yang lama. Apalagi kalau udah suka. ~